Nyinyir Salahkan Jokowi

08:11
948
TETAP SUMRINGAH DI TENGAH FITNAH -- Kaum nyinyir semakin getol memfitnah, Jokowi semakin getol berbenah.

SIKAP nyinyir tengah melanda negeri ini. Media massa dan media sosial bertaburan kritik, celaan, dan ketidakpuasan terhadap pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo. Seolah semua tindakan, sikap, dan kebijakan tidak ada yang benar. Serba salah dan disalahkan. Berbuat dan tidak berbuat sama-sama disalahkan.

Ketika Presiden Jokowi dengan alasan kemanusiaan membantu kelompok Rohingya di Myanmar dengan cepat ada yang menuding, itu pencitraan. Andai Jokowi tak berbuat apa-apa terhadap nasib Rohingnya dipastikan muncul tudingan Jokowi tak peduli dengan derita Rohingya.

Ketika Presiden getol mempercepat pembangunan infrastruktur di seluruh negeri disalahkan juga. Katanya Jokowi hanya membangun fisik, memperbanyak utang dan tudingan lainnya. Padahal semua orang mengetahui, pembangunan infrastruktur adalah keniscayaan, karena akan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memberikan kemaslahatan bagi rakyat.

Dalam konteks itu pula Jokowi mengundang investor domestik maupun asing untuk berinvestasi di negeri ini. Lalu muncul suara-suara kencang, Jokowi telah menjual negeri, menumpuk utang, pro-asing, pro aseng dan seterusnya. Padahal mereka pun memahami investasi mutlak diperlukan untuk membuka peluang kerja dan menggerakkan roda pembangunan.

Di awal kepemimpinannya ketika Presiden Jokowi menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pun diolok-olok, salah memakai pakaian ihram, dan celaan miring lainnya. Andai Jokowi tak berhaji dipastikan datang nistaan, Jokowi antiagama sampai pada tudingan yang lebih keji: Jokowi atheis.

Kebiasaan Jokowi blusukan ke pelosok-pelosok negeri, memasuki gorong-gorong kotor, menyapa rakyat pun disebut tidak proporsional. Padahal rakyat menyambut baik dan mengapresiasi sangat tinggi.

Saat Jokowi mengajak segenap bangsa untuk melekatkan Pancasila kepada segenap bangsa dengan kalimat lugas: “Saya Pancasila, saya Indonesia:” pun dikecam, dianggap salah dan latah.

Tak mempan dengan kecaman, provokasi, dan nistaan, mereka meningkatkan upaya pembentukan opini dalam bentuk fitnahan keji, Jokowi sebagai anak PKI, keturunan Cina dan seterusnya.

Di “tahun politik” 2018-2019 nanti dipastikan kenyinyiran semakin bertalu. Setiap celah akan dimanfaatkan oleh kaum pengecam, oleh mereka yang merasa pernah dikalahkah dan dirugikan oleh Jokowi. Berbuat dan tidak berbuat sama-sama mendapat nilai negatif. Di mata kaum nyinyir apa pun yang dilakukan dan tidak dilakukan Jokowi selalu disalahkan.

Comments

comments