Mogok Jualan, Pedagang Daging Sapi Tunggu sampai Pengumuman Harga Baru

Mogok Jualan, Pedagang Daging Sapi Tunggu sampai Pengumuman Harga Baru
Ilustrasi pedagang daging sapi (ANTARA FOTO)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Para pedagang daging sapi di Jabodetabek akan mogok berjualan hingga Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengumumkan kebijakan terkait stabilitas harga daging ke publik.

Aksi mogok pedagang daging sapi berlangsung mulai hari ini, (20/1/2021).

Ketua DPP Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi mengatakan kebijakan Kemendag dalam rangka stabilisasi harga daging sapi tersebut sudah dihasilkan dalam rapat koordinasi antara pemerintah, pedagang, dan distributor daging sapi yang digelar di kantor kementerian pada Selasa (19/1) kemarin. 

Kementerian pun, kata Asnawi,menjanjikan publikasi kebijakan akan dilakukan pada siang ini.
 
"Sebelum Kemendag beri rilis ke publik, kami memilih tidak memotong karena takut bisa potong, tapi tidak bisa jual. Jadi kami putuskan bahwa jualan itu adalah pilihan, kami dagang kembali ketika pemerintah sudah sampaikan rilis atas kesepakatan bersama," ucap Asnawi kepada dikutip CNN Indonesia.

Lantaran publikasi baru dijadwalkan pada hari ini, aktivitas jualan daging sapi tetap mogok pada pagi ini. Begitu juga dengan aktivitas pemotongan yang biasanya dilakukan pada malam hari sebelumnya atau Selasa malam kemarin.

"Ketika malam tidak ada pemotongan, maka besok (hari ini) tidak ada penjualan," ujarnya.

Di sisi lain, Asnawi mengatakan hasil rapat yang dipimpin Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra juga tidak melarang pedagang untuk tidak berjualan. Sebab, itu sepenuhnya menjadi hak pedagang.

"Dirjen tidak bisa melarang dan tidak bisa mengiyakan, tapi itu pilihan pedagang. Dia tidak memaksa, tidak memperbolehkan, tapi kalau berdagang dia rugi, siapa yang mau nombok?" tuturnya.

Lebih lanjut, Asnawi mengatakan ada beberapa kesepakatan terkait stabilisasi harga daging sapi yang sudah disepakati antara pemerintah, pedagang, dan distributor. Pihak distributor sendiri diwakili oleh Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo).

Pertama, pemerintah menyampaikan harga daging sapi baru di tingkat pengecer sebesar Rp130 ribu per kilogram (kg). Ketetapan harga baru ini akan bertahan sampai dua bulan ke depan hingga jelang Ramadan.

Asnawi menuturkan harga ini merupakan angka yang tidak bisa ditawar atau diturunkan lagi karena kondisi distribusi dan ketersediaan stok terpengaruh oleh kondisi pandemi virus corona atau covid-19.

"Ini akan disampaikan oleh pihak pemerintah lewat Dirjen PDN Syailendra. Jadi kenaikan harga tidak bisa ditolerir, tidak bisa ditolak, tidak bisa dihindari lagi, suka tidak suka diterima karena anomali saat covid," tuturnya.

Kedua, pemerintah menjamin bahwa harga karkas daging sapi akan berada di bawah Rp100 ribu per kg ke depan. Patokan terendahnya kini berada di Rp94 ribu per kg dan tertinggi Rp95 ribu per kg dari distributor.

Sementara harga timbang sapi hidup di tingkat feedloter ditetapkan terendah sebesar Rp48.500 per kg dan tertinggi Rp49 ribu per kg. 

"Ini sudah tidak bisa dinego lagi, kami pedagang minta (harga karkas) di level Rp90 ribu, sapi hidup Rp45 ribu tertinggi, tapi dari Gapuspindo mengatakan itu sangat tidak mungkin, jadi tidak ada titik temu, dan kesepakatannya adalah posisi di bawah Rp100 ribu per kg," jelasnya.

Ketiga, pemerintah akan mengambil alternatif impor sapi siap potong dari Australia untuk menjamin harga karkas tetap berada di kisaran Rp95 ribu per kg. "Ini (impor) dalam waktu dekat, dua bulan ke depan," katanya.

Keempat, pemerintah juga akan mengimpor daging sapi siap potong dari Meksiko. Estimasinya sama, yaitu sekitar dua bulan ke depan.

"Untuk ketersediaan sapi siap potong jelang Lebaran," jelasnya.

Asnawi menyatakan ada beberapa hal yang membuat harga daging sapi meningkat dalam beberapa waktu terakhir sampai menyentuh Rp130 ribu per kg. Pertama, Australia sebagai negara produsen daging sapi sempat dilanda bencana banjir.

Kedua, dolar Australia sempat terkoreksi cukup dalam dari dolar AS. Hal ini selanjutnya mempengaruhi biaya produksi pangan mereka yang kemudian diserap oleh Indonesia.

"Itu berimbas ke pangan dunia, Australia negara produsen pangan," imbuhnya.

Ketiga, kebutuhan daging sapi meningkat dari China dan Vietnam yang juga memenuhi konsumsinya dari Australia. Hal ini mempengaruhi daya saing perolehan bahan pangan Indonesia dari negeri kangguru itu.

"Vietnam dan China kemarin ada masalah babi, karena babi bermasalah, protein hewani dari daging sapi (di China dan Vietnam)," jelasnya.

Keempat, ada keterbatasan stok sapi bakalan dan sapi siap potong. Kendati begitu, belum bisa diketahui secara pasti berapa stok daging sapi saat ini.

Namun, ia menduga stoknya tidak mencukupi kebutuhan konsumsi daging sapi yang besar di dalam negeri. Asnawi memberi gambaran, jumlah konsumsi normal di Jabodetabek ditambah Bandung Raya mencapai 1.600 ekor sampai 1.800 ekor sapi.

"Saat ini ada penurunan 60 persen," ucapnya.

Bila diestimasi dari stok normal, maka kondisi stok saat ini kemungkinan hanya sekitar 640 ekor sampai 720 ekor sapi. Namun dugaannya, stok saat ini kurang dari itu.