Opini

Nadiem, Ada Tepuk Tangan Pramuka Kafir, Kebencian Ditanam Sejak Kecil

Oleh: Ninoy Karundeng

MENYEDIHKAN! Nadiem Makarim, Mendikbud mileneal mendapatkan tantangan nyata. Pendidikan Indonesia yang amburadul sejak usia dini sampai universitas. Masalah yang membuat anak-anak Indonesia bebal adalah pengajaran dan pemberian materi pendidikan yang tidak relevan dengan pengembangan SDM. Salah science dipinggirkan, dibuang dan didominasi sentimen keagamaan. Menyedihkan.

Saya baru kemarin, Minggu (12/1/2020) bicara di Hotel Ibis Harmoni Jakarta. Tentang alasan saya berjuang melawan radikalisme anti Pancasila, intoleransi, segregasi dan terorisme. Pemikiran yang menjadi benar ketika muncul di media sosial Tepuk Tangan Pramuka Kafir dari SDN Timuran Kota Yogyakarta. Edan bener. Islam Islam Yes, Kafir Kafir No! So sad, guys…

Alasan pertama, dalam sisa seluruh hidup saya, saya ingin melihat warga minoritas tetap bisa beribadah, para pekerja hotel, pedagang, pegawai kantor masih bisa mengenakan pakaian selain daster Arabia, dan masih bisa melihat Candi Borobudur berdiri di tengah ratusan ribu gereja, masjid, pura, kuil, dan klenteng.

Kedua, saya menyebutkan maraknya radikalisme dan intoleransi sejak usia PAUD. Ketiga, sistem pendidikan yang tidak mengajarkan akal budi, kemanusiaan, kebenaran hakikat agama yang sebenarnya.

Maka, ketika kemarin malam (Minggu, 12/1/2020) saya mendapati video yang viral dari Yogyakarta, saya ingat kata-kata saya siang hari sebelumnya. Video Tepuk Tangan Pramuka Kafir itu membuat saya terluka. Duka mendalam.

Saya menjadi pesimis kelak, anak-anak atau cucu saya mungkin tidak akan lagi melihat gereja, kuil, klenteng, Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Muara Takus, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Jago, Pura Rawamangun, Pura Jagad, Klenteng Sam Poo Kong, bahkan masjid dan mushala ketika radikalis seperti eks HTI dan teroris yang berpaham takfiri menang. Kehancuran ala Mosul, Raqqaa, Idlib, dan Syria.

Saya juga pesimis kelak anak-cucu saya masih bisa melihat baju kebaya, blangkon, kopiah hitam, rok mini, celana panjang, bikini, baju renang, dan bahkan pantai akan ditutup. Semua bahan pakaian akan berubah menjadi satu warna hitam. Tanpa model, selain daster dan celana cingkrang warna hitam. Sehitam jiwa yang gersang jauh dari warna-warni kehidupan yang sunnatullah, melawan kehendak alam dan Allah SWT.

Saya juga pesimis anak-cucu saya, anak cucu tetangga saya, masih bisa makan nasi kenduri, lemper, tahu, tempe, babi panggang, daging ular, sweeke alias kodok hijau, tape, wine, nasi padang, the, kopi, karena diganti dengan makanan seperti kibuli, kabsa, albalad, mandhi, shahi adni, shahi rabee, marak alham, roti maryam, shawarma alham, mushaqah lahm, yang asing nama dan rasanya.

Saya juga pesimis anak cucu saya masih pakai hand-phone dan mobil, yang haram karena produk kafir. Handhone diganti dengan doa dan telepati. Mobil diganti dengan onta, sapi, dan kuda. Pesawat terbang diganti dengan kapal atau perahu layar. Listrik diganti dengan obor minyak jarak. Untuk menghindari teknologi dan produk kafir. Beneran bisa? Hehehe.

Kemenangan Jokowi-Amin, digandengnya Ma’ruf Amin, diangkatnya Nadiem Makarim, dinaikkannya Mahfud MD, dijabatnya Menag oleh Fachrur Razi, ternyata masih saja menghasilkan kadal gurun dari Yogyakarta. Kali ini kadal gurun itu berwujud Pembina Pramuka untuk anak-anak keciiiiiiil sekali yang diajari kebencian. Video dan Pembina Pramuka itu hendaknya ditangkap oleh Polri, agar tidak menjadi contoh kepongahan paham agama.

Gerakan ajakan membenci perbedaan dan intoleransi semakin menjadi karena dibiarkannya video seperti dulu, bunuh Ahok. Kini Indonesia sedang memetik ajaran intoleransi dalam bentuk tepuk tangan pramuka kafir. Karena pembiaran.

Pesimisme yang menemukan kebenarannya hanya beberapa jam setelah saya berbicara di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta.

Duh! Duh! Indonesiaku!

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close