Catatan dari Senayan

Ngarep Jadi RI-2

CALON Presiden Indonesia 2019-2024 anggap saja sudah selesai. Dari wacana yang berkembang, capres pertama Joko Widodo. Satu lagi, Prabowo Subianto. Praktis pilpres 2019 nanti adalah pertarungan ulang head to head dua figur yang sama. Memang muncul juga calon-calon lain, tapi dari sisi dukungan partai poliitik calon-calon lain itu akan sulit direalisasikan mengingat konfigurasi dukungan parpol sekarang lebih mengerucut ke dua kandidat tadi. Batasan minimal dukungan 20 persen kursi parpol di DPR itu yang membuat orang tak leluasa maju jadi capres.

Persoalan berikutnya siapa saja calon yang bakal mendampingi kedua kandidat? Itulah yang sekarang menjadi trending topic. Banyak yang ngarep untuk menjadi RI-2. Ada yang terang-terangan dengan memasang ribuan baliho potret diri besar, spanduk atau peraga lain, ada yang pura-pura menunggu perintah ulama, ada juga yang menawarkan diri secara halus, kalau ada proses untuk membicarakan calon wapres dia siap. Ada yang kasak-kusuk ingin membangun “poros ketiga” di samping dua poros yang sudah ada.

Ada kata bijak dalam agama, jangan mengejar jabatan, tapi apabila diberi jabatan jangan menolak. Agaknya mereka yang ngarep menjadi cawapres mengabaikan kata bijak itu. Namanya juga ngarep maka, tak perlu malu-malu menyodorkan diri. Semakin hari jumlah baliho potret diri dengan teks Cawapres semakin banyak. Mobilisasi ulama, pemimpin agama, kelompok masyarakat, dan entitas lain semakin marak. Lagu-lagu lama dinyanyikan kembali dengan lirik yang sama dengan beragam aransemen.

Memang sah-sah saja siapa pun ingin menjadi Wakil Presiden, jabatan yang sangat prestisius dalam skala nasional. Apalagi kalau kelak Jokowi yang terpilih sebagai Presiden pada Pilpres 2019, yang sekarang ngarep jadi cawapres berpeluang besar untuk maju menjadi Presiden 2024-2029. Karena pada periode ke depan adalah periode kedua bagi Jokowi sesuai konstitusi dia tak boleh maju untuk ketiga kalinya.

Tapi soalnya bukan pada yang ngarep jadi cawapres saja. Akan sangat tergantung pada selera dan kalkulasi sang Capres.

Tentu untuk menentukan cawapres bukan persoalan simpel. Capres bersama parpol pendukung harus klop dulu dengan partai-partai pendukung mesti menimbang dua aspek besar. Aspek sebelum pilpres menyangkut tingkat elektabilitas cawapres. Jangan seperti ungkapan Jawa, timun wungkuk jaga imbuh, datang tidak menggenapi, pergi tak mengurangi.

Cawapres juga mesti diperhitungkan pasca pilpres. Apakah yang bersangkutan terpilih dapat bersinergi dengan baik bekerja sama dengan padu dan harmonis. Wapres dalam era sekarang bukan sekadar ban serep yang hanya ditugasi urusan seremoni seperti pada masa Orba dulu. Wapres mesti memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memadai sebagai orang nomor dua selain elektabilitas tadi. Visi, misi, dan secara ideologis akan menjadi pasangan yang saling menguatkan.

Maka siapa pun maju sebagai cawapres sesungguhnya sudah ada gambaran figur seperti apa yang dibutuhkan dan layak untuk mendampingi Presiden terpilih kelak. Para calon sendiri yang mesti mematut-matut di depan “cermin besar” dengan sejumlah ukuran pemenuhuan terhadap dukungan publik, mempresentasikan kemajemukan, bersih, tanpa beban masa lalu, dan tentu saja “selera” calon RI-1.

Yang perlu diwaspadai adalah calon-calon dari pimpinan parpol yang memiliki dua agenda, agenda pertama memang ngarep untuk menjadi cawapres, Agenda kedua untuk menaikkan posisi tawar diri dan parpol yang dipimpinnya. Kalau tidak dikehendaki oleh capres yang satu dia akan “mengancam” dukungan partainya akan dibawa ke poros yang lain. Modus seperti ini jamak di seputar pilkada. Tidak tertutup kemungkinannya akan ada yang memainkan modus seperti itu dalam proses pilpres.

Apa pun yang bakal terjadi, semoga kita mendapatkan pemimpin-pemimpin yang amanah dan menggenggam erat semangat memajukan bangsa dan negara.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya

Cek juga

Close
Close