Opini

Mutiara Hikmah: Nasihat Bahlul “Al-Majnun” kepada Harun Al-Rasyid

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“TAHUN ini, aku akan berangkat ke Makkah. Untuk menjadi Amîr Al-Hajj bagi para jamaah haji.”

Demikian titah Harun Al-Rasyid kepada seorang pejabat tinggi. Hari itu.

Lembaran sejarah Islam menorehkan, penguasa ke-5 Dinasti ‘Abbasiyah di Irak itu kondang namanya karena perannya di berbagai bidang itu. Penguasa yang satu itu, memang, dapat dikatakan sebagai penguasa yang paling kerap memimpin para jamaah haji.

Selama menjadi penguasa, ia naik haji enam atau sembilan kali. Dengan naik kafilah unta antara Baghdad Madinah Al-Salam-Makkah. Yang berjarak sekitar 2.000 kilometer. Perjalanan terakhir kali ia laksanakan pada 188 H/804 M.

Ketika Harun Al-Rasyid melaksanakan ibadah haji pada 173 H/790 M, ia disertai permaisurinya yang terkenal cerdas, cantik, dan dermawan, Zubaidah binti Ja‘far bin Abu Ja‘far Al-Manshur.

Tidak kalah dermawan dengan sang suami, perempuan berdarah biru itu memerintahkan pembangunan saluran air minum di seputar Makkah, sepuluh tempat peristirahatan jamaah haji antara Bagdad dan Makkah, dan tiga tempat pemberhentian yang dilengkapi sarana minum.

Sejak itu, rute antara Baghdad-Makkah itu disebut Darb Zubaidah yang berarti “Rute Zubaidah”. Rute itu sendiri, kala itu, terdiri dari 54 tempat pemberhentian. Lengkap dengan sarana minum, berbagai penanda, dan tempat menginap.

Tempat pemberangkatan utama kafilah Baghdad adalah Kota Kufah. Dari kota yang pertama kali didirikan kaum Muslim itu, para jamaah kemudian bergerak menuju Madinah. Melewati kawasan Najd. Dengan melintasi Faidh di sebelah selatan Hail.

Setiba di sebelah timur Madinah, kafilah (yang sebelum abad ke-19 M terdiri antara 5.000 hingga 8.000 orang dan selepas abad ke-19 M berjumlah sekitar 10.000 orang) itu lantas beristirahat di Al-Rabadhah, sekitar 200 kilometer di sebelah timur laut Kota Nabi itu.

Sedangkan kafilah kedua, yang jumlah jamaahnya lebih sedikit, sebagian besar terdiri dari para jamaah Iran dan para jamaah yang tak ingin bertolak dari Kufah, bertolak dari Bashrah dengan melewati Al-Hasa. Selepas melintasi Dir‘iyyah, kafilah kedua itu akan bertemu dengan kafilah pertama di Dzat ‘Irq.

Begitu tiba di Kufah, Irak dalam perjalanan untuk menunaikan ibadah haji di Makkah Al-Mukarramah tahun itu, Harun Al-Rasyid pun berusaha mengenal lebih jauh tentang kota itu dan penduduknya.

Kota yang sedang dikunjungi oleh penguasa yang tampan dan ahli strategi itu adalah kota kedua yang dibangun kaum Muslim. Setelah Bashrah.

Kota itu dibangun Sa’ad bin Abu Waqqash, seorang sahabat, pada 18 H/635 M di sebelah barat Sungai Eufrat dan dekat Kota Herat kuno dengan tata kota yang mirip Bashrah. Bangunan kota ini, kala itu, dibuat dari kayu.

Tidak aneh bila kota ini segera dilahap “si Jago Merah”. Karena itu, Sa‘ad bin Abu Waqqash pun meminta izin kepada ‘Umar bin Al-Khaththab untuk membangun kembali kota ini.

Dengan bahan dari tanah dicampur susu. Selepas izin keluar, dibangunlah kota baru yang berbentuk persegi. Bangunan yang pertama-tama dibangun adalah masjid raya kota ini.

Pada abad ke-1 H/7 M, kota ini memainkan peran politik yang penting dalam sejarah Islam. Terutama selepas ‘Ali bin Abu Thalib menjabat sebagai penguasa dan memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke kota ini. Selain itu, warga kota ini memiliki peran khusus yang membuat terjadinya Peristiwa Karbala’ yang tragis dan menewaskan Al-Husain bin ‘Ali bersama 70 orang keluarga dan sahabatnya.

Namun, pada abad berikutnya, kota ini segera terpinggirkan perannya, akibat berdirinya Baghdad Madinah Al-Salam dan meluasnya kawasan yang berada di bawah naungan Dinasti ‘Abbasiyah.

Nah, selepas beberapa hari berada di kota yang dalam bidang ilmu pengetahuan kala itu dapat dikatakan hampir setara dengan Madinah itu, Harun Al-Rasyid dan rombongan hari itu bergerak menuju Makkah Al-Mukarramah. Dengan dielu-elukan oleh warga kota itu. Yang berdiri di sepanjang jalan.

Begitu rombongan itu bergerak, seorang pria yang oleh sebagian warga kota itu dipandang kurang waras dan dikenal dengan nama Bahlul “Al-Majnûn” mendekati sang penguasa. Yang berada di atas kendaraan.

Bahlul mendapat sebutan “Al-Majnûn”, alias “si Orang Gila”, karena terkenal sebagai pemabuk cinta: ia senantiasa bercakap-cakap sendirian. Tanpa juntrung. Padahal, sejatinya, ia sedang “kencan”, alias jadzab, dengan Kekasihnya. Siang dan malam. Seolah ia sedang jatuh cinta kepada seorang cewek cantik jelita nan imut dan cewek itu telah mencuri hatinya. Seluruh jiwa dan raganya.

“Ohoi, Amirul Mukminin!” seru Bahlul. Sangat lantang. Ketika kendaraan sang penguasa telah dekat dengan dirinya. “Janganlah kau jadi penguasa yang sombong!”

Mendengar seruan lantang itu, Harun Al-Rasyid pun membuka tirai kendaraan yang ia naiki. Dan, begitu melihat Bahlul Al-Majnun, Al-Rasyid pun menjawab seraya tersenyum, “Ada apa, Bahlul?”

Harun Al-Rasyid sejatinya tahu, berdasarkan laporan yang ia terima, sejatinya Bahlul, yang bernama lengkap Abu Wuhaib Bahlul bin ‘Amr Al-Shairafi, bukan “si Orang Gila”. Tetapi, ia adalah seorang sastrawan yang sangat pintar dan suka bertindak “nyleneh”.

“Amir Al-Mukminin!” sahut Bahlul Al-Majnun. “Tahukah kau, ketika Rasulullah Saw. naik haji dan meninggalkan Padang ‘Arafah, dengan mengendarai unta putih kemerahan, perjalanan beliau tidak disertai pukulan dan pengusiran khalayak ramai. Juga, tiada ucapan selamat jalan kepada beliau seperti perjalananmu ini. Karena itu, Amir Al-Mukminin, selama dalam perjalananmu ini, merendah diri lebih baik bagimu ketimbang menyombongkan diri. Apalagi menunjukkan keperkasaan dirimu. Seperti saat ini. Benar-benar memalukan!”

“Bahlul,” sahut Harun Al-Rasyid. Penuh suka cita karena menerima nasihat yang demikian itu. “Tambahkanlah nasihatmu kepada kami. Kiranya Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu.”

“Amir Al-Mukminin!” seru Bahlul. “Orang yang dikaruniai harta dan ketampanan, lalu ia membelanjakan sebagian hartanya di jalan Allah Swt. dan memelihara dirinya dari perbuatan buruk, tentu ia akan ditorehkan dalam catatan Allah Swt. dengan torehan nan indah: bersama orang-orang yang berperilaku baik. Ya, bersama orang-orang baik!”

“Terima kasih atas nasihatmu, Bahlul!”

Sang penguasa kemudian memerintahkan agar Bahlul Al-Majnun diberi hadiah. Mendengar perintah demikian, Bahlul pun kembali berseru. Sangat lantang. “Amir Al-Mukminin! Kembalikan hadiah ini! Kepada orang-orang yang harta itu engkau peroleh darinya!”

“Bahlul. Barang kali kau punya utang yang dapat kami lunasi.”

“Amir Al-Mukminin! Para ulama Kufah seiring pendapat, utang tidak boleh dibayar dengan utang. Dengarkan, utang tak boleh dibayar dengan utang!”

“Bahlul. Barang kali ada keperluan yang dapat kupenuhi?”

“Amir Al-Mukminin! Aku dan kau dalam tanggungan Allah Swt. Karena itu, mustahil Dia ingat kau dan melupakan aku. Lihat, aku telah dikaruniai usia sekian tanpa pernah kekurangan karunia-Nya. Karena itu, ambillah uang itu. Aku tidak memerlukan semua itu!”

“Bahlul. Uang ini tidak kurang dari 1.000 dinar, lo!”

“Amirul Mukminin! Kembalikan uang itu kepada para pemiliknya. Itu lebih baik bagimu. Aku sendiri tidak tahu, untuk apa uang itu. Berlalulah kau dari hadapanku. Cepat kau berlalu. Kau membuat hatiku sedih dan perih!”

Mendengar ucapan Bahlul yang demikian itu, Harun Al-Rasyid pun tidak kuasa berucap lebih lanjut. Maka, ia pun memerintahkan agar rombongan itu berangkat menuju Makkah Al-Mukarramah.

“Merendah diri lebih baik bagimu ketimbang menyombongkan diri!” Betapa indah nasihat si Bahlul. Kiranya kita kuasa melaksanakan nasihat indah tokoh yang nyleneh itu.

[email protected]

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close