Bisnis

Morgan Stanley Sebut IHSG Bisa ke 7.800 Tahun Depan

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat membukukan imbal hasil negatif 2,95% ke level 6.011,83 indeks poin sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan akhir November 2019.

Sejumlah analis pasar juga merevisi ke bawah target akhir tahun IHSG mempertimbangkan tekanan dari kondisi geopolitik global yang berdampak pada realisasi earning growth perusahaan di Indonesia lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Meskipun demikian, Morgan Stanley (MS), dalam riset terbarunya (1/12/2019) menyebutkan, earning growth perusahaan Indonesia periode 2020/2021 akan membaik dan mampu tumbuh berturut-turut sekitar 10,1% dan 9% secara tahunan.

Hal ini membuat bank investasi ternama asal Amerika Serikat (AS) tersebut tetap memberikan rekomendasi “overweight” pada indeks MSCI Indonesia dan memproyeksi IHSG dapat menyentuh level 7.800 di akhir tahun 2020. Rekomendasi overweight dan melesatnya kinerja IHSG senada dengan proyeksi JP Morgan.

Sebagai informasi, sebelumnya JP Morgan mengestimasi pada akhir tahun 2020, bursa saham utama Indonesia akan bangkit dan bahkan menyentuh level di atas 7.000 yakni di level 7.250.

Lebih lanjut, menurut MS pertumbuhan pendapatan perusahaan domestik mampu pulih karena ditopang oleh lingkungan sosial dan politik yang lebih stabil setelah pembentukan kabinet baru, sehingga aktifitas konsumsi masyarakat kembali meningkat dan pengusaha dapat menjalankan bisnisnya tanpa keresahan.

Selain itu, menteri-menteri baru yang terpilih diharapkan dapat membawa inisiatif atau ide-ide baru, terutama untuk mendukung usaha kecil dan menengah (UKM), serta transformasi kebijakan pendidikan.

Sementara itu, sejatinya terdapat, faktor-faktor lainnya yang berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan lebih pesat adalah reformasi kebijakan terkait sumber daya manusia (SDA), omnibus law, dan tenaga kerja.

Reformasi SDA yang dimaksud terkait rencana pemerintah yang akan mengalokasikan sekitar 40% anggaran belanja negara untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial.

Sedangkan omnibus law ditargetkan dapat menderegulasi kebijakan dan menyederhanakan peraturan yang tumpeng. Melalui omnibus law, pajak perusahaan dijadwalkan akan secara perlahan dipangkas yang diharapkan dapat mendorong ekspansi dunia usaha.

Lalu, reformasi tenaga kerja bertujuan untuk mengurangi hambatan pada sistem yang sedang berlaku saat ini.

Ketiga reformasi kebijakan tersebut mempunyai target untuk dapat menaikkan peringkat kemudahan berbisnis (ease of doing business) di Ibu Pertiwi menjadi peringkat ke-40 dalam waktu dekat, dari sebelumnya peringkat ke-73 di tahun ini.

Di lain pihak, MS meyakini bahwa dibutuhkan waktu bagi reformasi kebijakan tersebut untuk dapat membawa dampak positif pada aliran dana investor asing.

Oleh karena itu dalam waktu dekat, penopang pertumbuhan ekonomi lingkungan bisnis yang lebih kondusif, di mana ini dapat mengoptimalisasi UKM perusahaan swasta untuk melakukan ekspansi usaha. MS terutama meyakini industri perbankan akan berperan besar pada periode pemulihan tersebut, seiring dengan meningkatkan permintaan kredit.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close