Naik Kereta Cepat vs KA Argo Parahyangan, Pilih Mana?

Naik Kereta Cepat vs KA Argo Parahyangan, Pilih Mana?
KA Argo Parahyangan

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung tengah jadi sasaran kritikan publik Tanah Air. Beberapa masalah menerpa mega proyek kerja sama antara Indonesia dan China tersebut.

Salah satu kritiknya, yakni pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung dinilai kurang efisien. Ini karena jarak kedua kota tersebut hanya sekitar 150 kilometer. 

Sehingga dengan jarak sedekat itu, efektivitas kecepatan Kereta Cepat Jakarta Bandung dianggap kurang maksimal, dari segi waktu maupun biaya operasional. Belum lagi, kereta cepat harus berhenti di beberapa titik pemberhentian di antara kedua kota tersebut. 

Nah, selain Tol Cipularang, akses Jakarta-Bandung sendiri sebenarnya sudah dilayani oleh kereta api (KA) Argo Parahyangan.

Berikut ini perbandingan plus minus menggunakan kereta cepat yang targetnya bisa beroperasi pada akhir 2022 dibandingkan dengan KA Argo Parahyangan, KA favorit warga Bandung yang bolak-balik ke Ibu Kota atau sebaliknya. 

Baca Juga

Kereta Cepat Jakarta Bandung vs KA Argo Parahyangan

1. Stasiun akhir dan keberangkatan

Salah satu daya tarik menggunakan kereta api adalah bisa berhenti di stasiun besar yang biasanya terletak di pusat kota. Hal yang jarang ditemui pada mode transportasi pesawat udara, di mana bandara biasanya berada di kawasan pinggiran.

KA Argo Parahyangan yang berangkat dari Stasiun Gambir Jakarta Pusat ini berakhir di Stasiun Bandung yang berada di Kecamatan Andir, tepat di jantung Kota Bandung.

Para penumpang tengah menuruni kereta api di Stasiun Bandung, Senin (25/12/2019).© Disediakan oleh Kompas.com Para penumpang tengah menuruni kereta api di Stasiun Bandung, Senin (25/12/2019).

Nah, bagi penumpang Kereta Cepat Jakarta Bandung, tampaknya harus mengeluarkan ongkos dan waktu lebih banyak apabila harus menuju ke pusat Kota Kembang. Ini karena stasiun akhir kereta cepat dibangun di Tegalluar dan Padalarang.

Dua daerah yang disebutkan di atas lokasinya berada di pinggiran Kota Bandung. Keduanya masuk di wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Sementara apabila berangkat dar Jakarta, calon penumpang harus ke Halim, Jakarta Timur. 

PT KCIC yang jadi operator Kereta Cepat Jakarta Bandung menyebutkan, untuk menuju Kota Bandung, penumpang kereta cepat harus turun di Stasiun Padalarang dan melanjutkan perjalanan dengan naik kereta feeder yang disediakan PT KAI menuju Stasiun Bandung atau Stasiun Cimahi.

2. Waktu tempuh

Waktu tempuh Kereta Cepat Jakarta Bandung diklaim yakni 46 menit hingga Tegalluar. Kereta generasi terbaru CR400AF, hasil pengembangan tipe CRH380A oleh CRRC Qingdao Sifang, kecepatannya yakni 350 km per jam.

Namun karena harus berhenti di beberapa stasiun, maka operasionalnya tidak bisa mencapai kecepatan maksimum yang mencapai 420 km per jam. 

Di sepanjang trase Kereta Cepat Jakarta Bandung akan terdapat empat stasiun pemberhentian, yakni di Halim, Karawang, dan Tegalluar. Lalu ditambah dengan Stasiun Padalarang.  Bagi penumpang kereta cepat yang akan menuju Kota Bandung dan Cimahi, tentunya harus menambah waktu tempuh karena stasiunnya berada di Padalarang. 

Sementara apabila menggunakan KA Argo Parahyangan, waktu tempuhnya yakni sekitar 3 jam 15 menit dari Gambir sampai ke Stasiun Bandung. Bahkan apabila menggunakan KA Argo Parahyangan Excellence, waktu tempuhnya hanya 2 jam 50 menit.

3. Harga tiket

Sebagai kereta berkecapatan tinggi, harga tiket Kereta Cepat Jakarta Bandung tentu lebih mahal. PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyebut akan dibagi dalam tiga kelas, yakni kelas VIP, kelas 1, dan kelas 2.

KCIC mengklaim harga tiket kereta cepat berada di kisaran Rp 300.000. Namun kepastiannya baru akan diumumkan setelah Kereta Cepat Jakarta Bandung beroperasi.

Sementara harga tiket KA Argo Parahyangan saat ini dipatok berdasarkan kelasnya yakni ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Paling murah yakni Rp 85.000 untuk ekonomi dan kelas di atasnya yakni antara Rp 120.000-200.000.

Menuai kritik

Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung menuai hujan kritik setelah Presiden Jokowi mengizinkan penggunaan dana APBN untuk mendanai proyek tersebut. 

Beberapa sumber polemik lain yang muncul yakni BUMN yang dilibatkan dalam proyek tersebut tengah mengalami masalah keuangan dan terlilit utang. Kondisi keuangan perusahaan negara semakin tak menentu di tengah pandemi Covid-19. 

Belum lagi, nilai proyek pun juga membengkak dari perencanaan awalnya sebesar Rp 86,5 triliun melonjak menjadi Rp 114,24 triliun, atau naik sebesar Rp 27,74 triliun. 

Masalah lainnya, proyek tersebut terancam mangkrak, sehingga Pemerintah Indonesia akhirnya membuka peluang pendanaan APBN melalui skema penyertaan modal negara (PMN) ke PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.