Catatan dari Senayan

Mewaspadai “Generasi Jihadis”

ISY kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid) masih menjadi doktrin ampuh di komunitas teorisme. Rusuh di rumah tahanan yang berlokasi di Mako Brimob Kelapa Dua sebagai bukti. Sejumlah tahanan terorisme tega dan nekad menghabisi polisi, aparat negara yang sedang bertugas tiga hari yang lalu.

Heboh rusuh di Mako Brimob belum berakhir, nara pidana terorisme (narpiter) baru saja dipindahkan ke Nusakambangan, ada seorang pria yang masuk ke Mako Brimob, kemudian lagi-lagi menikam seorang anggota polisi yang bertugas melakukan pengamanan. Dia tak takut mati. Dia merasa memiliki jaminan mati syahid dan kelak masuk surga.

Bagi manusia Indonesia pembunuhan terhadap aparat keamanan itu sudah kelewatan, tindakan sadistis di luar batas kemanusiaan. Mereka menghabisi polisi tidak hanya dengan tembakan tapi dengan pisau dan pecahan kaca. Menyembelih binatang saja ada aturannya, masa membunuh sesama manusia, sebangsa dan senegara menggunakan cara-cara yang sedemikian sadistis. Nilai-nilai kemanusian hilang dari nurani, dikalahkan oleh nafsu hewani.

Aparat negara dipandang sebagai musuh yang dianggap halal darahnya. Mereka merasa berjihad sebagai pahlawan. Kalau menang mereka dan kelompoknya bermimpi akan hidup mulia dan jika mati akan mati syahid. Surga sebagai jaminannya.

Ada pergeseran makna jihad, pahlawan dan mati syahid. Asal sudah melakukan perlawanan mereka anggap itu jihad. Lalu muncullah istilah “jihadis”, mereka yang mentahbiskan diri sebagai pejuang di jalan agama. Selama ada pemaknaan dan pemahaman yang salah kaprah tentang “jihad” dan “syahid” maka akan terus tumbuh “generasi jihadis” di negeri ini.

“Generasi jihadis” tumbuh di Indonesia kemungkinannya dari dua sumber. Sumber pertama dari para alumni dari kawasan konflik di dalam maupun luar negeri. Sumber kedua dari lingkungan kita sendiri, bisa di mushala, sekolah, atau kampus. Mereka anak baik yang ditempa secara salah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan doktrin-doktrin yang menyimpang. Antara lain dengan penanaman “isy kariman au mut syahidan” secara salah. Lalu “generasi jihadis” tumbuh terlewat dari pengawasan kita. Mereka tertempa menjadi radikalis. Tergerak untuk selalu melawan aparat.

Setiap ada peluang selalu dimanfaatkan untuk melawan, seperti yang terjadi di Mako Brimob Depok karena merasa paling benar, selalu mengedepankan pembenaran dengan menyimpangi norma dan akal sehat. Pemerintah dan aparat disebut toghut┬ádan wajib diperangi. Mereka sudah keblinger. Tak peduli lagi dengan nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, dan akal sehat. Upaya-upaya deradikalisasi yang dilakukan pemerintah selama ini selalu kandas karena pemahaman “akidah” yang salah tadi.

Hal-hal seperti ini yang perlu kita sadari bersama. Kewaspadaan tinggi perlu selalu ada pada setiap lini. Lingkungan sosial, sekolah, dan kampus mesti aman dari muncul dan tumbuhnya “generasi jihadis”. Penanganan terhadap pihak-pihak yang berbau “jihad” harus super hati-hati. Tak boleh salah dan lengah. Generasi yang masih sehat perlu kita rawat, agar tidak tertular masuknya “virus jihadis”. Yang sudah telanjur terjangkit mesti kita waspadai.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close