Misteri di Balik Kabut 'Hantu' di Pluto, Ilmuwan: Mengandung Sianida Mematikan

Misteri di Balik Kabut 'Hantu' di Pluto, Ilmuwan: Mengandung Sianida Mematikan

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Kabut biru yang menyelimuti Pluto membuat planet kerdil tersebut tampak seperti berhantu. Pada kenyataannya, kenyataan mengenai kabut biru Pluto kemungkinan lebih menyeramkan dari sekedar berhantu.

Sebenarnya ada banyak planet dan bulan yang diselimuti oleh kabut, termasuk bumi. Namun di antara semuanya, kabut yang menyelimuti Pluto dianggap sebagai yang paling tak biasa. NASA bahkan menyebut kabut biru Pluto sebagai "kabut fotokimia".

Berdasarkan penelitian terbaru, kabut di Pluto terbuat dari kristal es. Kristal es ini dinilai mematikan karena teradapat sianida di dalamnya.

Terkait kristal es tersebut, peneliti meyakini sinar matahari memicu terjadinya reaksi kimia di atmosfer bagian atas Pluto. Reaksi kimia ini lalu membentuk molekul-molekul seperti hidrogen sianida yang sangat beracun, asetilena, dan etilen.

Molekul-molekul yang baru terbentuk di atmosfer Pluto lalu membeku menjadi partikel es yang kecil. Partikel-partikel es yang kecil ini menyebarkan paparan sinar matahari sehingga membuatnya tampak berwarna biru. Ketika gravitasi menenggelamkan partikel es tersebut, gas-gas lain mengembun di sekitarnya dan membentuk kabut.

Dan mengingat Pluto sangat dingin, semua hal bisa membeku atau setidaknya mengembun di sana. Suhu rata-rata Pluto adalah -269 derajat Fahrenheit atau sekitar -167 derajat Celsius saat berada di posisi paling dekat dengan matahari dan -387 derajat Fahrenheit atau sekitar -233 derajat Celsius ketika berada di posisi paling jauh dari matahari. Suhu amat dingin inilah yang kemudian menyebabkan hidrogen sianida di atmosfer Pluto mengembun.

Kabut yang menyelimuti Pluto kerap dibandingkan dengan kabut yang menyelimuti bulan Saturnus bernama Titan dan kabut pada bulan Neptunus yang bernama Triton. Dengan menggunakan data dari pesawat ruang angkasa Cassini dan New Horizons, model komputer menunjukkan bahwa Titan mengalami reaksi kimia serupa dengan Pluto. Namun, hanya menghasilkan sekitar setengah kabut dibandingkan Pluto.

"Perbedaan ini disebabkan oleh temperatur atmosfer Pluto yang secara signifikan lebih dingin dibandingkan pada Titan," jelas ilmuwan planet Panayotis Lavvas, seperti dilansir Syfy.

Lavvas mengatakan partikel atmosfer Titan terbentuk dari kimia organik melalui formasi molekul-molekul besar. Sedangkan di atmosfer Pluto, kimia organik aktif juga ditemukan. Akan tetapi, molekul organik yang terbentuk bisa mengembun sebelum mencapai ukuran yang lebih besar.

Perbedaan lain antara Pluto dan Titan adalah kabut di Pluto terbuat dari es organik, sedangkan kabut di Titan terbuat dari hidrokarbon polisiklik aromatik atau PAH. PAH bisa terus membesar dan mencapai ukuran molekul yang lebih besar dan terlalu berat untuk bisa berada di atmosfer bagian atas.

Ketika mencapai ukuran yang besar, PAH akan turun ke lapisan atmosfer Titan yang lebih rendah. Di sana, PAH bisa semakin membesar yang kemudian membuat adanya aerosol berbasis karbon di atmosfer bagian bawah Titan.

Kabut di Pluto juga dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai kabut yang menyelimuti Triton. Dengan menerapkan teori kabut Pluto pada kasus Triton, peneliti menemukan bahwa es organik juga dapat memberikan penjelasan mengenai kabut Triton.

"Komponen es organik yang dominan dalam kasus ini (kabut Triton) adalah etilen (C2H4)," ujar Lavvas, seperti dikutip republika.co.id. (Jo)