Nakhoda Tenggelam Bersama Kapalnya

Nakhoda Tenggelam Bersama Kapalnya
Albert P. Kuhon

Oleh Albert P. Kuhon
 
SAYA PERNAH berperahu karet kecil, berdua di tengah laut yang bergolak di tengah malam. Saya pernah juga menyelam, keluar masuk beberapa kali di bangkai Kapal Papa Theo yang tenggelam di Kepulauan Seribu. Saya pernah juga menemukan sejumlah keramik tua yang berasal dari Zaman Kekaisaran Ming di bangkai kapal Tiongkok di dekat Pulau Untung Jawa.

Tradisi Maritim menegaskan nakhoda tenggelam bersama kapalnya ("The captain goes down with the ship"). Tindakan  meninggalkan kapal pada saat bahaya mempunyai konsekuensi hukum, karena melanggar hak keselamatan penumpang. Nakhoda bertanggungjawab atas kapal beserta setiap orang di dalamnya sampai titik penghabisan, dan harus rela mati untuk tangungjawabnya. 

Tradisi tersebut telah berlaku 11 tahun sebelum tenggelamnya RMS Titanic pada tahun 1912 bersama Nakhoda Edward Smith. Dalam banyak kejadian, saat waktu darurat nakhoda tidak memikirkan penyelamatan dirinya melainkan mengutamakan penyelamatan penumpang. Akibatnya, nakhoda adalah orang terakhir yang berada di kapal yang tewas bersama tenggelamnya kapal, atau telat diselamatkan.

Nakhoda dan awak kapal HMS Birkenhead yang tenggelam pada tahun 1852, dipuji khalayak ramai karena mereka menyelamatkan penumpang wanita dan anak-anak. Nakhoda yang ketahuan kabur dari kapal ketika kapalnya dalam keadaan genting, dituntut kembali ke kapal sampai bahaya mereda. Seorang kapten kapal yang kabur dalam masa perang, dianggap melakukan kejahatan militer setara dengan desersi.

Meninggalkan kapal di saat genting adalah perbuatan pengecut.  Begitu juga jika kita meninggalkan teman-teman dalam krisis yang muncul gara-gara kita. Saya selipkan juga kisah pikot dan pramugari yang gagah berani. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak juga kaum pengecut yang kabur mencari selamat dan meninggalkan teman-temannya terkapar menghadapi krisis yang dia sebabkan.

Kapten Rivai

Kapten Abdul Rivai adalah nahkoda KM Tampomas II yang tenggelam di Selat Masalembo Januari 1981. Sebenarnya ia menyadari bahwa Tampomas II tak mungkin diselamatkan. Apalagi badan kapal sudah miring 45°. Rivai tetap mengusahakan kapal tidak segera tenggelam dan tetap berusaha tenang dalam menyelamatkan nyawa para penumpang. Sampai sekitar 30 jam sejak api mulai menjalar, Kapten Rivai masih membagi-bagikan pelampung bagi penumpang yang takut terjun ke laut. Ia menolak ajakan Karel Simanjuntak, seorang awak kapal. “Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang selamat?” kata Rivai.

Pada detik-detik menjelang tenggelam, Kapten Rivai masih berusaha menolong beberapa wanita. Ia melambaikan tangannya dan masuk kembali ke dalam kapal. Senin, 26 Januari 1981, Tampomas II tenggelam bersama sang nakhoda, Kapten Abdul Rivai.

Kapten Sully

Yang satu ini bukan kisah kapten kapal. Sekitar semenit setelah lepas landas dari Bandara La Guardia, New York, 15 Januari 2009, pesawat Airbus penerbangan US Airways 1549 bertabrakan dengan sekawanan angsa yang memang menjadi salah satu 'ancaman' penerbangan. Akibatnya, kedua mesin pesawat mati. Kapten Chesley Burnett Sullenberger III alias Sully terpaksa melakukan pendaratan darurat. Para pengawas lalu lintas udara menginstruksikan pilot itu menuju bandara terdekat Teterboro. Tapi Sully dengan tenang menjawab bahwa pesawatnya tidak akan bisa mencapai bandara itu. "Kita akan mendarat di (Sungai) nHudson," kata Sully singkat. 

Ia memberitahu 150 penumpang dan 5 awak pesawat yang ketakutan agar bersiap menghadapi benturan keras. Semua beranggapan pesawat itu akan mengalami bencana. Dengan penuh ketenangan Kapten Sully, sekitar 90 detik setelah mengumumkan kabar 'buruk', menerbangkan pesawat Airbus 320 itu melewati jembatan George Washington. 

Kemudian pesawat mendarat di Sungai Hudson, di antara Manhattan dan New Jersey. Para pramugari mengantar penumpang yang sudah memakai jaket pelampung keluar melalui pintu darurat di sayap pesawat. Sejumnlah feri komuter, perahu wisata dan kapal penyelamat menjemput penumpang di tempat kejadian. 

Seorang korban dilaporkan mengalami patah di kedua kakinya dan yang lainnya dirawat akibat luka ringan dan hipotermia namun tidak ada korban jiwa. Sully dua kali mondar-mandir di lorong kabin pesawat, memastikan semua penumpang sudah dievakuasi. Kapten Sully adalah orang terakhir yang keluar dari pesawat, yang tak lama kemudian tenggelam.

Gubernur New York pada masa itu, David Paterson, menyebut kejadian itu sebagai "Miracle in Hudson" atau "Keajaiban di Sungai Hudson".

Kapten U Myint 

Seorang kapten kapal feri bernama U Myint Aye, Selasa (18/2/2020), melompat dari kapal guna menyelamatkan seorang wanita yang tercebur ke sungai. Kapten U Myint Aye yang berusia 60 tahun itu menggerakkan kapalnya menjauh dari wanita yang malang itu. Ia melompat dari ketinggian 12 meter menjelang kapal bersandar ke dermaga di pelabuhan Dala, dekat Terminal Feri Pansodan, di Sungai Yangon, Myanmar.

Kapten tersebut melompat bersama dua kru lainnya. Mereka menyeret Khin Chan Mya yang berusia 34 tahun ke daratan. Perempuan itu selamat.

Pramugari Harrison

Pesawat Boeing 707 British Overseas Airways Corporation (kini British Airways) pada 8 April 1968 baru saja lepas landas dari Bandara Heathrow, London, Inggris. Pesawat dengan nomor penerbangan 712 itu mengangkut 127 kru dan penumpang. Menuju Sydney dengan transit di Zurich dan Singapura.

Beberapa detik setelah lepas landas, terdengar ledakan keras dan pesawat mulai bergetar. Salah satu mesin mati lalu terbakar. Pilot memutusian pesawat kembali ke bandara Heathrow dan mendarat darurat. Jendela dekat mesin yang terbakar mulai meleleh. 

Ketika pesawat terbang di atas Thorpe, di Surrey, sayap dan mesin yang terbakar putus dan jatuh ke tanah. Dua menit antara saat alarm dibunyikan dan pendaratan pesawat, terlalu singkat buaqt melaksanakan protokol pemadaman api yang tepat, sehingga api menyebar.

Barbara Harrison, pramugari di pesawat tersebut, membantu membuka pintu belakang pesawat, mengembangkan peluncur darurat dan membantu evakuasi penumpang. Peluncur bengkok saat digelembungkan, sehingga pramugara lainnya harus meluruskannya sebelum peluncur digunakan mengevakuasi penumpang. 

Harrison sendirian dalam pesawat, membawa penumpang ke pintu belakang dan membantu mereka keluar dari pesawat yang terbakar. Setelah saluran keluar terbakar, Harrison tetap mendorong penumpang keluar dari pintu ke tempat yang aman. Perempuan berusia 22 tahun itu bersiap melompat keluar sebelum terjadi ledakan lain. Dia kembali masuk ke kabin membantu seorang wanita tua cacat dan seorang gadis berusia delapan tahun yang masih ketinggalan. 

Empat penumpang tewas bersama Harrison, tetapi 122 orang lainnya selamat. Harrison adalah satu dari empat wanita yang pernah dianugerahi George Cross untuk kepahlawanan, dan satu-satunya wanita yang menerima medali di masa damai dan juga termuda. Medali itu diterima oleh ayahnya dan diberikan kepadanya secara anumerta pada Agustus 1969,. 
 
Kapten Schettino

Kapten Francesco Schettino melompat ke sekoci untuk menyelamatkan diri setelah kapalnya, Costa Concordia, menabrak batu di lepas pantai Tuscany, di sekitar Laut Mediterania, 13 Januari 2012. Pertolongan selama enam jam menyelamatkan sebagian besar penumpang, tapi 27 penumpang dan lima awak kapal tewas. Ditambah pula seorang anggota tim penolong juga tewas. Schettino dianggap melanggar tradisi maritim suci yang menyatakan kapten harus menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapalnya. 

Di Italia, seorang kapten kapal yang meninggalkan kapal sebelum penumpangnya diancam hukuman penjara selama dua tahun. Jika ada korban yang mati dalam musibah itu, ancaman hukumannya delapan tahun penjara. 

Schettino bukan hanya melompat ke sekoci, tapi juga menolak kembali ke kapal. Sementara lebih dari 4.000 penumpang dan awak kapal berjuang menyelamatkan diri. Schettino ditangkap sehari setelah kapalnya terbalik. Ia membantah bertindak pengecut dan mengaku terjatuh ke dalam sekoci saat membantu penumpang lain. Ia dituduh melanggar hukum karena menyebabkan bencana dan meninggalkan kapal sebelum evakuasi selesai.

Masalah tanggung jawab seorang kapten kapal, sejak abad ke-12 di Prancis, dicantumkan dalam dokumen Rolls Oleron. Dokumen ini merupakan hukum maritim pertama di dunia. Sedang di Di Amerika Serikat, tidak ada aturan yang mengharuskan kapten menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal yang kena musibah. Istilah "meninggalkan kapal" sering muncul muncul dalam putusan pengadilan Amerika, tetapi umumnya tidak ditujukan bagi kapten yang meninggalkan kapal sebelum penumpangnya terselamatkan. 

Kapten kapal yang kabur duluan, paling-paling dituduh ‘melakukan kelalaian yang mengakibatkan kematian orang lain’. Pasal ini di abad ke-19 pernah digunakan menghukum seorang pelaut yang meninggalkan 31 penumpang di atas kapal yang tenggelam dalam perjalanan dari Liverpool ke Philadelphia.

Francesco Schettino, nakhoda Costa Concordia, dituntut 16 tahun penjara di pengadilan Italia. Setahun penjara karena meninggalkan penumpang, 5 tahun karena menyebabkan tenggelamnya kapal, dan 10 tahun karena pembunuhan tidak disengaja terhadap korban tewas dalam kecelakaan kapal. Di Italia, Spanyol dan Yunani, tindakan nakhoda meninggalkan kapal adalah perbuatan pidana. 

Di Korea Selatan, nakhoda diharuskan menyelamatkan diri terakhir. Hukum Maritim (Merilaki) Finlandia, menyatakan di saat genting seorang nakhoda harus melakukan segala upaya untuk menyelamatkan setiap penumpang dalam kapalnya dan tidak diperbolehkan meninggalkan kapal sepanjang kapal masih dapat diselamatkan, terkecuali jiwa mereka dalam bahaya. 

Kapten Lee

Kapten kapal Sewol, Lee Joon-Seok, pertengahan April 2014 menyelamatkan diri duluan dan meninggalkan penumpangnya. Dia masuk dalam rombongan pertama yang dievakuasi dari kapalnya yang berpenumpang 447 orang tersebut. Kondisi kapal Sewol yang tengah menuju Pulau Jeju itu sudah miring ke samping. Lee Joon-Seok meninggalkan ratusan penumpang kapalnya, yang sebagian besar adalah pelajar.

Joon-Seok ditahan kepolisian setempat. yang dikenakannya. Tidak banyak hal yang disampaikannya. Di tengah kepungan kamera wartawan, Joon-Seok yang menutup wajahnya dengan jaket abu-abu menyampaikan permohonan maaf. 

Heroik lain

Contoh heroik lainnya terjadi ketika Kapal Bounty tenggelam di lepas pantai North Carolina akibat Badai Sandy 29 Oktober 2012. Dua orang tewas, termasuk Kapten Walbridge, setelah generator kapal mati dan air membanjiri perut kapal. Kapten James F. Luce 27 September 1854 menakhodai Kapal Uap Collins Line SS Arctic saat bertabrakan dengan SS Vesta di sekitar perairan Newfoundland. Kapten Luce tenggelam tenggelam bersama kapalnya. Dia ditemukan terapung selamat dua hari kemudian, sedang anak bungsunya Willie ikut tewas.

Kapten William Lewis Herndon 12 September 1857 menakhodai kapal uap Central America yang dilanda badai. Dua kapal datang menyelamatkan, tetapi hanya sebagian kecil penumpang tertolong. Kapten Herndon bersama sisa penumpang tewas.

Dalam Perang

Kapten Komandan Takeo Hirose, 27 Maret 1904 menakhodai Kapal Fukui Maru dalam Pertempuran Port Arthur. Kapalnya tenggelam akibat serangan artileri Rusia dan Hirose ikut hilang bersama kapalnya yang meledak. Sedang Laksamana Angkatan Laut Kekaisaran Rusia Stepan Makarov 13 April 1904 tenggelam bersama Kapal Petropavlovsk yang dihantam ranjau laut di awal pengepungan Port Arthur.

Kapten Edward Smith 15 April 1912 tenggelam di Samudera Atlantik Utara bersama Kapal RMS Titanic yang menghantam gunung es. Laksamana Giovanni Viglione sebagai komandan konvoi  berada dalam Kapal Pietro Maroncelli 30 Mei 1918. Kapal itu dihantam torpedo dari kapal selam Jerman UB-49 dan tenggelam. Viglione memerintahkan semua awak kapal menaiki sekoci dan memilih tetap bertahan sampai tenggelam bersama kapalnya. 

Kapten Edward Coverley Kennedy, di Kapal HMS Rawalpindi, 23 November 1939, berpapasan dengan kapal perang Jerman Scharnhorst dan Gneisenau di sebelah utara Kepulauan Faroe. Rawalpindhi adalah kapal pesiar yang dijadikan kapal perang. Meskipun kalah persenjataan, kapten itu memerintahkan penyerangan dan tenggelam bersama kapalnya.

Kapal selam Italia Console Generale Liuzzi 27 Juni 1940 dipaksa menepi oleh kapal perusak lawan di laut Mediterania. Letnan Lorenzo Bezzi, kapten kaal itu, memerintahkan awaknya meninggalkan kapal lalu menenggelamkan kapal bersama dirinya. Letnan Costantino Borsini dan pelaut Vincenzo Ciaravolo, juga memilih tenggelam bersama kapal perusak Italia Francesco Nullo dalam pertempuran di Kepulauan Harmil, 21 Oktober 1940. Kapalnya rusak parah diserang  HMS Kimberley.

Kapten Edward Fegen dari HMS Jervis Bay meengawal Convoy HX 84 yang berisi 38 kapal dagang di Samudera Atlantik Utara 5 November 1940. Mereka berpapasan dengan Kapal Jerman Admiral Scheer. Fegen memerintahkan konvoi menyebar, lalu ia menyerang musuh. Kapal Jervis Bay kalah senjata, lalu tenggelam bersama kapten dan beberapa awak kapal, tapi 31 kapal yang dikawalnya selamat.

Dalam pertempuran 24 Mei 1941 di Selat Denmark, HMS Hood meledak dan tenggelam dalam waktu 3 menit. Salah satu dari tiga orang yang selamat, Ted Briggs, menjelaskan bahwa kaptennya, Laksamana Holland, tetap duduk di kursinya dan tidak berupaya menyelamatkan diri.  Kapten Ernst Lindemann 27 Mei 1941 tenggelam bersama Kapal Perang Jerman Bismarck. Ketika kapal mulai terbalik, Lindemann terus menghormat sambil berpegang pada tiang bendera dan tenggelam bersama kapalnya.

Laksamana Sir Tom Phillips dan Kapten John Leach tenggelam 10 Desember 1941 bersama kapal HMS Prince of Wales yang tenggelam bersama kapal HMS Repulse akibat diserang pesawat di pesisir pantai Pahang, Malaya. Kapten Letnan Eugène Lacomblé dan Laksamana Karel Doorman 28 Februari 1942 memilih tewas tenggelam bersama HNLMS De Ruyter yang dihantam torpedo dalam Pertempuran Laut Jawa. Sebagian awak kapal terselamatkan, namun sang laksamana memilih tenggelam bersama kapalnya. juga tewas di dalamnya.

Laksamana Tamon Yamaguchi, di atas kapal induk Hiryu, 5 Juni 1942, bertahan dalam Pertempuran Midway. Ia bersama  Kapten Kaku, terakhir terlihat di anjungan kapal yang rusak dan melambai kepada awak kapal yang dievakuasi. Kapten Ryusaku Yanagimoto memilih tetap bersama kapalnya Sōryū saat ditenggelamkan pada pertempuran yang sama.

Bukan hanya di zaman perang, para kapten kapal berji baku dan memilih tenggelam mempertahankan kapalnya. Masih banyak kisah heroik lainnya. Piero Calamai adalah nakhoda kapal samudera Andrea Doria, yang tanggal 26 Juli 1956 bertabrakan dengan Kapal MS Stockholm. Calamai menyelamatkan 1660 penumpang dan awak kapal, lalu memutuskan tenggelam bersama kapalnya menebus kesalahannya yang menyebabkan 46 orang tewas. Calamai menjadi  orang yang terakhir yang dievakuasi dari kapal. Dia lalu mengundurkan diri dari dunia pelayaran, dan wafat pada tahun 1972.

Meninggalkan kapal di saat genting adalah perbuatan pengecut.  Begitu juga jika kita meninggalkan teman-teman dalam krisis yang muncul gara-gara kita. (*)

Bintaro, sepuluh Juli 2021

*Dr.Ir. Albert P. Kuhon, M.Sc., pengajar di Surya University.