Saham

Moody’s Klaim Bank RI Paling Rentan, Harga Saham Jatuh

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Harga saham emiten Bank BUKU IV kompak terjebak di zona merah pada perdagangan sesi II  (30/9/2019), dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan koreksi paling dalam.

Pada pukul 13:50 WIB kemarin tercatat harga saham BBNI anjlok 2,36%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI turun 1,44%, PT Bank CIMB Niaga Tbk/BNGA melemah 0,99%, PT Bank Pan Indonesia Tbk/PNBN terkoreksi 0,77%.

Lembaga pemeringkat utang global, Moody’s, dalam riset terbarunya hari ini menyampaikan bahwa resiko perbankan di kawasan Asia Pasifik akan meningkat seiring dengan melemahnya kemampuan pembayaran utang perusahaan. Penurunan pembayaran utang perusahaan turun karena pertumbuhan ekonomi yang lambat, meningkatnya tensi perang dagang dan geopolitik.

“Tingkat gagal bayar (default) perusahaan di Asia Pasifik sejauh ini rendah, dibantu oleh suku bunga yang rendah dan kondisi pendanaan yang menguntungkan. Namun, meningkatnya ketegangan perdagangan dan geopolitik membebani ekonomi global dan rantai pasokan, di tengah pertumbuhan ekonomi yang sudah melambat,” ujar Rebaca Tan, Asisten Wakil Presiden Moody’s.

Lebih lanjut, Moody’s juga menegaskan bahwa Indonesia dan India sangat rentan atas potensi penurunan kemampuan bayar utang perusahaan.

“Stress test Moody’s – yang mengasumsikan penurunan 25% dalam EBITDA – menunjukkan bank-bank di India dan Indonesia paling rentan terhadap penurunan kapasitas pembayaran utang perusahaan, diikuti oleh bank asal Singapura, Malaysia, dan China,” tambah Tan.

EBITDA (Earning Before Interest-Taxed-Depreciation-Amortization) adalah laba sebelum bunga, pajak, biaya depresiasi dan amortisasi. Untuk diketahui, hubungan dagang Negeri Paman Sam dan Negeri Tiongkok berpotensi merenggang setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghapus pencatatan (delisting) saham-saham perusahaan China yang melantai di Wall Street.

Gedung Putih juga dikabarkan mempertimbangkan membatasi bahkan memblokir semua jenis investasi AS di China, dilansir CNBC International.

“Ini adalah salah satu prioritas utama pemerintah. Perusahaan-perusahaan China tidak patuh terhadap aturan yang ditetapkan PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board) sehingga menimbulkan risiko bagi investor,” ucap salah seorang sumber.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close