Milenial Harus Punya Aksesibilitas Bacaan yang Up to Date

Milenial Harus Punya Aksesibilitas Bacaan yang Up to Date

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengungkapkan generasi milenial memiliki peran dominan dalam bonus demografi. 

Generasi milenial ini sebagai aset, generasi unggul yang mampu membawa bangsa Indonesia ke arah pembangunan yang lebih maju dan dinamis.

“Kuncinya pada kualitas," kata Muhammad Syarif Bando pada  Webinar ‘Menyiapkan Generasi Literasi Melalui Penguatan Kegemaran Membaca Era Milenial’, berkat kerja sama Perpusnas dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  (Dispusipda)  Jawa Barat, Jumat, (16/10/2020). 

Ia menambahkan, generasi milenial inilah yang diharapkan memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan dunia luar.

Muhammad Syarif Bando mengakui, tantangan generasi milenial jauh lebih besar dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Karena itu, bekal kesiapan menghadapi revolusi 4.0 bagi generasi milenial adalah dengan kemampuan literasi.

“Generasi milenial yang berliterasi adalah generasi yang memiliki aksesibilitas terhadap sumber bacaan yang up to date,” tambah Kepala Perpusnas.

Tantangan sekarang ini  generasi milenial dianggap minat membacanya berkurang. Karena itu hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Menurut Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa, faktor pertama akibat belum adanya kebiasaan membaca yang ditanamkan para orang tua. Padahal peran orang tua amat penting untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. 


“Sebagian masih banyak yang menyepelekan kegiatan membaca. Baru sebatas hobi, belum menjadi kebiasaan,” urai Ledia 

Faktor berikutnya  disebabkan karena akses ke fasilitas pendidikan masih minim dan belum merata. Padahal di tengah kondisi pandemi saat ini, generasi milenial dipaksa belajar ala digital dengan segala keruwetan dan keterbatasannya. 

Dan faktor terakhir adalah produksi buku yang masih kurang. Hal ini dipicu karena royalti yang diterima rendah, insentif bagi produsen buku yang belum adil sehingga berdampak pada belum berkembangnya penerbit.

Duta Baca Provinsi Jawa Barat Salbia Salsabila Mulki memahami bahwa tugas mengajak orang untuk membiasakan membaca itu tidak mudah. Contohnya, di dunia akademisi, kebiasaan membaca baru akan dilakukan ketika mendapat tugas kuliah. 

Salsa meyakini bahwa kemampuan literasi yang baik tidak sekedar baca dan tulis. Karena jika hanya kedua faktor yang menjadi parameter, maka tidak heran informasi yang masih sumir (hoaks) mudah diterima masyarakat. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat Ahmad Hadadi mengatakan untuk menghasilkan manusia yang berbudaya haruslah melek literasi. (Jo)