Catatan Menawan dari Sejarah Kenabian

Naik Haji Bersama Nabi Saw.

Naik Haji Bersama Nabi Saw.

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

MADINAH AL-MUNAWWARAH, 10 H/632 M. Pada tahun akhir itu, melihat Islam kian terpancang kuat dan berkembang luas di berbagai kawasan, Rasulullah Saw. merasa, kini tugas beliau sebagai Utusan Allah Swt. hampir usai.  Beliau pun  menandainya  dengan melaksanakan  ibadah haji wadâ‘ (perpisahan) ke Makkah, pada  10 H/632 M. 

Untuk itu, pada Syawwal 10 H/Januari 632 M, di bulan puncak musim dingin tahun itu, di seluruh penjuru Madinah Al-Munawwarah diumumkan bahwa Rasulullah Saw. sendiri yang akan memimpin ibadah haji tahun itu, “Barang siapa ingin menunaikan ibadah haji bersamaku, kiranya ia datang ke Madinah. Kita akan berangkat bersama. Menuju Ka‘bah.”

Berita itu disebarkan ke berbagai suku. Di gurun pasir. 

Orang-orang pun datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru oasis ke Madinah. Untuk menyertai Rasulullah Saw. dalam menunaikan ibadah haji. Mereka berharap, dalam setiap langkah, mereka akan bergembira dan berbahagia karena mendapatkan kesempatan menyertai beliau melakukan perjalanan ke Makkah dan sekaligus merupakan ibadah haji terakhir yang beliau laksanakan. Ibadah haji kali ini berbeda dengan yang dilakukan beratus-ratus tahun silam. Kali ini, seluruh jamaah akan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Esa: Allah Swt. Dan, tiada lagi para penyembah berhala yang akan mencemari Baitullah. Dengan ritus-ritus kemusyrikan. 

Lima hari sebelum akhir bulan Dzulqa‘dah, tepatnya pada Sabtu, 25 Dzulqa‘dah 10 H/22 Februari 632 M, Rasulullah Saw. bertolak dari Madinah menuju Makkah, ‘menembus’ musim dingin yang masih berada di puncaknya. Kali ini, beliau disertai sekitar 30.000 pria dan perempuan. Selain diikuti banyak kaum Muslim tersebut, beliau juga disertai semua istri beliau. Di antara mereka adalah ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, istri satu-satunya beliau yang masih gadis ketika menikah dengan beliau, Saudah binti Zam‘ah, Shafiyyah binti Huyay, dan Ummu Salamah. 

Mereka menginap semalam di Dzulhulaifah.

Sejarah dan Dunia pun Menatapnya dengan Kagum 

Menjelang waktu shalat Shubuh tiba, masih di Dzulhulaifah, Rasulullah Saw. mandi untuk niat berihram. Kemudian, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq memercikkan wewangian ke tubuh dan kepala beliau. Hingga tetesan wewangian itu terlihat meleleh pelan di anak-anak rambut dan jenggot beliau. Tetesan wewangian itu dibiarkan begitu saja dan tidak dibasuh oleh putri Abu Bakar Al-Shiddiq itu. 

Selepas itu, Rasulullah Saw. mengenakan kain ihram. Kemudian, selepas melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, beliau melantunkan talbiyah untuk haji dan umrah di tempat itu,  “Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Allâhumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan hanyalah bagi-Mu semata. Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik. Aku datang memenuhi panggilan-Mu.”

Sebelum iring-iringan para jamaah haji tersebut bertolak dari Madinah, Rasulullah  Saw. memerintahkan kepada para calon jamaah haji yang tidak bergabung dari Kota Suci itu untuk menempuh jalur tepi pantai, dengan harapan mereka dapat bertemu di tengah perjalanan. Benar, rombongan yang tidak bertolak dari Kota Madinah itu akhirnya bertemu dengan rombongan yang berangkat bersama beliau. Setelah kedua rombongan itu bertemu, mereka semua kemudian berihram, kecuali Abu Qatadah. 

Mengenai perjalanan haji Rasulullah Saw. kala itu, Ali Shariati dalam sebuah  karyanya berjudul Muhammad Saw., Khâtim Al-Nabiyyîn, menulis:

“Langit hari itu belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada kala itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan, di bawah sengatan matahari yang amat terik dan di gurun pasir yang sebelumnya tidak pernah dikenal orang, bergerak menuju satu arah. Tiada tanda-tanda apa pun yang mereka kenakan dan yang membedakan seseorang dari orang lainnya, satu bangsa dari bangsa lainnya yang bergabung dalam rombongan besar itu. Warna yang dimiliki semua orang sama: putih. Dan, potongannya pun sama pula: satu kain dibelitkan di bagian bawah tubuh. Sedangkan sehelai lainnya dibelitkan di pundak.

Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi  kehidupan umat manusia. Dia merupakan lukisan tentang persamaan seorang anak manusia dengan yang lain yang lainnya. Tiada perbedaan antara mereka. Busana yang mereka kenakan tidak boleh dijahit yang dapat menutupi pengungkapan ciri pribadi. Semua orang yang berhimpun di sana adalah “manusia”. Bukan yang lain. Segala tanda-tanda yang membedakan seseorang dari yang lain telah ditanggalkan di Dzulhulaifah.

Muhammad pun melanjutkan perjalanannya. Diikuti 100.000 lebih manusia. Dengan busana yang sama dan warna yang sama pula. Sementara itu, dunia dan sejarah pun menatapnya dengan kagum.” [...]

Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandannya berjalan kaki kelelahan. Demikian pula pengikut-pengikutnya. Nabi Saw. memang berjalan kaki semenjak dari Dzulhulaifah di belakang umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa “penguasa” itu berada di tengah-tengah pasukan itu. Namun, ketika ia dicari-cari, ia tidak juga kuasa menemukannya.”

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ketika berada di tengah perjalanan, tiba-tiba mereka melihat beberapa ekor keledai liar. Melihat keledai-keledai liar tersebut, Abu Qatadah segera memburunya. Akhirnya, ia berhasil menangkap seekor keledai. Selepas menyembelih keledai tersebut dan memasak dagingnya, ia kemudian menyajikan masakan itu kepada sebagian rombongan calon jamaah haji itu. Seusai menikmati masakan tersebut, orang-orang yang menikmati masakan itu saling bertanya satu sama lain, “Bolehkah kita makan hewan buruan, sedangkan kita dalam keadaan ihram begini?”

Sisa masakan itu kemudian mereka bawa kepada Rasulullah Saw. Tatkala mereka bertemu dengan beliau, mereka pun bertanya kepada beliau, “Rasulullah! Kami tadi telah berihram. Sedangkan Abu Qatadah belum berihram. Lalu, kami melihat beberapa ekor keledai liar. Seekor di antara keledai-keledai itu berhasil ditangkap Abu Qatadah. Ia kemudian menyembelihnya, memasak dagingnya, dan menyajikannya kepada kami. Selepas menikmati masakan tersebut, kami pun bertanya-tanya, apakah kami dibolehkan menikmati hewan buruan itu atau tidak, karena kami sedang berihram?”

“Apakah di antara kalian ada yang telah menyuruh atau memberikan petunjuk mengenai masakan itu?” tanya Rasulullah Saw.

“Tidak ada, wahai Rasul!” jawab mereka. 

“Makanlah sisa masakan itu!” jawab Rasulullah Saw. Menenangkan hati mereka.

Rasulullah Saw. dan rombongan para jamaah haji itu kemudian meneruskan perjalanan. Hingga mendekati Makkah Al-Mukarramah. Selepas singgah beberapa lama di Dzu Thuwa, mereka kemudian memasuki Kota Suci itu.

Ketika rombongan para jamaah haji yang dipimpin Rasulullah Saw. tiba di Makkah Al-Mukarramah, mereka segera bersiap-siap untuk melaksanakan umrah di Baitullah. Ummu Salamah, salah seorang istri beliau yang juga ingin segera melaksanakan umrah, segera menemui Rasulullah Saw., yang sedang melaksanakan shalat di sisi Ka‘bah, untuk mengadukan perihal dirinya yang sedang sakit. Ucap Ummu Salamah, “Rasulullah! Aku ingin segera melaksanakan umrah bersama mereka! Namun, aku sedang sakit!”

“Lakukanlah dengan naik unta. Di belakang mereka,” jawab Rasulullah Saw.

Maka, perempuan bangsawan Quraisy-yang oleh Ibn Hajar Al-‘Asqallani, dalam sebuah karyanya berjudul Al-Ishâbah fî Tamyîz Al-Shahâbah, dilukiskan sebagai “perempuan yang memiliki kecantikan luar biasa, suara nan merdu, kekuatan berpikir cepat, dan kemampuan untuk memberikan pendapat yang tepat”-itu pun melaksanakan umrah dengan naik unta. Sesuai dengan arahan sang suami tercinta.

Lari Kecil pada Tiga Putaran Pertama

 Seusai melaksanakan shalat Shubuh dan mandi, pada pagi hari Senin, 4 Dzulhijjah 10 H/2 Maret 632 M, begitu memasuki Baitullah, Rasulullah Saw. lantas memulai ibadah dengan mencium atau mengusap, dan memberi isyarat ke arah Hajar Aswad. Beliau melakukan tawaf dengan berlari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada empat kali putaran terakhir.

Usai melakukan tawaf, Rasulullah Saw. dan rombongan lantas menuju Maqam Ibrahim  seraya membaca ayat, “Jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS Al-Baqarah [2]: 125).

Di tempat itu, Rasulullah Saw.  melaksanakan shalat dua rakaat. 

“Muhammad datang kepada Tuhannya-di hari-hari akhir kehidupannya-di Maqam Ibrahim, Bapak agama-agama langit dalam sejarah umat manusia,” tulis lagi Ali Syariati dalam karyanya Muhammad Saw., Khâtim Al-Nabiyyîn tentang perjalanan Rasulullah Saw. ke Makkah untuk melaksanakan haji, “untuk menyodorkan hasil jerih payah perjuangannya yang sarat semangat. Dan, di hadapan-Nya pula, beliau meminta kesaksian umat manusia bahwa beliau tidak pernah berhenti bekerja dan tidak pula kenal lelah dalam berjuang menunaikan risalahnya.

Beliau juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besar yang ia mulai dalam kehidupan manusia kini telah ia antarkan hingga batas tersebut. Juga, telah ia gerakkan selaras dengan pedoman yang digariskannya.”

Selepas itu, Rasulullah Saw. kembali lagi ke Hajar Aswad untuk mencium atau mengusapnya. Dari situ, beliau kemudian melangkahkan kaki menuju Bukit Shafa: untuk melaksanakan sa‘i.  Ketika telah dekat dengan Bukit Shafa, beliau membaca ayat,  “Sungguh, (sa‘i antara) Shafa dan Marwah merupakan sebagian dari berbagai tanda kebesaran Allah.” (QS Al-Baqarah [2]: 158). 

Rasulullah Saw. memulai sa‘i dari Bukit Shafa. Beliau pertama-tama naik ke Bukit Shafa, sehingga beliau dapat melihat Baitullah. Lantas, beliau menghadap ke arah kiblat dengan mengucapkan kalimat yang mengesakan dan mengagungkan Allah,  “Tiada Tuhan selain Allah. Dialah satu-satunya Tuhan. Tiada sekutu bagi-Nya. Kekuasaan dan segala puji milik-Nya dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada tuhan selain Allah. Dialah satu-satunya Tuhan. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan musuh-musuh-Nya dengan sendiri-Nya.”

Usai berucap demikian, Rasulullah Saw. lantas berdoa. Doa tersebut beliau ulang sampai tiga kali. Lalu, beliau berjalan menuju Bukit Marwah. 

Setiba di lembah, Rasulullah Saw. berlari kecil, lantas berjalan biasa sampai beliau tiba di Bukit Marwah. Di situ, beliau melakukan seperti apa yang beliau lakukan di Bukit Shafa. Ketika beliau mengakhiri sa‘i di Bukit Marwah, beliau berpesan, “Andaikan aku belum melakukan apa yang telah kulakukan, tentu aku tidak membawa hewan kurban (hadyu) dan ibadahku tadi kujadikan sebagai umrah saja. Karena itu, barang siapa tidak membawa hewan kurban, kiranya ia bertahallul dan menjadikan ibadahnya tadi sebagai umrah!”

Mendengar pernyataan Rasulullah Saw. yang demikian, Suraqah bin Malik bin Ju’tsum berdiri dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasul! Apakah hal itu untuk tahun ini saja ataukah juga untuk seterusnya?”

“Umrah untuk haji? Tidak hanya untuk tahun ini saja. Namun, juga untuk seterusnya!” jawab Rasulullah Saw.

Ada Apa dengan Dirimu, ‘A’isyah?

Keberangkatan Rasulullah Saw. untuk beribadah haji itu, selain diikuti banyak kaum Muslim dan para istri beliau, juga disertai putri sangat tercinta beliau: Fathimah Al-Zahra’. 

Putri keempat dan termuda pasangan suami-istri Rasulullah Saw. dan Khadijah binti Khuwailid tersebut lahir pada Selasa, 20 Jumada Al-Tsaniyyah tahun pertama kenabian/13 Juli 605 M, di Makkah. Ibu Al-Hasan bin ‘Ali dan Al-Husain bin ‘Ali ini dikatakan sebagai “pemimpin kaum perempuan di surga”. 

Perempuan yang menurunkan anak keturunan Rasulullah Saw. ini berhijrah ke Madinah bersama ‘Ali bin Abu Thalib atau Zaid bin Al-Haritsah. Ia menikah dengan khalifah ke-4 dalam sejarah Islam itu seusai Perang Badar. Ketika ‘Ali bin Abu Thalib meminangnya, Rasulullah Saw. langsung menanyakannya kepada putrinya. Ternyata, ia diam seribu bahasa. Diamnya wanita, menurut hukum Islam, adalah tanda setuju. ‘Ali ketika itu tidak mempunyai apa-apa selain baju perang, sepotong kulit domba, dan sepotong pakaian. Lantas, ‘Ali bin Abu Thalib menjual baju perangnya, dan uangnya ia berikan kepada Fathimah sebagai mahar. Upacara pernikahan mereka sangat sederhana, tanpa kebesaran, pertunjukan, dan upacara.

Pada musim haji itu, ‘Ali bin Abu Thalib sedang berada di perjalanan pulang dari Yaman. Dia berada di sana semenjak bulan Ramadhan, bersama 300 orang prajurit berkuda, untuk mengajak warga negeri itu memeluk Islam. Ia baru balik dari sana pada akhir bulan Dzulqa‘dah dan langsung menuju Makkah untuk bergabung dengan Rasulullah Saw. dan kaum Muslim yang akan menunaikan ibadah haji. 

Setiba di Kota Suci itu, ‘Ali bin Abu Thalib segera menemui istrinya, Fathimah Al-Zahra’. Kala itu, sang istri sedang berihram dengan mengenakan busana warna-warni dan bercelak mata. Melihat hal itu, menantu Rasulullah Saw. itu berupaya melarang sang istri melakukan hal yang demikian.

“Suamiku. Ayahkulah yang menyuruhku begini!” 

Demikian jawab Fathimah Al-Zahra’. Membela diri. Merasa kurang yakin dengan jawaban sang istri, ‘Ali bin Abu Thalib pun menemui Rasulullah Saw. dan mengeluhkan tentang busana berwarna-warni yang dikenakan sang istri. Menerima keluhan sang menantu tercinta, beliau pun menjawab, “‘Ali. Benar apa yang dilakukan Fathimah! Benar apa yang dilakukan Fathimah.”

Kemudian, ketika hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) tiba, Rasulullah Saw. bermaksud meninggalkan Makkah menuju Mina dan kemudian ke ‘Arafah.  Sebelum bertolak, beliau masuk ke tempat seorang putri pasangan suami-istri Abu Bakar Al-Shiddiq dan Ummu Ruman binti ‘Amir bin Uwaimir Al-Kinaniyyah: ‘A’isyah. Ternyata, istri beliau yang kala itu baru berusia 17 tahun itu sedang menangis. Melihat sang istri tercinta menangis, beliau pun bertanya, “Ada apa dengan dirimu, ‘A’isyah?”

“Aku sedang haid, wahai Rasul! Orang-orang lain telah bertahallul. Sedangkan aku sendiri saat ini belum bertahallul dan belum melakukan tawaf di Baitullah. Dan, kini, orang-orang telah bersiap-siap untuk memulai ibadah haji!” jawab putri Abu Bakar Al-Shiddiq-yang terkenal sebagai penutur hadis yang berwawasan luas itu, terutama yang berkaitan dengan hukum Islam, seraya menahan tangisnya. 

“Ini adalah ketetapan Allah atas kaum perempuan. Mandilah. Lalu, berihramlah untuk haji,” ucap Rasulullah Saw. menenangkan hati sang istri tercinta.

‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, yang kala bertolak dari Madinah berniat memilih haji tamattu‘ (beribadah umrah sebelum beribadah haji) tanpa membawa hewan kurban, kemudian melaksanakan perintah Rasulullah Saw. 

Rasulullah Saw. kemudian meninggalkan Makkah dan pergi menuju Mina. Di sana, beliau  melaksanakan shalat Zhuhur, Asar, Magrib, ‘Isya’, dan Shubuh di sana. Seusai menanti hingga matahari terbit, beliau lantas melanjutkan perjalanan menuju ‘Arafah. Tenda-tenda waktu itu telah didirikan di sana. Beliau pun masuk tenda yang disiapkan bagi beliau. Setelah matahari tergelincir, beliau meminta supaya Al-Qashwa’, unta beliau, didatangkan. Beliau kemudian menaikinya hingga tiba di tengah dataran ‘Arafah.

Melihat ribuan jamaah yang memenuhi panggilan Allah dan menaati perintah-Nya, Rasulullah Saw. merasa lega. Umatnya telah menegakkan kebenaran Islam dengan ikhlas. Saat itu, beliau berniat menanamkan inti ajaran Islam dalam hati mereka, dengan memanfaatkan pertemuan mulia itu sebagai kesempatan itu untuk mengucapkan khutbah. Untuk mengikis tuntas sisa-sisa kejahiliahan yang masih mengendap kuat dalam jiwa kaum Muslim. Beliau juga hendak menekankan soal-soal akhlak, hukum, dan hubungan antar sesama kaum Muslim. Termasuk hubungan antara suami-istri.

Ya Allah, Saksikanlah!

 Setiba di jantung ‘Arafah, Rasulullah Saw. kemudian berdiri di hadapan sekitar 124.000 atau 140.000 kaum Muslim untuk menyampaikan khutbah haji terakhir beliau, yang diulang dengan ucapan yang lebih keras oleh Rabi‘ah bin Umayyah bin Khalaf, yang lebih dikenal dengan sebutan Haji Wada‘:

“Wahai manusia! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barang kali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kalian semua di tempat ini. 

Tahukah kalian semua, hari apakah ini? 

(Beliau menjawab sendiri) Inilah Hari Nahr, hari kurban yang suci. Tahukah kalian bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua bahwa darah dan nyawa kalian, harta benda kalian dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan Tuhan kalian kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Kiranya berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian! 

Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Hari ini kiranya dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa memegang amanah di tangannya, kiranya ia bayarkan kepada yang empunya. Dan, sungguh, riba jahiliah adalah batil. Dan, awal riba yang pertama sekali kuberantas adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib. Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliah, dan penuntutan darah cara jahiliah. Yang pertama kali kuhapuskan adalah tuntutan darah ‘Amir bin Al-Harits.

Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumi kalian  yang suci ini. Namun, ia bangga bila kalian dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atas dirinya! Wahai manusia! Sungguh, zaman itu beredar semenjak Allah menjadikan langit dan bumi.

Wahai manusia! Sungguh, bagi kaum perempuan (istri kalian) itu ada hak-hak yang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi istri itu. Yaitu, mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tidak boleh membawa orang lain yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali setelah mendapat izin dari kalian terlebih dahulu. Karena itu, sekiranya kaum perempuan itu melanggar ketentuan-ketentuan demikian, sungguh Allah telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Namun, bila mereka berhenti dan tunduk kepada kalian, menjadi kewajiban kalianlah untuk memberikan nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan perempuan dan terimalah wasiat ini untuk memperlakukan mereka dengan baik. 

Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Wahai manusia! Sungguh, telah aku tinggalkan kepada kalian sesuatu, yang bila kalian memeganginya erat-erat, niscaya kalian tidak akan sesat. Selamanya. Yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik apa yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia. Untuk selamanya dalam hidup kalian!

Wahai manusia! Kalian kiranya mengerti, orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi masing-masing pribadi di antara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya. Kecuali dengan izin hati yang ikhlas. 

Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Janganlah kalian, selepas aku meninggal nanti, kembali pada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang bila kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan kalian, tentu kalian tidak akan sesat, yakni Kitab Allah (Alquran). Wahai umatku! 

Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling takwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa. 

Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah! Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!’”

Bolehkah Saya Berhaji Atas Nama Ayah Saya?

Begitu usai melaksanakan wukuf di ‘Arafah, ketika matahari telah terbenam dan mega kuning mulai sirna, Rasulullah Saw. lantas meneruskan perjalanan hajinya dengan menaiki unta. Kali ini beliau didampingi seorang anak muda: Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Al-Haritsah. 

Ketika tiba di Muzdalifah, Rasulullah Saw. kemudian melaksanakan shalat Magrib dan Isya’ dengan sekali azan dan dua kali iqamah. Tanpa shalat sunnah apa pun di antara kedua shalat itu. Selepas itu, beliau berbaring hingga waktu shubuh tiba. Lalu, beliau melaksanakan shalat Shubuh, dengan sekali azan dan sekali iqamah. Usai shalat, beliau lantas naik unta beliau, Al-Qashwa’, dan meneruskan perjalanan hingga tiba di Masy‘ar Al-Haram. 

Ketika tiba di Masy‘ar Al-Haram, Rasulullah Saw. lantas menghadap ke arah kiblat. Kemudian, beliau berdoa, bertakbir, bertahlil, dan mengucapkan kalimat tauhid. Beliau tetap berada di sana hingga langit  menyemburatkan warna kekuning-kuningan. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan beliau sebelum matahari terbit dengan naik unta tunggangan beliau. Kali ini, beliau didampingi Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, saudara sepupunya dan putra sulung Al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib, yang memiliki rambut indah dan wajah tampan.

Ketika Al-Fadhl bin Al-‘Abbas mulai menggerakkan unta yang ia tunggangi bersama Rasulullah Saw., beberapa perempuan lewat di dekat beliau. Melihat Al-Fadhl menatap mereka, berlama-lama, beliau pun menutupkan tangannya pada wajah Al-Fadhl dan memalingkan wajahnya dari mereka. Tiba-tiba salah seorang di antara perempuan itu mendekati beliau dan bertanya, “Rasulullah! Bukankah haji, yang diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, juga berlaku atas ayahku yang telah berusia lanjut. Namun, kini ia tidak kuat lagi berada di atas hewan tunggangan berlama-lama. Bolehkah saya berhaji atas nama ayah saya?”

“Tentu saja boleh,” jawab Rasulullah Saw.

Usai memberikan jawaban demikian, Rasulullah Saw. lantas melanjutkan perjalanan beliau. Ketika beliau tiba di tengah Lembah Muhassir, beliau mempercepat langkah-langkah unta yang beliau naiki bersama Al-Fadhl bin Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, lantas menempuh jalan tengah. Yang langsung menuju Jumrah ‘Aqabah.

Begitu tiba di dekat Jumrah ‘Aqabah, Rasulullah Saw. lantas menambatkan untanya di sebuah pohon. Selepas itu, beliau melempar jumrah tersebut dengan tujuh buah kerikil dengan bertakbir pada setiap kali lemparan. Beliau melempar dari tengah lembah. Setelah itu, beliau menuju ke tempat penyembelihan hewan dan menyembelih 63 hewan kurban, sesuai dengan usia beliau kala itu, dengan tangan beliau sendiri. Sisanya beliau serahkan kepada ‘Ali bin Abu Thalib, menantu tercinta beliau.

Di sisi lain, selain diikuti banyak kaum Muslim, seperti telah dikemukakan di muka, Rasulullah Saw. juga disertai para istri beliau. Di antara mereka adalah ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, satu-satunya istri beliau yang masih gadis ketika menikah dengan beliau. Dan, tidak lama selepas penyembelihan hewan-hewan kurban tersebut, seseorang membawa sebagian daging hewan kurban tersebut ke hadapan para istri beliau. Melihat hal itu, ‘A’isyah pun bertanya, “Apa ini?”

“Ibu Orang-Orang Beriman! Ini adalah daging hewan kurban yang disembelih Rasulullah Saw. atas nama istri-istri beliau,” jawab orang yang membawa daging tersebut.

Kemudian, ketika Hari Idul Adha tiba dan di saat dhuha, selepas Rasulullah Saw. dan kaum Muslim usai melaksanakan wukuf di ‘Arafah dan melempar jumrah di Mina, beliau pun menyampaikan pidato dari atas punggung bagal kepada kaum Muslim. Mereka ada yang berdiri dan ada yang duduk. Pidato tersebut diulangi ‘Ali bin Abu Thalib dengan suara yang nyaring:

“Sesungguhnya masa beredar laksana bentuknya saat langit dan bumi diciptakan. Satu tahun terdiri dari 12 bulan, di antaranya empat bulan suci, tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab yang terletak di antara Jumada Al-Tsaniyyah dan Sya‘ban.”

Selepas berucap demikian, Rasulullah Saw. sejenak diam. Dan, beberapa saat kemudian beliau bertanya, “Bulan apakah kini?”

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, Rasulullah,” jawab mereka yang hadir. Serempak.

Rasulullah Saw. kemudian diam sejenak. Sehingga, mereka yang hadir kala itu mengira beliau akan memberi nama yang lain. Dan, beberapa saat kemudian, beliau berucap, “Bukankah kini bulan Dzulhijjah?”

“Benar, Rasulullah,” jawab mereka yang hadir. Kembali serempak.

“Negeri apakah ini?” tanya Rasulullah Saw. lebih lanjut.

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, wahai Rasulullah,” jawab mereka yang hadir. Lagi-lagi serempak.

Rasulullah Saw. kemudian diam sejenak seperti sebelumnya. Sehingga, mereka yang hadir kala itu mengira beliau akan memberi nama lain. Dan, beberapa saat kemudian, beliau berucap, “Bukankah ini Negeri Haram, negeri kalian?”

“Benar, Rasulullah,” jawab mereka yang hadir, tidak tahu ke mana arah ucapan Rasulullah Saw. itu.

“Hari apakah sekarang ini?” tanya Rasulullah Saw. lebih jauh.

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu, Rasulullah,” jawab mereka yang hadir.

Rasulullah Saw. kemudian diam sejenak seperti sebelumnya. Sehingga, mereka yang hadir kala itu mengira beliau akan memberikan nama lain. Dan, beberapa saat kemudian, beliau berucap, “Bukankah hari ini adalah hari nahar (hari penyembelihan hewan kurban)?”

“Benar, Rasulullah,” jawab mereka yang hadir, kian tidak tahu ke mana arah ucapan Rasulullah Saw. itu.

Rasulullah Saw. kemudian berucap, “Sungguh, darah, harta, dan kehormatan diri kalian adalah suci atas kalian, laksana kesucian hari ini, di negeri kalian ini, dan di bulan kalian ini. Kalian akan menghadap Tuhan. Lalu, Dia akan menanyakan amal-amal kalian. Karena itu, janganlah kalian menjadi sesat sepeninggalku, hingga sebagian di antara kalian memenggal leher sebagian yang lain. Apakah aku sudah menyampaikan pesan ini?”

“Benar, Rasulullah,” jawab mereka yang hadir kala itu.

“Ya Allah, saksikanlah! Ingat, kiranya yang hadir saat ini mengabarkan kepada yang tidak hadir. Betapa banyak orang yang diberitahu lebih sadar daripada orang yang mendengarnya langsung dariku,” ucap Rasulullah Saw.

Selepas Kesempurnaan Hanya Ada Kekurangan 

Perihal khutbah Rasulullah Saw. tersebut, Tariq Ramadan, dalam sebuah karyanya berjudul In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, berkomentar sebagai berikut:

“Nabi benar-benar menjadi saksi bagi masyarakat spiritual Muslim. Dalam berhubungan dengan mereka, di titik pusat ibadah haji-di mana ibadah itu sendiri menuntut kesederhanaan dan keharmonisan manusia di hadapan Pencipta mereka-Rasul mengingatkan butir penting dalam pesan Tuhan: tanpa melihat ras, kelas sosial, atau jender, karena satu-satunya yang membedakan mereka adalah apa yang mereka perbuat terhadap diri, intelijensia, kualitas, dan, di atas segalanya, hati mereka. Dari mana pun asal mereka, orang Arab atau bukan; apa pun warna kulit mereka, hitam, putih atau lainnya, manusia menjadi unggul karena perhatian mereka terhadap hati, pendidikan spiritual, pengendalian diri, dan kemekaran iman, kebaikan, kemulian jiwa, dan untuk kepentingan persatuan, komitmen terhadap sesama manusia atas dasar prinsip-prinsip mereka. Di hadapan ribuan jamaah dari semua tempat dan kedudukan, budak dan pemuka suku, laki-laki dan perempuan, Nabi bersaksi bahwa beliau telah menunaikan risalahnya. Dan, semua kaum Muslim serentak bersaksi bahwa mereka telah menerima dan memahami makna dan kandungannya.”

Tidak lama kemudian, beberapa jam kemudian, selepas Rasulullah Saw. menyampaikan khutbah tersebut, turunlah firman Allah, “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Islam telah Kuridhai menjadi agama bagi kalian.” (QS Al-Mâ’idah [5]: 3).

Mendengar firman Allah tersebut, ‘Umar bin Al-Khaththab pun tidak kuasa menahan air matanya. Melihat hal itu, ia pun ditanya, “‘Umar! Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau ini jarang sekali menangis?”

“Karena aku tahu, selepas kesempurnaan hanya ada kekurangan!” jawab mertua Rasulullah Saw. itu. Ia merasa, beliau akan segera kembali ke tempat pilihan beliau: rumah beliau di balik kehidupan dunia ini. Di sisi Tuhan beliau. 

Ternyata, firasat ‘Umar bin Al-Khaththab tersebut benar adanya: sekitar  dua  bulan selepas melaksanakan  ibadah  haji  tersebut, Rasulullah Saw. jatuh sakit. Namun, beliau tetap  melaksanakan tugas seperti biasa. Beliau juga pergi ke Uhud dan mendoakan para syahid  yang  dimakamkan  di  sana.  Beliau  terus  melaksanakan shalat  berjamaah hingga beliau menjadi begitu lemah  dan  tidak mampu  bergerak. Beliau perintahkan Abu Bakar  Al-Shiddiq  untuk menjadi  imam.  Empat  hari sebelum wafat,  beliau  merasa  agak sembuh  dan mandi sebelum zuhur. 

Selepas itu, Rasulullah Saw.  pergi  ke Masjid Nabawi,  dipapah Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib dan ‘Ali  bin Abu  Thalib. Abu Bakar Al-Shiddiq kala itu sedang  menjadi  imam seperti  biasanya.  Ketika ia merasa beliau datang,  ia  bergerak untuk  memberi  tempat kepada beliau.  Namun,  beliau  menahannya untuk tetap berada di tempatnya. Beliau kemudian duduk di dekatnya.

Kemudian, pada  pagi  hari Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 11  H/8 Juni 632 M, Rasulullah Saw. merasa kesehatannya agak membaik. Namun,  pada  sore harinya,  kesehatan  beliau memburuk kembali. Akhirnya,  pada petang itu,  beliau berpulang kepada Yang Mengutusnya dalam usia 63 tahun. Jenazah beliau dimakamkan esok harinya, Selasa. Fadhl  bin Al-‘Abbas, ‘Ali bin Abu Thalib, dan Usamah bin Zaid yang memandikan jenazah suci  ini. Beliau lalu dimakamkan di dalam rumah  ‘A’isyah  binti Abu  Bakar  Al-Shiddiq, yang kini merupakan  bagian  dari  Masjid Nabawi, tempat beliau mengembuskan napas terakhir. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Demikian itulah catatan ringkas kisah perjalanan naik haji yang dilaksanakan Rasulullah Saw. Kisah perjalanan. itu sendiri menunjukkan, dalam pelaksanaan ibadah haji tersebut ada beberapa pelurusan atas ibadah haji yang juga dilaksanakan pada masa sebelum Islam hadir. Pelurusan tersebut adalah jika pada sebelum Islam wukuf dilaksanakan di Muzdalifah, kini wukuf dilaksanakan di ‘Arafah. Selain itu, jika pada masa Islam para jamaah haji, setelah berwukuf di Muzdalifah, meninggalkan tempat tersebut sebelum matahari terbenam dan tidak meninggalkan Muzdalifah kecuali selepas matahari terbit, kini Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kaum Muslim untuk berwukuf di ‘Arafah dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali selepas matahari terbenam serta meninggalkan Muzdalifah sebelum matahari terbit.  

Kiranya kita dapat meneladani ibadah haji yang dilaksanakan Nabi Saw. Allâhumma âmîn!