Ekonomi

Minyak di Level Terendah 17 Tahun, Stimulus AS Gak Ngefek

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Meski Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menggelontorkan stimulus fiskal jumbo guna menanggulangi pandemi virus corona (COVID-19) dan melindungi perekonomian Paman Sam, harga minyak mentah masih ambles di pekan ini .

Sepanjang pekan ini, minyak jenis Brent ambles 7,67% ke US$ 24,93 per barel dan berada di level terendah sejak Mei 2003 atau nyaris 17 tahun yang lalu. Hal yang sama juga terjadi pada jenis West Texas Intermediate (WTI) ambles 4,1% ke US$ 21,51/barel.

Pademi COVID-19 benar-benar memukul harga minyak mentah. Berdasarkan data Johns Hopkins CSSE hingga saat ini sudah lebih dari 170 negara yang terpapar COVID-19, lebih dari 660.000 orang terinfeksi, dengan 30.652 orang meninggal dunia, dan lebih dari 139.000 sembuh.

Banyak negara menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) guna meredam penyebaran virus corona, sehingga aktivitas ekonomi merosot tajam. Akibatnya, perekonomian global melambat signifikan, resesi di beberapa negara bukan lagi kemungkinan, tetapi pasti.

Lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investor Services memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia atau G-20, akan terkontraksi tajam di tahun ini.

“Ekonomi negara G-20 akan mengalami guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada paruh pertama tahun ini dan akan berkontraksi pada tahun 2020 secara keseluruhan,” tulis Moody’s, dalam riset bertajuk Global Macro Outlook 2020-21, dikutip Kamis (26/3/2020).

Moody’s memperkirakan, PBD riil sepanjang tahun 2020 dari negara-negara G-20 secara rata-rata akan minus 0,5%, jauh di bawah perkiraan pada proyeksi awal November lalu dengan estimasi pertumbuhan sebesar 2,6%.

“Namun pada tahun setelahnya akan diikuti oleh peningkatan ke pertumbuhan [ekonomi G-20] sebesar 3,2% pada tahun 2021,” terang Moody’s.

AS kini menjadi negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di dunia mengalahkan China yang merupakan asal pandemi ini. Hingga tercatat ada 122.666 kasus positif COVID-19, dengan korban meninggal lebih dari 2.000 orang dan yang sembuh lebih dari 1.000 orang.

Guna menanggulangi pandemi tersebut dan meminimalasir dampaknya ke perekonomian, Pemerintah AS menggelontorkan stimulus fiskal senilai US$ 2 triliun. Stimulus tersebut sangat jumbo, dua kali lipat dari nilai produk domestic bruto (PDB) Indonesia.

Presiden AS, Donald Trump sudah menandatangani Rancangan Undang-Undang (RUU) stimulus tersebut dan resmi menjadi undang-undang pada Jumat waktu setempat.

Meski demikian, perekonomian AS diprediksi tidak akan lepas dari resesi di tahun ini.

Kepala Ekonom IHS Markit, Nariman Behravesh dan eksekutif direktur ekonomi global Sara Johnson dalam Global Economic Forecast Flash bulan Maret memberikan proyeksi jika Jepang sudah mengalami resesi, sementara AS dan Eropa akan menyusul di kuartal II-2020.

PDB AS diprediksi di tahun ini diprediksi akan berkontraksi 0,2%, zona euro 1,5% dan Jepang 0,8%. Sementara itu ekonomi China diprediksi hanya akan tumbuh 3,1%.

Ketika perekonomian global merosot bahkan mengalami resesi, maka permintaan minyak mentah juga pasti menurun, harganya pun tertekan.

Selain itu, harga minyak mentah juga tertekan setelah Arab Saudi dan Rusia pecah kongsi. Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang dipimpin Arab Saudi bersama dengan Ruisa dan beberapa negara lainnya, yang disebut OPEC+, beberapa tahun terakhir menerapkan kebijakan pembatasan jumlah produksi guna mengangkat harga minyak mentah.

Tetapi di awal bulan ini OPEC+ gagal mencapai kata sepakat untuk membatasi tingkat produksi. Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan meninggalkan pertemuan OPEC+ di Wina Austria, yang berarti Rusia bebas untuk memproduksi minyak mentah seberapapun besarnya mulai tanggal 1 April.

Keputusan tersebut juga membuat Arab Saudi bereaksi. Pada Sabtu (6/3/2020), Arab Saudi mendiskon harga minyak mentah ekspornya sebesar 10%.

Selain itu, mulai 1 April ada kemungkinan besar OPEC dan aliansinya akan lebih menggunakan strategi peningkatan pangsa pasar ketimbang mendukung stabilitas harga. Jadi bisa saja Arab Saudi memproduksi minyak pada kapasitas maksimalnya per hari hingga lebih dari 12,5 juta barel per hari.

Akibatnya pecahnya OPEC+, harga minyak pun ambles. (WS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close