MUI Sebut Haram Ibadah yang Berpotensi Tularkan Corona

MUI Sebut Haram Ibadah yang Berpotensi Tularkan Corona

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut bahwa ibadah yang dilakukan dapat membahayakan orang lain di masa pandemi ini, tak akan mendapat pahala, bahkan hukumnya haram. 

Hal ini disampaikan terkait datangnya bulan Ramadhan saat kaum muslimin berlomba-lomba meningkatkan ibadah.

Terutama, bagi penyintas COVID-19 baik dengan gejala maupun tidak, yang memaksakan diri untuk beribadah di fasilitas umum pada bulan Ramadhan.

"Bagi Saudara-saudara kita yang terpapar COVID-19, aktivitasnya dilaksanakan di tempat di mana dia dikarantina atau rumahnya agar tidak menularkan orang lain. Ini dalam prinsip, ya. Bahkan dalam batas tertentu, dia haram melakukan aktivitas ibadah yang berpotensi menularkan ke orang lain," kata Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Niam, Senin (12/4/2021).

"Kalau kita teledor bahkan mengabaikan keselamatan orang dengan aktivitas kita yang tidak disiplin, maka tentu itu dosa. Nah, bisa jadi kita puasa, tapi puasanya sia-sia. Ini seperti yang disinyalir Baginda Rasul SAW dalam salah satu hadisnya, betapa banyak orang yang puasa hanya dapat lapar dan dahaga, sementara dia tidak dapat yang lain," jelas Asrorun.

"(Tidak dapat) keutamaan, pahala, karena tidak peka terhadap urusan sosialnya, tidak peka terhadap keselamatan orang lain, tetap menghardik, tetap tidak taat kepada aturan yang sudah ditetapkan untuk kepentingan kemaslahatan. Itu menjadi komitmen kita yang tidak terpisahkan dari kesadaran keagamaan kita," imbuh dia.

Menurut Asrorun, setiap muslim harus menjaga ikhtiar kesehatan. Masih banyak ibadah yang bisa diutamakan tanpa harus berpotensi menularkan virus corona, seperti zakat fitrah, mal, membayar fidyah, dan sedekah.

"Zakat fitrah sebagai kewajiban tiap muslim, biasanya umat Islam menyelenggarakannya di akhir Ramadhan. Nah, ini bisa dilaksanakannya di awal Ramadhan untuk mengoptimalkan nilai manfaat zakat bagi kemaslahatan mustahik (orang yang berhak menerima zakat-Red), khususnya yang terdampak COVID-19," tutur Asrorun.

"Jangan sampai yang meningkat hanya ibadah mahdhah-nya. Ibadah ghairu mahdhah juga harus dilakukan secara optimal," katanya.