Opini

Mutiara Hikmah: Dua Pengalaman Hidup Menawan “Burung Merak Para Ulama”

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“APA yang terjadi pada diri ayah?”

Demikian tanya seorang remaja kepada ayahnya. Suatu sore. Kala itu, remaja itu melihat wajah ayahnya tampak sangat sedih. Malah, ia melihat kemilau air mata meleleh pelan dari dua mata ayahnya.

Abu Al-Qasim Al-Junaid bin Muhammad Al-Khazzaz Al-Nihawandi, itulah nama lengkap remaja itu ketika kelak ia menjadi seorang Tuan Guru kondang. Al-Junaid, demikianlah panggilannya kala masih remaja. Kelak, ketika dewasa, putera seorang pedagang pecah belah yang berdarah Persia itu menjadi seorang Tuan Guru kondang. Di Baghdad Madinah Al-Salam. Malah, remaja yang hidup pada abad ke-3 H/9 M itu kelak mendapat gelar “Burung Merak Para Ulama” (Thâwus Al-‘Ulamâ’) dan “Guru Kelompok Sufi” (Syaikh Al-Thâ’ifah).

“Nak. Tadi, aku ingin sekali bersedekah kepada Sari (Al-Saqathi, seorang Tuan Guru kondang di Baghdad Madinah Al-Salam), pamanmu. Namun, pamanmu menolak sedekahku itu. Padahal, kau tahu, saat ini hidup pamanmu itu serba terbatas dan kekurangan,” jawab sang ayah.

Dengan suara lirih. “Aku menangis, karena seumur hidupku baru saat ini aku mampu mengumpulkan uang. Itu pun hanya sejumlah lima dirham. Namun, ternyata sedekahku itu tidak pantas diterima oleh salah seorang sahabat Allah Swt.: pamanmu itu. Aku tahu, Sari adalah seorang Tuan Guru. Demikianlah ceritanya.”

Mendengar jawaban ayahnya yang demikian itu, remaja yang murid seorang Tuan Guru kondang kala itu, Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi, sejenak tercenung. Tidak lama kemudian, ia berucap kepada ayahnya, “Ayah. Berikanlah uang lima dirham itu kepadaku. Biar aku yang memberikannya kepada Paman. Dengan cara demikian ini, insya Allah Paman akan menerima sedekah ayah.”

Seiring dengan pendapat Al-Junaid, uang lima dirham itu lantas diserahkan oleh sang ayah kepada puteranya itu. Kemudian, berangkatlah Al-Junaid ke tempat kediaman Sari Al-Saqathi. Setiba di tempat kediaman sang paman, Al-Junaid lantas mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

“Siapakah itu?” terdengar sahutan dari dalam rumah.

“Al-Junaid, Paman Sari,” jawab Al-Junaid. “Bolehkah aku menemui Paman?”

“Kau tetap berdiri di situ. Ada maksud apa kedatanganmu ke sini? Apa ada kaitannya dengan sedekah dari ayahmu?” sahut sang paman. Tanpa menyilakan Al-Junaid masuk ke dalam rumah.

Sejenak Al-Junaid tertegun, karena tidak dipersilakan masuk ke dalam rumah. Selepas berpikir sejenak, ia lantas berucap dengan hormat kepada saudara lelaki ibunya itu, “Paman. Terimalah sedekah dari ayahku.”

“Tidak, Al-Junaid. Aku tidak akan menerima sedekah dari ayahmu itu,” sahut Sari Al-Saqathi.

“Paman. Demi Allah yang telah sedemikian baik kepadamu dan sedemikian adil kepada ayahku, aku meminta kepada Paman untuk menerima sedekah ayahku. Ini, sedekah ayahku aku bawa,” ucap Al-Junaid. Dengan nada suara ramah dan santun.

“Al-Junaid. Bagaimana Allah telah sedemikian baik kepadaku dan sedemikian adil kepada ayahmu?” tanya sang paman. Sambil memandangi wajah keponakannya itu. Penasaran.

“Paman,” jawab Al-Junaid. Tetap dengan nada suara ramah dan santun. “Allah telah berbuat baik kepadamu, karena Dia telah menganugerahkan kemiskinan kepadamu. Dan Dia telah berbuat adil kepada ayahku, karena Dia telah membuat ayahku sibuk dengan urusan duniawi. Engkau bebas untuk menerima atau menolak sedekah dari ayahku, yang aku bawa ini. Tetapi, ayahku, baik secara rela atau tidak, harus mengantarkan sebagian harta kekayaannya kepada pihak yang berhak menerima. Paman termasuk yang berhak menerimanya”

Mendengar jawaban keponakannya yang demikian itu, betapa senang Sari Al-Saqathi. Lalu, ucap Tuan Guru itu, “Nak. Sebelum menerima sedekah itu, aku telah menerima dirimu.”

Usai berucap demikian, Sari Al-Saqathi lantas membukakan pintu bagi Al-Junaid dan menerima sedekah itu. Dan, untuk Al-Junaid, ia sediakan tempat yang khusus dalam kalbunya.

Kemudian, dengan bergulirnya waktu, akhirnya Al-Junaid pun menjadi seorang Tuan Guru kondang. Di Baghdad Madinah Al-Salam. Namanya tidak kalah kondang ketimbang pamannya, Sari Al-Saqathi. Lantas, suatu hari, ia diminta untuk memberikan ceramah. Di sebuah masjid.

Nah, hari itu, Al-Junaid pun berdiri di mimbar. Kemudian, ketika sedang berceramah, salah seorang jamaah berdiri dan mengemis di antara para jamaah lainnya. Melihat orang yang mengemis masih tampak sehat dan gagah, Al-Junaid sejenak menghentikan ceramahnya. Lantas, ia bergumam, “Orang itu kelihatannya cukup sehat. Semestinya, ia dapat mencari nafkah. Tetapi, mengapa ia mengemis dan menghinakan diri seperti itu?”

Malam harinya, ketika tidur, Al-Junaid bermimpi: di depannya tersaji makanan yang tertutup tudung. “Makanlah, Al-Junaid!” sebuah suara memerintah Al-Junaid. Ketika ia mengangkat tudung itu, terlihat olehnya si pengemis terkapar mati di atas piring.
“Aku tidak mau makan daging manusia!” seru Al-Junaid. Sangat ketakutan.

“Al-Junaid! Bukankah itu yang kau lakukan. Kemarin, ketika kau berceramah di dalam masjid?” sahut suara itu.

Segera, Al-Junaid menyadari, ia bersalah karena telah berbuat fitnah dalam hatinya. Karena itu, ia di hukum. Ia pun tersentak bangun dalam keadaan takut. Ia pun segera berwudhu dan melakukan shalat sunnah dua rakaat. Selepas itu, ia pergi keluar mencari si pengemis. Ia dapatkan si pengemis sedang berada di tepi Sungai Tigris, Baghdad. Si pengemis sedang memunguti sisa-sisa sayuran yang dicuci di situ dan memakannya. Melihat kedatangan Al-Junaid, si pengemis pun mengangkat kepalanya. Ia pun bertanya kepada Al-Junaid, “Al-Junaid! Sudahkah kau bertobat, karena telah berburuk sangka terhadap aku?”

“Sudah,” jawab Al-Junaid. Sambil menundukkan kepala.

“Jika demikian, pergilah dari sini. Ingatlah selalu Dia Yang Menerima Tobat hamba-hamba-Nya. Dan, jagalah selalu pikiranmu,” ucap si pengemis.

Sebuah pelajaran indah bagi kita semua lewat kisah hidup Al-Junaid di atas: jangan memandang remeh kepada anak muda. Siapapun dia. Bisa saja, yang lebih muda memiliki kemampuan dan kelebihan dalam banyak hal ketimbang yang lebih tua. Juga, hendaklah kita tidak mudah berburuk sangka kepada orang lain. Siapapun dia!

Teladan yang indah bagi kita [email protected]

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close