Ekonomi

OJK Ungkap Penyebab Pertumbuhan Kredit Lesu di RI

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan permintaan terhadap kredit masih terbatas. Imbasnya, pertumbuhan penyaluran kredit tercatat hanya 7,9 persen per September 2019.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menuturkan pencapaian tersebut turun drastis dari periode yang sama tahun lalu, yakni 12,7 persen. Kondisi itu, kata dia, tak lepas dari kondisi ekonomi domestik yang tumbuh stagnan di angka 5,02 persen pada kuartal III 2019.

“Jadi ini sudah kelihatan memang demand (permintaan) kredit sangat terbatas, bukan bank tidak punya likuiditas atau modal yang cukup, tapi permintaannya sedikit,” katanya, Senin (18/11).

Namun, ia optimistis kinerja kredit dapat membaik jika ditopang kredit investasi yang terpantau tumbuh dua digit yakni 12,8 persen (year on year/yoy).

Positifnya kinerja kredit investasi diharapkan menjadi pemicu peningkatan kredit modal kerja. OJK merekam, pertumbuhan kredit modal kerja masih rendah, yaitu 5,9 persen. Sedangkan kredit konsumsi tumbuh lebih baik sebesar 6,8 persen.

“Ke depannya, kami harus dorong bagaimana create domestic demand (menciptakan permintaan domestik), dan juga mempercepat kredit modal kerja untuk investasi yang sudah dilakukan,” ucapnya.

Jika dilihat dari kelompok bank, ia menuturkan penyaluran kredit Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II naik paling tinggi sebesar 9,7 persen. Lebih lanjut, BUKU I sebesar 9,5 persen. Sedangkan BUKU I dan III cenderung rendah masing-masing 4,9 persen dan 4,8 persen.

Tak hanya perlambatan kredit, ia bilang rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) naik tipis menjadi 2,66 persen. Kenaikan NPL merata hampir di seluruh sektor.

“Memang ada sektor-sektor yang terpukul, diantaranya sektor yang pertumbuhannya melambat itu batu bara,” kata dia.

Wimboh juga menyatakan perbankan sudah mulai menurunkan suku bunga deposito dan bunga kredit. Tingkat bunga ini menyesuaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang juga turun sebesar 100 basis poin (bps) sejak awal tahun ke level 5 persen.

“Kami imbau perbankan untuk tidak menaikkan suku bunga kredit,” katanya. (AR)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close