Mutiara Hikmah

Muhammad Saw. pun Menangis Perih di Abwa’

Muhammad Saw. pun Menangis Perih di Abwa’

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“YA RASUL. Betapa sedih engkau kala itu.” 

Entah kenapa, ungkapan sedih demikian, kemarin, tiba-tiba “meleleh pelan” dari bibir saya. Ya, gumam itu “meleleh pelan”, ketika saya sedang menyimak kembali perikehidupan Rasulullah Saw. “Bukankah dua hari lagi, 21 April ini, menurut kalender Masehi, merupakan tanggal kelahiran beliau di dunia ini,” gumam lebih lanjut bibir saya selepas lama menyimak kisah hidup beliau.

Menyadari hal tersebut, tiba-tiba benak saya “melayang-layang”. Jauh. Kali ini, benak saya tiba-tiba “melayang-layang” ke Abwa’, Arab Saudi. 

Lho, ada apa dengan Abwa’?

Di sebuah dusun di wilayah Rabigh, di sebelah selatan Madinah Al-Munawwarah, dengan koordinat geografi 23°6'15.181" LU, 39°3'3.894" BT, terdapat sebuah makam terkenal: Makam Aminah binti Wahb, ibu Nabi Muhammad Saw. Lokasi makam tersebut, dari arah jalan raya Madinah-Makkah, terletak menjelang Masjid Al-Syuyukh. Untuk menuju lokasi tersebut, dari Kota Nabi, dapat melintasi dua jalur. Jalur pertama, sejauh sekitar 222 kilometer, dari Madinah, adalah sebagai berikut: Madinah-Al-Mufrihat-Al-Siddarah-Bi’r Al-Rauha’-Al-Musaijid-Al-Wasith-Al-Barakah-Badar-Al-Nasha’if-Al-Abwa’. Sedangkan jalur kedua, sejauh sekitar 248 kilometer, adalah sebagai berikut: Madinah-Abyar  Al-Masyi-Al-Hinu-Al-Yutamah-Al-Faqir-Al-Madhiq-UmmAl-‘Iyal-Abu Dhiba‘-Umm Al-Birk-Al-Abwa’.

Ternyata, di dusun yang sunyi tersebut, di tengah-tengah gurun pasir antara Makkah-Makkah, Rasulullah Saw. pernah merasakan kejadian yang benar-benar sangat perih: kehilangan ibu tercintanya, Aminah binti Wahb. Bagaimana tidak perih: ketika beliau lahir, ayah beliau telah berpulang. Kemudian, selepas sekitar sebulan berada di pelukan sang ibu, beliau harus berpisah dengan ibu tercinta beliau. Enam tahun kemudian, barulah beliau kembali lagi ke pelukan sang ibu. Dan, selepas Rasulullah Saw. kembali ke pelukan sang ibu tercinta, apa yang terjadi kemudian? Mari kita simak catatan perjalanan hidup beliau berikut:

Pertama Kali Merasa sebagai Anak Yatim

Selepas beberapa tahun tinggal di lingkungan gurun pasir nan kerontang, bersama keluarga Halimah Al-Sa‘diyyah, Muhammad kecil pun pulang ke kota kelahirannya: Makkah. Untuk menjumpai ibu tercintanya yang senantiasa sangat merindukannya. Juga, sang kakek yang senantiasa memandang cucunya yang yatim itu sebagai pengganti putranya yang telah berpulang. Tentu, ibunya sangat bahagia menerima kembali putra tunggalnya itu. 

Tak lama selepas itu, sang ibu mengajak putra tersayang itu, disertai Ummu Aiman (seorang perempuan berkulit hitam legam yang menjadi asisten rumah tangga Aminah), berangkat meninggalkan Makkah dan menempuh perjalanan sekitar 430 kilometer ke Yatsrib. Untuk mengenalkan putranya tersebut dengan kaum kerabat ibu kakeknya. Juga, berziarah ke makam ayahnya, ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib, yang dimakamkan di sana.

Aminah binti Wahb bukannya tak tahu, betapa sulit dan beratnya perjalanan itu: mengarungi gurun pasir nan kerontang dengan pasir-pasirnya yang membatu. Juga, ia bukannya tak tahu berbagai kesulitan yang acap dialami mereka yang melintasi jantung gurun pasir. Dengan lembah-lembahnya nan sunyi dan tanah tandusnya yang menggetarkan hati. 

Namun, kerinduan Aminah binti Wahb untuk berkunjung ke Yatsrib dan berziarah ke makam suaminya sedemikian kuat. Sehingga, kerinduan itu kuasa menundukkan berbagai kesulitan yang sejatinya merupakan semacam siksaan. Ya, istri mana yang tak ingin mengetahui dan mengunjungi makam sang suami tercinta. Yang tak pernah ia kunjungi semenjak sang suami berpulang.

Setiba mereka di Yatsrib, kepada sang putra diperlihatkan rumah tempat ayahnya berpulang dulu serta tempat ia dikebumikan. Itu adalah pertama kalinya Muhammad belia merasakan sebagai anak yatim. Dan, barang kali, ibunya juga menceritakan dengan panjang lebar perihal sang ayah tercinta: yang selepas beberapa waktu tinggal bersama, kemudian berpulang di tengah-tengah keluarga pamannya dari pihak ibu. Selepas berhijrah ke Kota Suci itu, Rasulullah Saw. pernah menceritakan kepada para sahabat kisah perjalanannya yang pertama ke Yatsrib dengan ibunya itu. Kisah yang penuh cinta pada Yatsrib dan kisah yang penuh duka orang yang ditinggalkan keluarganya.

Sang ibu dan putranya itu tinggal di Yatsrib, di lingkungan sanak kerabat, sekitar satu bulan. Di kota itu, Muhammad kecil sempat memanfaatkan waktunya untuk belajar berenang. Dan, ketika mereka dalam perjalanan pulang dari Yatsrib menuju Makkah, ketika rombongan kecil itu berada di dekat Dusun Abwa’, tiba-tiba badai kencang menghajar rombongan yang sedang di tengah perjalanan itu dengan suhu udara yang tinggi membakar. Akibatnya, pasir-pasir di sekeliling mereka beterbangan laksana bunga api yang membara.

Perjalanan mereka jadinya terpaksa dihentikan selama beberapa hari: menanti redanya badai itu dan mengendap kembalinya pasir-pasir yang diterbangkannya. Akan tetapi, tak lama kemudian, Aminah merasa, daya tahan tubuh dan kondisi psikisnya runtuh. Kini, ia tak lagi kuasa lagi menghadapi beratnya perjalanan yang sangat meletihkan itu. Dan, ketika merasa perjalanan hidupnya di dunia yang fana ini akan usai, Bunga Quraisy yang masih muda usia itu pun mendoakan, dalam bentuk puisi, putranya yang ada di dekapannya:

Wahai putra seorang ayah yang telah tiada selamanya

Ayah yang selamat dari penyembelihan karena pertolongan Yang Mahabijaksana

Ditebus dengan penyembelihan seratus unta

Putraku, kiranya Allah memberkahimu, selamanya

Tak lama kemudian Aminah binti Wahb berpulang. Di usia muda. Ya, berpulang di usia muda. Dengan meninggalkan putranya hidup sebatangkara!

Pulang ke Makkah dengan Hati Pilu

Tak lama selepas itu, Ummu Aiman pun membungkus tubuh yang telah terbaring membujur itu, menutup wajah yang telah lesu itu, dan memejamkan kedua mata yang telah padam itu. Sedangkan Muhammad kecil hanya kuasa mengikuti pengasuhnya yang berkulit hitam sangat legam itu dengan menundukkan kepala dan pasrah, menghadapi kenyataan tentang kematian ibunya tercinta. Mereka kemudian membawa jenazah itu  menuju Abwa’. Untuk dikebumikan di tempat pembaringannya yang terakhir. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn!

Lengkaplah kini Muhammad sebagai anak yatim piatu. Tanpa ayah dan ibu yang membimbingnya dan mengasihinya. Muhammad kemudian dibawa  pulang  oleh  Ummu  Aiman,  yang kini menjadi “ibu pengganti” yang senantiasa menyertai Muhammad  hingga berpulang di usia 63 tahun kelak, ke  Makkah. Pulang  menangis. Dengan hati yang pilu dan kini hidup sebatang kara.

Muhammad kecil, sebagai anak yatim, kini kian merasa kehilangan. Terasa olehnya hidup yang kian sunyi,  kian  kelam, dan kian perih.  Baru  beberapa hari   yang   lalu  ia  mendengar  dari  sang ibu  keluhan  duka kehilangan ayahnya semasa ia masih dalam kandungan.  Kini,  ia melihat  sendiri  di hadapannya,  sang ibu pergi untuk tak kembali lagi. Seperti ayahnya dulu.  Tubuh  yang  masih  kecil  itu  kini mendapat cobaan dan ujian memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim piatu. Akibatnya, dampak kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu menggores dalam sekali di jiwanya. Sehingga, belakangan Alquran menuturkan kondisinya itu berikut pelajaran-pelajaran ruhaniah yang terkait dengan pengalaman hidup di gurun pasir:

 “Bukankah Dia mendapati engkau sebagai anak yatim, lantas Dia melindungi? Dan Dia mendapati engkau tak tahu jalan, lantas Ia memberi bimbingan? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Karena itu, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, tak menghardik orang yang minta-minta, dan  hendaklah engkau senantiasa bersyukur terhadap nikmat Tuhanmu.” (QS Al-Dhuhâ [93]: 6-11).

Betapa getir kisah hidup Muhammad belia. Kala baru berusia delapan tahun ia telah menjalani pengalaman getir tak berayah, kemiskinan, kesendirian, dan kematian ibu tercinta. Namun, di sepanjang perjalanan hidupnya ia senantiasa menemukan tanda-tanda takdir yang menemani  dan mempermudah perkembangan dan pendidikan dirinya. 

Pelajaran indah bagi kita semua: di balik kesulitan senantiasa terdapat kemudahan! Dan, hendaklah kita “senantiasa bersyukur terhadap nikmat Tuhan”. Seperti yang diingatkan dalam Alquran. Kiranya demikian!