Opini

Nyai Dasima dan Fientje de Fenicks

Ulang Tahun Jakarta ke-492

SELAIN cerita tentang Nyai Dasima, dari tanah Betawi juga pernah terdengar cerita tentang Fientje de Fenicks. Cerita keduanya berjarak sekitar seratus tahun. Keduanya sama-sama korban pembunuhan.

TANGGAL 22 Juni tahun ini, Ibukota DKI Jakarta berulang tahun yang ke-492. Sudiro, sebagai Walikota Jakarta, di tahun 1956, menetapkan tanggal 22 Juni sebagai hari lahir kota Jakarta.

Sejak 1945, kepala eksekutif Jakarta dipimpin oleh pejabat dengan pangkat Walikota. Barulah di tahun 1960 dijabat oleh Gubernur.

Pada tanggal 22 Juni 1527, Fatahillah berhasil menduduki pelabuhan Sunda Kelapa yang semula dikuasai Portugis. Momen inilah yang menjadi dasar penetapan hari jadi kota Jakarta.

Nyai Dasima

Kisah Nyai Dasima yang terjadi sekitar tahun 1813, tentu sudah tidak asing bagi sebagian khalayak. Kecantikan Dasima, gadis asal Dusun Kuripan, Bogor ini bolehlah dipadankan dengan kecantikan Cleopatra, sosok cantik dalam mitologi Yunani.

Setidaknya begitulah menurut pandangan Edward William tentang sosok Dasima. Edward William adalah salah satu orang kepercayaan Sir Thomas Stamford Bingley Raffles, Gubernur-Letnan Hindia Belanda ke-39 (1811 – 11 Maret 1816).

Dengan upaya yang gigih Edward berhasil menjadikan Dasima sebagai gundiknya. Pasangan Edward-Dasima pada awalnya menetap di Curug Tangerang, kemudian pindah ke Pejambon, Batavia. Dari hubungan itu mereka dikaruniai anak bernama Nancy.

Kecantikan dan pesona Dasima sangat kuat menggetarkan hati setiap laki-laki yang melihatnya. Apalagi, Dasima pun dimanjakan dengan kekayaan yang melimpah oleh suaminya.

Salah satu laki-laki yang tergoda adalah sosok bernama Samiun, si tukang Sado. Samiun punya paman seorang tentara dengan jabatan Komandan Onder Distrik Gambir. Sehingga, terbuka peluang bagi Samiun menjadi lebih dekat dengan Dasima.

Samiun dan isterinya bersepakat, untuk menggaet Dasima demi menguras hartanya. Cara yang ditempuh Samiun adalah dengan memanfaatkan jasa dukun, sehingga Dasima bertekuk lutut kepada Samiun, meninggalkan Edward dan segala kemewahan yang menyertainya.

Akhirnya, Dasima bisa dipersunting Samiun, tinggal serumah bersama Hayati isteri pertama Samiun. Saat menikah dengan Samiun, bersama Dasima ada harta senilai 6.000 Gulden yang dibawanya.

Ketika harta Dasima habis terkuras, dan Dasima pun menjadi beban kehidupan, digagas rencana eliminasi. Bang Puase, jawara Kwitang pun dimanfaatkan jasanya.

Suatu malam, Samiun mengajak Dasima menghadiri pertunjukan seni bertutur (tukang cerite) di Ketapang, sekitar Sawah Besar (kini di sekitar Jalan Gajah Mada). Di tengah jalan menuju Ketapang, Dasima dihabisi Bang Puase. Mayat Dasima dibuang ke Kali Ciliwung.

Kejahatan yang sempurna adalah sebuah utopia. Karena, setiap tindak kejahatan akan meninggalkan jejak. Demikian juga dengan aksi kriminal Bang Puase. Ada sejumlah orang yang berpotensi menjadi saksi. Mereka adalah si Kuntum, Musanip, dan Ganip. Musanip dan Ganip adalah penduduk lokal yang saat kejadian sedang asyik memancing.

Mayat Dasima yang dibuang ke Kali Ciliwung akhirnya tersangkut di tangga tempat mandi Edward William. Dan, Edward William mengakui mayat tersebut sebagai jasad mantan isterinya.

Karena mayat yang ditemukan adalah mantan isteri seorang pembesar, maka polisi lebih sigap bertindak. Diadakan sayembara, dengan hadiah sejumlah uang bagi yang bisa melaporkan siapa pembunuh Dasima. Musanip dan Ganip pun bersaksi demi uang imbalan. Kasus pembunuhan itu pun terbongkar.

Kisah pilu ini kemudian dituturkan dalam sebuah novel berjudul Tjerita Njai Dasima pada tahun 1896 oleh Gijsbert Francis. Sebuah kisah nyata, begitu kata Francis.

Fientje de Fenicks

Sekitar satu abad kemudian, terungkap sebuah kasus pembunuhan yang menghebohkan. Korbannya bernama Fientje de Fenicks, berusia 19 tahun. Fientje yang cantik adalah blasteran Eropa-pribumi, kelahiran tahun 1893.

Fientje adalah penjaja seks kelas atas. Namanya tercatat di berbagai rumah hiburan, antara lain rumah hiburan yang dikelola Jeanne Oort, mantan pelacur kelas atas.

Pada hari Jum’at tanggal 17 Mei 1912, karung berisi mayat Fientje ditemukan tersangkut pada sebuah pintu air di kawasan Kali Baru. Fientje mati kehabisan nafas karena dicekik, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam karung beras, tangannya diikat, dan dihanyutkan.

Siapa yang mencekik Fientje? Menurut investigasi polisi Batavia, ditemukan sebuah nama yang terakhir kali bersama Fientje. Dia adalah Willem Frederick Gemser Brinkman, warga Belanda yang berkedudukan sosial tinggi. Brinkman orang terpandang.

Meski dengan sekuat tenaga menyangkal, Brinkman tetap digelandang ke Raad van Justitie (pengadilan) untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Apalagi menurut kesaksian Raonah, teman satu profesi Fientje, ia pernah melihat Brinkman bertengkar dengan Fientje.

Mengapa Brinkman membunuh Fientje? Karena sakit hati. Fientje menolak lamaran Brinkman untuk menjadi gundiknya. Fientje lebih memilih menjalani lakon kehidupannya sebagai penjaja seks.

Maka, ketika mata sudah gelap, neo cortext tak lagi berfungsi. Brinkman pun membayar Pak Siloen dan dua anak buahnya untuk membunuh Fientje.

Sebagai warga terpandang, Brinkman sempat berkeyakinan bahwa dirinya tidak akan sampai divonis bersalah. Dia yakin, rekan-rekannya di Societeit Corcondia akan membelanya. Kenyataannya tidaklah demikian. Brinkman tetap dihukum. Hal itu membuat Brinkman stres berat. Karena stres berat, akhirnya Brinkman tewas bunuh diri.

Kisah Fientje de Feniks ini sempat dibukukan oleh Peter van Zonneveld dengan judul De Moord op Fientje de Feniks: een Indische Tragedie, di tahun 1992.

Jauh sebelum itu kisah tragis Fientje sudah ditulis oleh sejumlah penulis kita, antara lain oleh Tan Boem Kian pada tahun 1915 dengan judul Fientje de Feniks atawa Djadi Korban dari Tjemboeroean. Para penulis kisah Fientje menyatakan bahwa kisah tersebut merupakan soewatoe kedjadian jang betoel terdjadi di tanah Betawi.

Namun, kisah Fientje de Fenicks sang penjaja seks kelas atas ini kalah populer dari kisah Nyai Dasima.

KOMENTAR
Tags
Show More

Check Also

Close
Back to top button
Close
Close