Nobel Perdamaian 2020 Untuk Kim Jokowi

Nobel Perdamaian 2020 Untuk Kim Jokowi

Oleh: Christianto Wibisono

TIGA hari suntuk sejak Senin – Rabu 21 -23 Oktober 2019 saya “meliput” audisi di beranda ruang terbuka antara Istana Negara dan istana Merdeka bersama sarasehan Negarawan purna sepuh Bung Karno, Jenderal Soeharto , Prof Sumitro , Jendral Sarwo Edhie, dan Gus Dur

CW: (mempersilakan Prokalamator/Presiden pertama Bung Karno mengawali sarasehan. Pak tadinya judul awal naskah ini adalah Dari Revolusi Agustus 1945 ke Transformasi Oktober 2045. Bisa bapak jelaskan apa makna judul yang serba “megalomania” itu. Bapak selalu pakai istilah muluk mercu suar yang akhirnya “tenggelam” karena terlalu utopia. Seperti idee Conefo (PBB tandingan) dst dsb. Tapi berakhir dengan tragedi keluar dari PBB 1965 dan masuk lagi 1966 karena memang tidak mungkin RI berdiri sendirian terkucil dari PBB . Karena itu judulnya saya bikin down to earth dan up date karena rekonsiliasi Jokowi Prabowo itu layak dapat hadiah Nobel Perdamaian 2020.

BK: Bung Chris pasti paham bahwa Sukarno itu bukan pemikir kelas kecamatan, kabupaten, provins.. Tapi memang kelas presidensial sekaligus centennial dan milenial. Saya berfikir keras sejak 1926 saya sudah menulis Nasionaliime, Islamisme dan Marxisme tentang 3 ideologi yang mewarnai dunia. Terus saya ingin terapkan dalam Nasakom 1960-an. Itu memang agak muluk dan utopia seperti mendamaikan konflik 3 peradaban menurut Huntington: Barat, Confucius vs Kalifah. Kita sekarang berada ditengah gelombang Huntington yang ajaran dan teorinya dikecam secara verbal tapi justru diterapkan secara praktis oleh ISIS dan derivativesnya diseluruh muka bumi termasuk di politik domestik Indonesia. Sebetulnya yang disebut konflik antar peradaban hanya sebuah semantik untuk menutupi hakekat dan inti masalah yaitu perebutan kekuasaan antar elite mengatasnamakan, kelompok, agama, negara (nation state), peradaban . Pada akhirnya suatu nation state yang berhasil adalah yang mampu mewujudkan cita cita, ajaran, teori, ideologi, “agama” yang dianutnya dalam kehidupan sehari hari dan mewujudkan realita fenomena tanggjung jawab sosial, penyantunan kemiskinan dan pemeliharaan serta perwujudan kehidupan yang makmur, sejahtera berkeadilan dan berbahagia lahir batin. Meritokrasi sejati yang bebas dari kebencian ala Kabil cemburu i iri dengki terhadap adiknya sendiri Habil , bahkan tega membunuhnya. Kabilisme inilah akar masalah rahasia kegagalan Indonesia mencapai cita cita revolusi 17 Agustus 1945. Kartosuwiryo memproklamirkan Negara islam Indonesia pada 7 Agustu 1949 setelah PKI Musso berontak 18 September 1948 dan saya dengan tegas berpidato : Pilih Sukarno Hatta atau PKI Musso. Suatu hal yang tidak saya lakukan pada 1 Oktober 1965 ketika Letkol Untung gegabah mengkup panggung politik yang ditumpas dengan brutal oleh Jendral Soeharto dalam 24 jam. Gara gara oknum kroco dilapangan membunuh para jendral, maka aksi G30S menjadi teror kriminal politik dangkal yang serta merta ditumpas habis oleh opini publik yang masih memiliki hati nurani meski sudah 5 tahun di Manipolkan .Buat yang sudah lupa Manipol itu pidato 17 Agustus 1959 yang merupakan” road map revolusi Indonesia” setelah 14 tahun terbenam. Sejak Maklumat Wapres no X 16 Oktober 1945 yang mengubah sistem presidensial menjadi parlementer. Karena saya tidak deliver kebutuhan pokok rakyat, rezim Orde Lama diganti oleh Orde Baru yang mendeliver sandang pangan rakyat setelah terpuruknya rupiah dengan sanering 13 Desember 1965. Harto ketika kamu menolak panggilan saya ke Halim, apa kamu sudah mimpi jadi presiden ke2 RI menggantikan saya?

Soeharto: Siap Mohon Izin, saya cuma tidak mau mati konyol atau hilang diculik seperti yang dialami Jendral Yani cs malam naas itu. Saya tidak diperhitungkan oleh lawan, dianggap jendral ndeso yang tidak paham bahasa Belanda maupun Inggris, artinya tidak sefasih Yani cs yang lulusan Fort Leavenworth. Sedang saya cuma sekolah di Bandung dibawah Jendral Soewarto (ini pakai w bukan h). Saya pakai ilmu Jawa alon alon asal kelakon.Meskipun bapak mengambil alih pimpinan Angkatan Darat dan menunjuk Pranoto sebagai pelaksana tugas harian. Tapi sejak 3 Oktober 1965 de fakto Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban berada ditangan saya. Saya sabar menunggu 14 Oktober baru diangkat jadi Menpangad resmi menggantikan Jendral Yani. Demo demo masih konvensional dan baru merebak setelah sanering 13 Des 1965 memperburuk ekonomi . Saya orang Semarang yang baru pindah ke Jakarta 1962 dan beruntung didukung oleh Menteri Perkebunan drs Frans Seda dari Partai Katolik yang waktu itu dijuluki Gubernur Bank Indonesia kantor Imam Bonjol (sekarang kantor KPU). Setoran devisa perkebunan dipool di Departemen Perkebunan sehingga bisa mengimbangi kekuasaan Gubernur Bank Sentral yang waktu itu dipegang Jusuf Muda Dalam mencaplok semua bank BUMN menjadi bank tunggal BNI. Hanya satu bank lagi yang otonom Bank Dagang Negara karena dirutnya juga jadi Menteri Penertiban Bank dan Modal Swasta, JD Massie. Duet Subchan ZE (tokoh NU) dan Harry Chan Silalahi dari Partai Katolik merupakan poros Islam Katolik atau HMI PMKRI di lapangan demo yang efektif menekan Bung Karno hingga mengeluarkan Supersemar 11 Maret 1966. Baru setelah memperoleh Supersemar saya menahan 15 menteri termasuk 2 waperdam Subandrio dan Chairul Saleh. Subandrio memang Sukarnois kiri begitu juga Chairul Saleh tokoh Murba. Dalam sejarah lakon politik Chairul wafat umur 51 tahun dalam status tapol sebelum sempat diadili. Subandrio sudah divonis mati tapi diselamatkan oleh Ratu Elizabeth II karena pernah menjadi Dubes di London.

Kalau hari ini saya melihat menantu saya jadi Menhan ya itu mungkin kalkulasi mitos Jawanya lebih kuat dari sekolah Barat London maupun AS yang dialami Prabowo. sampai 2045.

Sumitro: Saya ingin dengan rendah hati menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh rakyat Indonesia terutama kepada korban The Rape of Jakarta Mei 1998 waktu lengsernya Pak Harto. Bila memang anak saya terlibat biarlah ia menjalani hukuman nya. Begiu pula bila ternyata yang terlibat adalah jendral lain dan bukan Prabowo Subyanto. Saya tidak takut dan tidak membela anak saya, kalau memang dia bersalah berdosa pada tragedi Mei 1998. Langkah pertama Prabowo begitu dia jadi Menhan seharusnya memohon maaf atas Tragedi Mei 1998 dan penculikan aktivis dengan tuntas dan negara menyantuni para korban yang masih setia menagih Kamisan. Mari kita semua dengan gaya Nelson Mandela menerapkan rekonsiliasi nasional secara tuntas. Kita berdamai dengan sejarah masa lalu kita semuanya,. Tentunya termasuk Jendral Sarwo harus diperkenankan membimbing cucunya dalam kancah kontestasi politik 2024.Rekonsiliasi tuntas terhadap dosa masa lalu kolektif kita bersama yang dipelopori Jokowi Prabowo ini layak dapat Nobel Perdamaian 2020.

Gus Dur: Oom Cum (panggilan akrab Prof Sumitro dilingkaran elite Jakarta). Ini kita sedang menyaksikan lakon wayang multi character yang seolah simpang siur, tapi akhirnya akan menghasilklan “predestintasi kolektif nasib Indonesia” ditangan para Ken Arok modern. Kalau bukan Oom Cum yang sukarela mohon maaf dan mengulurkan tngan rekonsiliasi ala Mandela saya tetap waswas ini semacam “Poros Tengah” untuk memakzulkan presiden seperti Juli 2001

BK: Syukur Prof Cum sudah jadi negarawan pasca politisi partisan. Kalau semua kita bersatu padu tentu target yang diumumkan Jokowi pasti akan tercapai karena itu sebetulnya memang proyeksi realistis dari lembaga kajian internasional.

Sarwo Edi: Saya berterima kasih diajak dalam sarasehan ini. Biarlah semua akrobatik politik sejak 212 ketika menantu saya tampil memojokkan A Hok dan didukung oleh wapres terpilih dan sekarang seolah Partai Demokrat dan AHY terkucil dari koalisi bessr Jokowi Prabowo , menjadi pelajaran karma politik yang efektif.. Kita semua betul betul bisa melakukan rekonsiliasi ala Mandela dari seluruh kekuatan politik berbasis sara, agama, etnis, profesi, kelas, vokasi . Semua sepakat Meritokrasi adalah ukuran kinerja secara fair dan meninggalkan politik identitas sara dan Kabilisme yang menjadi biang keladi stagnasi politik kita selama 75 tahun merdeka.

BK: Jika elite Indonesia memang berjiwa besar, berkarakter negarawan maka cita cita besar untuk menjadikan Indonesia kekuatan no 5 bahkan no 4 sedunia dalam kualitas bukan hanya kuantitas pasti bisa tercapai di tahun 2045. Jadi pidato 5 transformasi Jokowi bisa diwujudkan bila semua berkiprah menurut kinerja meritokratis jangan saling jegal seperti riwayat 75 tahun terakhir yang penuh intrik dan manipulasi Ken Arok dan Kabil silih berganti. Saya percaya jika elite Indonesia bertobat dan melaksanakan rekonsiliasi nasional. Kemudianmenghormati kontestasi meritokratis, mengubur Kabilisme dan watak Brutus Ken Arok Machiaveli (BKM 3-in-1). Indonesia 2045 pasti bisa seindah mimpi pidato transformasi 20 Oktober 2019. Tapi kalau elite Indonesia masih berwatak Kabil maka bisa terjadi pengulangan dari kegagalan cita cita muluk saya zaman Conefo. Apakah KIM Kabinet Indonesia Maju akan sukses mewujudkan pidato transformasi Oktober 2045? Tergantung elite politik dan kabinet yang dibentuk dan dilantik Rabu 23 Oktober 2019.

CW: Jika idee sarasehan ini bisa terwujud maka Presiden Jokowi akan layak menerima Nobel Perdamaian 2020 ( pendaftaran akan ditutup 31 Januari 2020.)

* Christianto Wibisono adalah Penulis buku Kencan dengan Karma (Sejarah Seabad Indonesia).