Opini

NawaCita Jilid Dua Harus Konsentrasi ke Manpower

Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan sebuah negara ditentukan oleh kualitas manusia. Dan kualitas manusia ditentukan oleh pendidikan dan pengetahuan. Sayangnya, hal itu umumnya hanya bisa kita dapatkan dengan biaya mahal.

Kemajuan negara, kualitas manusia, pendidikan dan kemampuan itu saling kait satu sama lain, sehingga yang miskin umumnya tetap miskin, dan hanya mereka yang memiliki kemampuan yang cukup yang bisa memperbaiki kualitas dirinya.

Sayangnya jumlah yang bisa memperbaiki diri lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang tidak mampu.

Berkaca dari hal tersebut, sebaiknya NawaCita jilid dua lebih konsentrasi kepada pembangunan manpower. Bila NawaCita jilid satu membangun infrastruktur secara sangat luar biasa, yang bertujuan untuk lebih mempercepat pergerakan ekonomi daerah, ekonomi perkotaan dan berujung pada ekonomi nasional.

Gelegar pembangunan infrastruktur yang begitu masif, merata di semua tempat, dari kota sampai pedesaan, dari pulau terdalam sampai pulau terluar, dari pusat kota sampai pedalaman, tidak bisa kita lakukan oleh kemampuan tenaga kerja kita sendiri, yang memang skillnya tidak kita persiapkan untuk menyongsong pembangunan infrastruktur yang begitu luar biasa.

Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh lawan politik pemerintah yang menyebutkan, bahwa lapangan kerja di negara kita dikuasai oleh tenaga kerja asing.

Dalam laporan pemerintahan daerah dan penelusuran kementerian tenaga kerja, hal itu tidaklah benar. Diketahui bahwa tenaga kerja asing hanya 10 % dari jumlah tenaga kerja lokal.

Celakanya, jumlah 10% itu menjadi sangat banyak, bila jumlah pekerja di suatu kawasan memang banyak. Misalnya salah satu proyek pembangunan pembangkit listrik mempekerjakan 1000 orang, maka tenaga kerja asingnya 100 orang. Bila kemudian hal itu diperbandingkan dengan jumlah tenaga kerja di tempat lain yang hanya mempekerjakan 100 orang, maka jumlah tenaga kerja asing sama dengan jumlah mereka yang bekerja di tempat lain itu.

Hal itu kemudian sulit dijelaskan secara logika dan benar-benar masuk akal kepada mereka yang memang tidak berpendidikan. Sementara di medsos, memang sengaja digoreng sedemikian rupa oleh pihak tertentu, bahkan dilengkapi foto dan video.

Bagaimana mengatasi itu? Satu-satunya cara adalah dengan pembangunan manpower. Menyiapkan tenaga kerja yang berpendidikan dengan skill yang benar-benar sesuai dengan bidangnya.

Tidak bisa mengharapkan kepada masyarakat untuk memperbaiki sendiri kualitas pendidikan dan kualitas skillnya. Harus datang dari pemerintah. Seperti halnya membangun infrastruktur yang jor-joran dengan dana tak ‘terhingga’, pembangunan manusia juga harus dilakukan seperti itu.

Dalam program NawaCita jilid dua, sebaiknya tidak ada lagi sekolah berbayar, mulai dari SD sampai sekolah tinggi. Tidak ada lagi bisnis dalam dunia pendidikan. Biaya pendidikan harus benar-benar nol persen. Kaya-miskin harus sama dalam menempuh pendidikan. Tidak ada lagi sistem biaya silang dari si kaya untuk si miskin, karena hal itu menimbulkan bisnis terselubung di dunia pendidikan.

Bahkan bila perlu, dibikin aturan, anak-anak yang berkeliaran di jam-jam sekolah, orangtuanya harus bertanggung-jawab.

Selama ini Indonesia termasuk negara yang mengabaikan kualitas pendidikan. Terkait hal itu, sebuah survei membuktikan ,Korea Selatan menempati peringkat pertama sebagai negara dengan sistem pendidikan global terbaik versi Pearson, sementara Indonesia menempati urutan bawah.

Dalam survei yang dilakukan oleh lembaga edukasi dan perusahaan penerbitan Pearson, ada empat negara Asia yang menempati urutan atas.

Selain Korsel, ada pula Jepang, Singapura, dan Hong Kong yang berturut-turut berada di posisi dua, tiga dan empat.

Kepala Eksekutif Pearson, John Fallon, menekankan adanya hubungan yang kuat antara meningkatkan keahlian dan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Riset pendidikan internasional 2014 yang dibuat untuk Pearson oleh Economist Intelligence Unit, menekankan kesuksesan sistem pendidikan Asia seperti di Korea Selatan, Singapura, dan Jepang yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi mereka.

Dengan siapnya manpower secara sempurna, maka diharapkan kepada investor, saat melakukan investasi di sini, hanya membawa ‘kopor’, tidak perlu lagi memboyong tenaga kerja dari negara asalnya.

Biaya membangun kualitas manusia memang mahal. Tapi hal itu harus kita lakukan agar kita bisa setara dengan negara maju lainnya. Sudah saatnya manusia kita bangkit dengan kualitas yang siap bekerja di segala sektor. “Kerja..kerja…kerja..,” kata Jokowi. Tentunya dengan tenaga kerja yang berkualitas. Maju Indonesiaku.

Penulis, pengamat sosial politik, tinggal di Jakarta

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close