Opini

Mutiara Hikmah: Mummi Ramses II dan Kisah Ringkas Kota Kairo

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“USTADZ! Saya mau pergi ke Kairo. Bisakah Ustadz berkisah, di manakah kini mummi Fir’aun yang dituturkan dalam Al-Quran. Juga, tentang Kota Kairo.”

Demikian ucap seorang sahabat kepada saya. Beberapa waktu yang lalu. Mendengar permintaan demikian, tiba-tiba rindu saya pada kota yang pernah menerima saya sebagai warganya, selama sekitar enam tahun, pun membuncah. Dan, ketika teringat Kota Kairo tersebut, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke Medan El Tahrir (dalam bahasa Arab disebut Maidan Al-Tahrir, alias Lapangan Pembebasan). Lapangan yang terletak di epicentrum Kota Kairo, Mesir ini, pada 2011, pernah menjadi pusat gerakan anti-pemerintahan Presiden Hosni Mubarak yang berkuasa sejak 6 Oktober 1981. Medan, atau lapangan, yang satu ini dapat disejajarkan dengan kawasan Monas di Jakarta, Champs Élysées di Paris, atau Times Square di New York.

Sejarah Medan El Tahrir sendiri bermula sejak abad ke-13 M. Namun, bentuknya yang ada seperti dewasa ini mulai terbentuk pada abad ke-19: ketika seorang Mubarak lain, tepatnya ‘Ali Mubarak, seorang Menteri Pekerjaaan Umum kala itu (1860-1870), diperintahkan penguasa Mesir kala itu untuk merancang ulang Kota Kairo. Nama yang diberikan bagi medan atau lapangan ini adalah Medan Isma’iliyah. Nama Medan El Tahrir baru dipakai selepas terjadinya Revolusi Juli 1952 di bawah pimpinan Kolonel Gamal Abdel Nasser.

Bangunan yang paling “berharga” di kawasan ini adalah sebuah museum. Yaitu, sebuah museum yang menyimpan “harta karun” Mesir sejak sekitar 5.000 tahun yang silam: Museum Nasional Mesir. Tak aneh, bila dalam pergolakan di Mesir pada 2011 itu, ada orang-orang yang tak bertanggung jawab yang berusaha “mengincar” dan menjarah harta karun yang tersimpan di museum yang satu itu.

Kini, bagaimanakah “kisah” Museum Mesir tersebut. Juga, apa koleksi-koleksinya?

Sejarah museum yang terletak di samping Mîdân Al-Tahrîr (Tahrir Square) itu bermula pada 1835. Kala itu, museum itu menempati sebuah gedung di dekat Taman Ezbekiyah, ‘Atabah. Namun, segera gedung itu tak mampu menampung semua koleksi yang dimiliki museum itu. Karena itu, lokasi museum pun, pada 1858, di pindahkan ke Bulaq, menempati sebuah gedung yang dirancang seorang arsitek Perancis dan dibangun di tepi Sungai Nil. Namun, karena gedung itu kerap dihajar banjir, museum pun dipindahkan ke Istana Isma‘il Pasya di Giza. Baru pada 1902, museum itu menempati sebuah gedung yang tegak dengan gagahnya di samping Medan El Tahrir dan bertahan hingga kini.

Salah satu museum terbesar di dunia ini sendiri menyimpan koleksi terbesar dan paling berharga berupa artefak-artefak dari zaman Mesir Kuno. Paling tidak ada sekitar 136.000 item yang telah dikatalogkan. Juga, barang-barang lainnya yang diatur secara kronologis menjadi tujuh seksi. Nah, bila kita memasuki lantai pertama museum itu, dengan mengikuti putaran jam, pertama-tama Anda dapat menyaksikan berbagai pusaka historis Mesir Kuno, dari “Old Kingdom”, “Middle Kingdom”, “New Kingdom” hingga Kekaisaran Romawi. Sementara di lantai dua museum disajikan sederet koleksi dari masa pra-sejarah dan dinasti-dinasti awal Mesir. Di lantai itu bisa didapatkan pula beberapa koleksi berupa makam. Termasuk makam Tutankhamun yang berlapis emas. Di makam itu sendiri terdapat lukisan kemilau yang menggambarkan mummi suami Ankhesenamun itu dijaga empat dewi: Nephthys, Isis, Selkis, dan Neith. Ankhesenamun sendiri adalah puteri pasangan suami-isteri Akhenaten dan Nefertiti.

Kini, kita naik ke lantai dua museum ini. Di lantai ini terdapat kereta-kereta perang, singgasana dan sarkofagus (keranda), patung-patung, perhiasan-perhiasan emas, topeng emas, senjata-senjata emas dan banyak lagi. Nah, bila Anda ingin melihat mummi-mummi para fir‘aun, Anda bisa melihat mummi-mummi mereka di ruangan khusus untuk mummi (Royal Mummy Room). Di ruangan itu, sejumlah mummi dipamerkan dalam kotak-kotak bebas oksigen. Termasuk mummi Ramses II, seorang fir’aun yang kisahnya disajikan dalam Al-Quran. Untuk masuk ke dalam ruangan ini, kita dikenakan bayaran.

Di depan Museum Mesir itulah Medan El Tahrir berada. Sedangkan di samping kanan medan itu berdiri dengan megahnya The Nile Ritz-Carlton Hotel. Di samping hotel itu sendiri tegak markas besar Liga Arab. Kemudian, di seberang Kasr El-Nile St., tegak El-Tahrir Palace yang menjadi markas besar Kementerian Luar Negeri Mesir, seperti gedung Pejambon di Jakarta. Tak jauh dari El-Tahrir Palace, tegak Masjid ‘Umar Makram yang dirancang seorang arsitek Italia, Mario Rossi, dan El-Mujamma‘ Administrative Complex. Ketika seorang tokoh Mesir berpulang, biasanya, dari masjid itulah jenazahnya diberangkatkan menuju makam yang disiapkan untuknya. Contoh, ketika seorang penyanyi kondang Mesir, Ummu Kultsum, berpulang, jenazahnya diberangkatkan dari masjid tersebut.

Di samping kanan gedung El-Mujamma‘ Administrative Complek, gedung American University in Cairo tegak. Gedung universitas yang satu itu semula adalah Istana Khairi Pasya yang didirikan pada 1276 H/1860 M. Universitas itu sendiri mulai beroperasi pada 1337 H/1919 M. Namun, sejak 1429 H/2008 M, program undergraduate dan graduate dialihkan ke sebuah pemukiman baru, New Cairo, yang terletak tak jauh dari Cairo International Airport, berdampingan dengan Distrik Nasr City. Tak jauh dari gedung universitas itu terdapat stasiun metro: stasiun Sadat. Tak jauh pula dari universitas itu, di sebelah timurnya, ada sebuah jalan: Bab El-Louq. Nah, pada tahun-tahun 1970-an dan 1980-an, di jalan di kawasan elite dan strategis itulah terdapat markas besar Persatuan Pelajar Indonesia, tempat mangkal para mahasiswa Indonesia di Kairo kala itu.

Kota Kairo, hingga kini, dapat dikatakan merupakan salah satu kota di dunia yang mengalami peningkatan jumlah penduduk yang begitu cepat. Pada abad ke-18 M, penduduk kota itu hanya sekitar 245.000 orang. Kemudian, pada 1929, jumlah penduduk kota itu mencapai 1.070.000 orang. Lantas, pada 1960 M, jumlah penduduknya telah naik menjadi sekitar tiga setengah juta orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlah itu telah mencapai sekitar lima juta orang. Dan kini, penduduk kota itu telah meroket menjadi sekitar delapan belas juta orang. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar, tak aneh bila jalan-jalan di berbagai penjuru Kota Kairo senantiasa disergap kemacetan.

Tak jauh dari Medan El Tahrir, ke arah Medan ‘Atabah, di situlah downtown Kota Kairo yang sejak semula dirancang seperti halnya rancangan Kota Paris. Anda seorang pemburu buku, nah di downtown itu terdapat sederet toko buku. Dengan berbagai ragam “aliran” yang hidup di Kairo. Masing-masing toko mewakili “aliran” yang didukung pemilik toko buku itu.

Sejarah mencatat, sekitar seribu tahun yang lalu, ketika Kota Kairo belum lama berdiri, posisi Sungai Nil lebih jauh ke timur ketimbang posisinya kini. Dari Benteng Babilonia di Mesir Lama (Old Cairo atau Misr Al-Qadîmah), sungai terpanjang kedua di dunia itu memotong diagonal ke arah utara. Karena itu, sekitar satu kilometer di sebelah barat Masjid Al-Azhar, bukan sekitar tiga kilometer seperti kini, pusat Kota Kairo kala itu masih merupakan kawasan yang penuh dengan genangan air. Kemudian, dengan berjalannya waktu, posisi Sungai Nil kian beralih ke arah barat. Kawasan yang semula penuh genangan air itu pun mengering. Walau begitu, kawasan itu masih tak berpenghuni.

Nah, ketika Muhammad ‘Ali (1182-1265 H/1769-1849 M), penguasa Mesir berdarah Albania yang perintis pendidikan menurut sistem Barat di Mesir, naik ke pentas kekuasaan, ia pada 1845 memerintahkan pengembangan Kota Kairo. Dalam pengembangan itu, Musky St. diperlebar dan diperpanjang ke arah timur hingga Khan Al-Khalili. Selain itu, ia juga membikin Qal‘ah St. yang menuju Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi dan sederet jalan yang berpusat di sebuah medan yang kini disebut Medan ‘Atabah (Mîdân ‘Atabah atau ‘Atabah Square).

Pengembangan pusat Kota Kairo, menurut Michael Haag dalam karyanya Cairo Illustrated, kian “bergelora” ketika berada di bawah pemerintahan Khedive Isma‘il Pasya. Khedive yang satu itu menginginkan Kota Kairo laksana Kota Paris, Perancis, yang ia kunjungi pada 1867. Dalam kunjungan itu, ia terpesona dengan keindahan Kota Cahaya yang dirancang Baron Georges-Eugène Haussmann antara 1852-1879: dihiasi boulevard-boulevard lebar, taman-taman indah, dan pusat-pusat belanja nyaman. Ingin membuat Kairo laiknya Paris, Khedive Isma‘il Pasya pun segera memerintahkan ‘Ali Mubarak, kala itu menjabat Menteri Pekerjaan Umum, untuk membangun pusat baru Kota Kairo di dekat dan sepanjang Sungai Nil.

Dua tahun selepas peresmian Terusan Suez pada 1869 M, ‘Ali Mubarak telah usai membangun cikal bakal Kairo modern di seputar Ezbekiyah yang sebelumnya merupakan danau. Lokasi itu diubah sepenuhnya, oleh seorang arsitek Perancis yang merancang Taman Bois de Boulogne di Perancis, menjadi sebuah taman indah. Di dekat taman itu dibangun pula sebuah gedung opera yang mengikuti model Gedung Opera “La Scala” di Milan, Italia, salah satu gedung opera paling terkenal di dunia kala itu. Selain itu, di antara Ezbekiyah dan Sungai Nil, dibangun pula sederet medan (square): Medan Musthafa Kamel, Medan ‘Urabi, Medan Tala‘at Harb, Medan Lazughli, dan Medan Al-Tahrir. Dan, segera, pada akhir abad ke-19, Kota Kairo terbelah menjadi dua kawasan, baru dan lama: berdampingan tapi berseberangan secara kultural maupun perkembangannya. Bagian timur Kota Seribu Menara itu tetap “memendam” berbagai karakter budaya lamanya: budaya Islam. Karena itu, bagian ini disebut dengan Kawasan Islam. Di kawasan inilah terdapat Masjid Al-Azhar yang kondang, Masjid Al-Husain bin Ali, masjid di mana konon jenazah cucu Rasulullah Saw. itu dikebumikan, dan Khan Khalili: pusat kerajinan tangan Mesir. Sedangkan di bagian barat kota kini muncul sebuah kota kosmopolitan yang dihuni penduduk dari berbagai penjuru dunia: Yunani, Italia, Armenia, Inggris, Perancis, Swiss, Yahudi, Suriah-Lebanon, dan lain-lainnya.

Itulah kisah ringkas mummi Ramses II dan Kota Kairo. Untuk kisah selanjutnya, silakan Anda berkunjung ke ibu kota Mesir itu!

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close