Hukum

Napi Modus Sebar Video Bugil Sebut Uang Juga Mengalir ke Sipir

BANDUNG, SENAYANPOST.com – Polisi berhasil mengungkap kasus pemerasan dengan modus sebar video bugil yang dilakukan oleh beberapa narapidana Lapas Jelekong Bandung. Ternyata uang hasil pemerasan empat pelaku dari korban mengalir ke petugas sipir.

Hal itu sampaikan GN (28) salah seorang napi yang jadi saksi kunci kasus tersebut. “Uang dibagi-bagi ke napi lain termasuk ke petugas lapas,” katanya di Mapolrestabes Bandung, Rabu (11/4).

Jumlah uang yang dibagikan beragam. Namun ia menyebut nominal paling tinggi hingga Rp40 juta. “Paling tinggi seminggu sampai empat puluh juta (rupiah),” sebutnya.

GN mengatakan, hampir seluruh pegawai lapas mengetahui dan menerima uang tersebut. Hampir 85 persen petugas lapas terlibat.

“Kecuali Kalapas dia enggak tahu karena ini permainan napi,” uca dia.

Uang tersebut sengaja diberikan untuk jaminan kepada napi. Sehingga para napi ‘dijaga’ apabila ada razia atau lainnya. “Untuk menutupi kalau ada sidak (inspeksi mendadak) juga biar enggak ada masalah,” sebutnya.

Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP M Yoris Maulana mengatakan pengakuan dari napi tersebut akan ditampung. Pihaknya masih mendalami adanya dugaan dari petugas Lapas.

“Ini masih belum selesai, masih akan dikembangkan. Kita akan koordinasi dengan kanwil Kemenkum HAM,” kata Yoris.

Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto sebelumnya menjelaskan, penyidiknya di Polrestabes sedang menyidik kasus tersebut. Modusnya, pelaku mengunakan media sosial.

Warga binaan ini memakai media sosial di kamar tahanan dengan foto profil diganti jadi tampak menarik.

Kemudian, pelaku menjalin pertemanan dengan korban yang mayoritas perempuan di luar lapas secara acak atau memilih lawan jenis yang menarik.

“Pelaku berkenalan menjalin pertemanan dengan lawan jenis. Mereka intens komunikasi via chat. Pelaku di dalam tahanan dan korban di luar‎. Dari komunikasi itu, mereka akrab,” ujar Kapolda di Jalan Soekarno-Hatta Bandung, Selasa (10/4/2018).

‎Dari keakraban mereka, komunikasi berlanjut lebih intim. “Komunikasi berlanjut dengan video call. Setelah intens komunikasi via video call, pelaku meminta korban untuk telanjang,” ujar Kapolda.

Tindakan tersebut dilakukan secara virtual. Korban di luar lapas dan pelaku di dalam lapas.

Kemudian, setelah telanjang lewat komunikasi video call, tindak pidana pemerasan pun terjadi.

“Si pelaku ini berkomplot, empat orang. Saat korban telanjang dalam video call itu, pelaku menyimpan rekaman video telanjang. Pelaku mengancam akan menyebarkan video tersebut secara luas jika korban tidak menyerahkan uang pada pelaku. Korban kemudian menyerahkan uang itu pada pelaku,” kata Agung. (MU)

 

KOMENTAR
Tags
Show More
Close