Opini

Misteri di Balik Hidayah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“SHAQUILLEO’Neal has become a Muslim! Shaquille O’Neal memeluk Islam!”

Beberapa tahun yang lalu, ketika membacaberitakeislamanpemain basketball kondang dengantinggi 2.16 meter danterkenal pula dengansebutan “the Diesel”, “the Big Aristotle”, “MDE (Most Dominat Ever)”, “Superman”, danjuga “Doctor Shaq” tersebut, lama sayatermenung, Selepas itu,benaksayamelayang-layang:teringatproseskeimanan ‘Umar bin Al-Khaththab, penguasa ke-2 dalam sejarah Islam.

Sejarah mencatat, ‘Umar bin Al-Khaththab, sebelum memeluk Islam, adalah seorang penyembah berhala. Yang amat setia. Malah, ia pernah mengusir saudara tirinya sendiri, Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawi Al-Qurasyi, yang menjadi seorang hanîf, keluar Kota Makkah ketika ia melecehkan agama kuno mereka. ‘Umar sendiri, kala itu, adalah seoranganak yang mewarisi watak orang tuanya yang emosional: mudah tersulut dan cepat naik darah. Kesenangannya berfoya-foya dan menenggak minuman keras. Namun, terhadap keluarga ia bersikap bijak dan santun.

Suatu hari, anak muda yang baru berusia sekitar 27 tahun itu menyatakan dengan suara kencang kepada para penentang Rasulullah Saw., “Muhammad harus diakhiri! Aku yang akan menangani masalah ini! Sekarang juga!”

Selepas itu, ‘Umar bin Al-Khaththab, yang sangat pemberang itu, kemudian mengikatkan pedangnya dan pergi ke Bukit Shafa:berlari menuju ke sebuah rumah yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan oleh kaum Muslim. Kala itu, di rumah itu, Rasullullah Saw. sedang bertemu dengan sejumlah sahabat. Termasuk Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, ‘Ali bin Abu Thalib, dan Abu Bakar bin Abu Quhafah. Di tengah jalan, ‘Umar bin Al-Khaththab berjumpa dengan salah seorang anggota keluarganya yang telah memeluk Islam, Nu‘aim bin ‘Abdullah. Memperhatikan kerut gelap di wajah ‘Umar, Nu‘aim menanyakan kepadanya apa yang terjadi. ‘Umar menjawab, ia akan membunuh Rasulullah Saw.

Mendengar jawaban yang demikian itu, Nu‘aim segera berpikir keras. Untuk mengalihkan niat ‘Umar itu. Ia pun menasihati ‘Umar, “‘Umar! Engkau hendaklah pertama-tama melihat ke rumahmu sendiri. Saudara perempuanmu dan saudara iparmu pun telah memeluk Islam!”

Mendengar kabar yang demikian itu, ‘Umar bin Al-Khaththab menjadi sangat berang. Sehingga, ia segera berbalik ke rumah saudara perempuannya, Fathimah binti Al-Khaththab, yang kala itu sedang membaca Al-Quran. Mendengar ‘Umar masuk, Fathimah menghentikan bacaannya. Namun, ‘Umar telah mendengar suaranya dan menanyakan apa artinya. Sang adik menjawab bahwa hal itu tiada apa-apanya.“Fathimah! Jangan engkau mencoba menyembunyikan apa pun. Dariku!” hardik ‘Umar bin Al-Khaththab. Dengan nada suara sangat gusar. “Aku tahu segala sesuatunya. Aku telah mendengar, kalian berdua telah ingkar agama!”

Usai berkata demikian, ‘Umar bin Al-Khaththab lantas memegang leher saudara iparnya, Sa‘id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawi Al-Qurasyi, dan memukulnya kuat-kuat. Melihat hal yang demikian, Fathimah mencoba campur tangan. Tetapi, ia malah juga dipukuli. Hingga tubuhnya berlumuran darah. Dalam keadaan demikian, ia berseru, “‘Umar! Tega benar engkau engkau berbuat seperti ini kepadaku. Lakukanlah apa saja yang engkau kehendaki. Islam tidak akan pernah lepas dari hati kami!”

Ternyata, ucapan itu membangkitkan suatu dampak yang aneh. Dalam pikiran ‘Umar bin Al-Khaththab. Ia pun memandang adiknya dengan pandangan penuh kasih sayang. Apalagi selepas melihat darah yang mengalir keluar dari luka-luka yang ditimbulkannya. Hatinya benar-benar terharu. Akhirnya, ia berucap lirih, “Fathimah, tunjukkanlah kepadaku, apa yang tadi engkau baca.”

Fathimah binti Al-Khaththab pun membawa kertas-kertas kulit petikan Al-Quran yang disembunyikannya dan meletakkannya di depan kakaknya. ‘Umar bin Al-Khaththab pun mengambilnya dan menjumpai ayat-ayat:

Thâhâ. Kami tak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar engkau merasa berat. Namun, sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut. Diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit tinggi. Tuhan Yang Mahapemurah, yang bersemayam di atas ‘Arasy. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, dan semua yang ada di antara keduanya, serta semua yang terpendam di bawah tanah. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh Dia mengetahui rahasia dan semua yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia yang mempunyai nama-nama sempurna.” (QS Thâhâ [20]: 1-8).

‘Umar bin Al-Khaththab pun membaca bagian itu dengan sepenuh hati. Nampaknya, setiap kata mengilhami hatinya. Sehingga, akhirnya, ia berseru, “Betapa luar biasa dan mendalamnya kalam itu! Ya, semua itu benar. Aku seharusnya memeluk agamamu. Aku akan pergi menemui Muhammad. Untuk menyatakan keimananku kepada Allah. Di hadapannya.”

‘Umar bin Al-Khaththab pun segera meninggalkan rumah adiknya: berlari melintasi jalan-jalan Kota Makkah, menuju Bukit Shafa. Tepatnya menuju rumah Abu ‘Abdullah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, tempat Rasulullah Saw. sedang menyampaikan pengarahan kepada para sahabat. Setiba di rumah itu, ‘Umar segera mengetuk pintu.

Mengetahui yang datang adalah ‘Umar bin Al-Khaththab, para sahabat menjadi gentar dan ketakutan, kecuali Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Rasulullah Saw. menyuruh membuka pintu dan mempersilakan ‘Umar masuk. Melihat sikap beliau yang sangat santun dan bijak, ‘Umar merasa kecil di hadapan beliau. Ia pun segera menyatakan niatnya menjadi seorang Muslim, “Wahai Rasul! Aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta pesan yang dibawanya.” Rasulullah Saw. pun berseru, “Allâhu Akbar!”

Keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab segera diikuti putera sulungnya yang kelak menjadi seorang pakar manasik haji, ‘Abdullah, dan istrinya, Zainab binti Mazh‘un, saudara perempuan ‘Utsman bin Mazh‘un yang sedang berhijrah ke Habasyah. Selain itu, keislamannya melempangkan jalan bagi tokoh-tokoh Arab lainnya kala itu untuk memeluk Islam. Semenjak itu, berbondong-bondonglah orang masuk Islam. Sehingga, dalam waktu yang singkat, pengikut Islam bertambah dengan pesatnya.

Di sisi lain, keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab yang terjadi pada tahun ke-6 kenabian itu memberikan hikmah dan pelajaran yang berharga tentang proses keislaman seseorang. Berkenaan dengan hal itu Tariq Ramadan, dalam karyanya In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, menulis:

“Nabi Saw. tahu, dirinya tak berkuasa atas hati manusia. Dalam menghadapi penganiayaan dan kesulitan besar, beliau berpaling kepada Allah, seraya berharap Dia akan memberi petunjuk kepada salah satu dari dua tokoh Quraisy yang beliau ketahui memiliki kualitas dan kekuatan yang diperlukan untuk membalikkan keadaan. Tentu saja Nabi tahu, hanya Allah yang berkuasa menuntun hati manusia. Bagi sebagian orang, perpindahan agama merupakan sebuah proses panjang yang membutuhkan masa penuh pertanyaan, keraguan, dan langkah maju-mundur. Sedangkan bagi yang lain, perpindahan agama berlangsung singkat, segera selepas membaca teks, atau memerhatikan gerak tubuh atau perilaku.

Hal yang demikian itu tak dapat dijelaskan. Peralihan agama yang memakan waktu paling lama tak berarti melahirkan keimanan yang kukuh, dan kebalikannya juga tak sepenuhnya benar: jika bicara urusan peralihan agama, kecenderungan hati, keimanan dan cinta, tiada lagi logika; yang berlaku adalah kekuasaan Allah yang luar biasa. ‘Umar keluar rumah dengan niat kuat untuk membunuh Nabi, dibutakan oleh pengingkarannya terhadap Allah Yang Maha Esa. Namun, beberapa jam kemudian, ia berubah dan mengalami sebuah transformasi sebagai hasil perubahan keyakinan akibat sentuhan sebuah Al-Quran dan maknanya. Malah, ia kemudian menjadi salah seorang sahabat setia dari orang yang ia ingikan kematiannya. Tak seorang pun di antara para pengikut Nabi Saw. yang dapat membayangkan bahwa ‘Umar akan mengikuti pesan agama Islam, mengingat ia dengan sangat jelas telah mengungkapkan kebenciannya terhadap Islam. Revolusi hati ini merupakan sebuah pertanda, dan ia mengajarkan dua hal: tiada yang mustahil bagi Allah, dan kita tak boleh memberikan penilaian mutlak terhadap sesuatu atau seseorang!”

Sekali lagi, proses keimanan ‘Umar bin Al-Khaththab, juga proses keimanan “Doctor Shaq”, menunjukkan pertama-tama: Allah Swt. sangat kuasa atas kalbu manusia. Pagi hari seseorang berlaku sebagai musuh besar Islam. Tetapi, siang nanti ia dapat berubah menjadi seorang pendukung agama itu. Begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain: hidayah merupakan hak prerogatif Allah Swt. Bukan karena jasa, tindakan, atau usaha seseorang.

Fenomena yang menawan. Untuk direnungkan!

*Penulis alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, pernah nyantri di.Ponpes Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Sekarang pemgasuh Ponpes Nun, Baleendah, Bandung.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close