Opini

Naik Kereta Api … tut …tut …. tuut

SETELAH lebih tiga puluh tahun malang melintang menelusuri jalanan dari rumah ke pusat kota – sebagai commuter– untuk pertama kalinya, sore tadi saya menjajal perjalanan pulang ke rumah dengan Commutter Line. Dari Stasiun Sudirman – tukar line di Manggarai – selanjutnya mengambil kereta jurusan Bekasi.

Kereta api telah menjadi moda transportasi sejak zaman administrasi Belanda. Sejarah kereta api di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864. Namun, ini adalah Kereta Api Zaman Now. Modern.

Salah satu master piece karya Pak Ignasius Jonan (saat ini MESDM), semasa beliau Dirut PT Kereta Api Indonesia (2009 – 2014), yang berhasil merubah mindset para awak kereta api kementalitas pelayanan, dan juga melengkapi kereta dengan teknologi modern, seperti penggunaan tiket terpadu, one man one ticket, dan otomasi pelayanan. Ternyata kartu e-toll saya pun dapat merangkap sebagai kartu bis transjakarta dan kereta api. Di stasiun ada pula fasilitas mesin untuk top up kartu.

Stasiun Sudirman relatif bersih, ada coffee shop dan bakery yang menyediakan free wifi. Juga toilet, dan tong sampah. Bahkan juga ada lift untuk penyandang disabilitas dan senior citizen yang memerlukan.

Di kereta yang berAC berbaur (dan agak berjejal) berbagai kalangan. Didominasi penumpang usia produktif, pekerja dan mahasiswa. Masih tampak nilai-nilai ketimuran itu. Yang muda memberi tempat kepada yang senior, dan tetap nyaman memelototi gadget-nya. Di kereta tidak ada pengamen, pengasong atau orang yang merokok.

Satu dua orang security berompi khusus meronda dengan wajah ramah tetapi berwibawa. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan pemandangan pemukiman yang sebagian kurang tertata. Plus corat-coret di dinding perkampungan. Ditingkahi poster para politisi pengumbar harapan. Mengemis suara.

Semasa aktif berdinas, saya sering menjajal kereta api pada jam-jam sibuk di berbagai negara. Dalam beberapa hal tertentu, kenyamanan di dalam kereta ini tidak berbeda jauh dibanding kereta di kota-kota besar seperti Tokyo, London, Beijing atau Delhi.

Bahkan kereta yang saya naiki ini jauh lebih bersih dibanding satu line kereta di sekitar Brooklyin-New York, yang di dalamnya ada kebisingan pengkhotbah dan pengamen yang rada seram.

Memang di kereta ini belum ada cctv, penunjuk perhentian stasiun secara elektronik, atau free wifi. Himbauan jangan makan, jongkok lesehan dan menjaga barang-barang disampaikan dalam Bahasa Indonesia melalui mikrofon yang beraudio jernih. Sementara pengumuman stasiun perhentian disampaikan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris.

Beberapa hal mendesak yang menjadi masukan untuk perbaikan, adalah keadaan sarana infrastruktur di luar gerbong kereta. Di beberapa stasiun seperti Manggarai misalnya, peron tidak sepenuhnya tertutup. Penumpang turun dari gerbong, dibantu dengan penghubung  semacam anak tangga, yang jarak celahnya dari lantai kereta maupun ke gerbong cukup jauh. Ada yang hampir 40 cm. Ini tidak memberikan safety, dan rawan tergelincir apalagi kalau hujan dan berdesakan. Tidak beratap pula.

Penumpang turun dari gerbong, dibantu dengan penghubung semacam anak tangga, yang jarak celahnya dari lantai kereta maupun ke gerbong cukup jauh. Ada yang hampir 40 cm. Ini tidak memberikan safety, dan rawan tergelincir apalagi kalau hujan dan berdesakan. Tidak beratap pula.

Padahal… Pengguna kereta ini terdiri dari berbagai kalangan. Tua dan muda. Anak-anak dan lansia. Merekalah– khalayak kerumunan yang secara tidak langsung membantu Pemerintah mengurangi beban fiskal, tidak menggunakan mobil atau bis untuk menghemat BBM bersubsidi.

Para pahlawan keluarga. Ada ratusan ribu orang pengguna kereta setiap hari. Mereka adalah orang-orang produktif. Para pembayar pajak, yang suaranya diemis para politisi setiap musim pemilu atau pilkada. Mereka layak dilayani dengan lebih baik.

Syukurlah, Pemerintah kita  sudah mengarah ke sana.On the right tract. Kereta Bandara di Medan atau Soetta adalah contohnya. Tidak kalah dengan pelayanan kereta di Singapura atau Hong Kong. Semoga Pemerintahan ini dapat berlanjut untuk meningkatkan kenyamanan di moda transportasi massal ini.

Di stasiun tujuan, ada parkiran motor yang luas. Sedangkan untuk mengambil ojek on line, harus berjalan sedikit keluar. Tampaknya dilarang pengojek pangkalan. Sesama pengojek punya lahan masing-masing. Tetapi sesungguhnya pelanggan deserves the best. Pengojek Pangkalanlah yang seharusnya berbenah menyesuaikan dengan tuntutan zaman.

Banyak teman yang seumur-umur bepergian ke tempat kerja menggunakan kereta. Mereka menyaksikan dan mengalami evolusi mulai dari orang berdesakan hingga di atap kereta, tidak membayar karcis atau terancam dengan pick pocket. Kawan-kawan itu memberi testimoni. Sentuhan Pak Jonan yang diteruskan penggantinya (saat ini Pak E. Sukmoro), membuat hidup commuter lebih manusiawi.

Dalam beberapa kesempatan, Pak Jonan – yang semasa Dirut juga mampu menjadi Kepala Stasiun dan Masinis kereta – menunjukkan kepada kita bahwa perubahan mentalitas petugas kereta api dan para pelanggan penumpangnya,– dengan visi leadership, kemauan dan upaya keras – dapat bertransformasi ke modernitas tanpa perlu hingar bingar dan retorika.

Terima kasih Pak Jonan. Terima kasih kepada PT. KAI. Jangan berhenti berbenah. Untuk meningkatkan pelayanan. Demi masyarakat dan Indonesia yang lebih baik.

Jakarta, 20 Maret 2018

==============

Penulis, Pengamat Sosial Kemasyarakatan

KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close