Monas Bakal Punya Stasiun MRT Tenggelam yang Ikonis

Monas Bakal Punya Stasiun MRT Tenggelam yang Ikonis

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Proyek pembangunan MRT fase dua yang sudah berjalan sejak Juli 2020 layak ditunggu masyarakat.

Selain soal keseriusan dalam penanganan lingkungan dan cagar budaya, masyarakat juga bisa mencari tahu, seperti apa stasiun bawah tanah yang akan dibangun, khususnya di ring satu seperti stasiun Thamrin dan Monas.

Kawasan ini sangat penting karena berada tak jauh dari bangunan bersejarah dan strategis seperti Istana Negara, Bank Indonesia, Hotel Indonesia, maupun kawasan cagar budaya Monas.

Pembangunan fase dua ini ini akan menyambung Bundaran HI hingga Kota Tua. Untuk menyambung lokasi-lokasi antara kedua ujung pemberhentian tersebut tentu membutuhkan stasiun MRT.

Menurut Direktur Konstruksi MRT Silvia Halim, di lokasi yang sangat strategis ini pihaknya akan membangun dua stasiun, yakni stasiun Thamrin dan stasiun Monas.

Khusus stasiun Monas, salah satu pintu masuknya berada di dalam lapangan Monas itu sendiri. Bentuknya pun beda dari yang lain, namanya pintu masuk atau entrance tenggelam sebab dibangun di bawah tanah.

“Jadi itu kita sebut entrance yang tenggelam (sunken entrance). Sebab, di area pintu masuk ini tidak ada bangunan di atasnya, semuanya ada di bawah tanah. Jadi seolah tenggelam,” jelas Silvia dalam Forum Jurnalis MRT Agustus di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2020.

Sebaliknya, begitu penumpang keluar, mereka bisa langsung melihat Monas, bahkan sudah berada di dalam Monas. Rancangan pintu masuk stasiun Monas satu ini sengaja dibuat berbeda, sebab menyesuaikan dengan lokasinya yang berada di dalam lapangan Monas tersebut yang merupakan kawasan hijau.

Desain Stasiun yang Ikonis

“Niat kita adalah menjadikan stasiun Monas ini menjadi desain yang iconic. Maka, kami buat desain khusus untuk mempertimbangkan nilai sejarah dan nilai cagar budaya dari Monas itu sendiri,” ungkapnya.

Sedangkan pintu masuk stasiun Monas satunya lagi berada di Jalan Museum dekat Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dibangun serupa dengan rancangan pintu masuk stasiun MRT yang sudah ada. “Entrance yang satunya lagi berada di Jalan Museum,” tambahnya.

Silvia juga mengungkapkan semua stasiun berada di bawah tanah, dengan kedalaman 17-36 meter. Karena semua stasiun berada di bawah tanah, diharapkan pembangunannya tidak terlalu mengganggu lalu lintas di jalan raya.

Sementara itu, Direktur Utama MRT William Sabandar juga mengungkapkan, jika fase dua selesai dibangun pada 2025, masyarakat bisa menghemat waktu secara signifikan. “Jika biasanya Lebak Bulus-Kota ditempuh dalam waktu dua hingga dua setengah jam, nanti hanya perlu waktu 45 menit,” katanya.

Di dalam fase dua ini, pihak MRT juga menyediakan jalur pejalan kaki sepanjang 6,27 km, hampir 25 ribu meter persegi ruang terbuka hijau, dan hampir 30 ribu meter persegi ruang untuk pengusaha kecil dan menengah.