Opini

Mereka Pembenci Jokowi, Bukan Pendukung Prabowo

SEHARIAN ini timeline di Twitter dan status di FB dari para pendukung Prabowo berisi caci maki.

Mereka bukan saja kecewa tetapi sangat marah ketika melihat Prabowo bersalaman dengan Jokowi. Apalagi saat ternyata Prabowo pun mengakui kemenangan Jokowi, mereka tambah menggila.

Bahkan ada yang memposting video menyobek-nyobek bendera Prabowo-Sandi. Mereka yang tadinya seperti “terlalu mencintai” Prabowo, sekarang berbalik arah menjadi pembenci.

Dari sini sebenarnya kita lihat, bahwa ada kelompok yang ternyata memang didesain untuk mendukung Prabowo, tetapi bukan murni jadi pendukungnya. Mereka adalah para pembenci Jokowi yang menunggangi Prabowo demi kepentingannya.

Siapa mereka?

Semoga dengan kasus Prabowo ini, banyak politisi yang sadar sangat riskan memainkan politik identitas karena itu akan membawa kehancuran. Agama dimainkan seenaknya tanpa malu kepada Tuhan bahkan membawa namaNya demi syahwat berkuasa.

Para kelompok radikal yang marah ketika Jokowi mengobrak-abrik persembunyian mereka selama ia memimpin. Di sana berkumpul HTI, FPI dan para pecinta khilafah yang ingin menjadikan negeri ini negeri agama.

Persis seperti yang saya tulis dulu, bahwa jika Prabowo menang pun, mereka yang awalnya mendukung akan berbalik melawan Prabowo karena keinginan mereka banyak yang tidak dipenuhi. Prabowo rentan diserang karena ia dari keturunan Tionghoa, keluarganya Kristen dan ia pernah terlibat penculikan tahun 98.

Dan untuk menutupi kelemahannya itu, Prabowo yang dikenal temperamental pasti akan memukul mereka. Lalu muncul demo berjilid-jilid atas nama umat, militer bergerak dan situasi Suriah pun akan tergambar jelas di negeri ini. Itulah yang mereka inginkan.

Pertemua Prabowo dan  Jokowi adalah sesuatu yang tidak mereka kehendaki. Mereka inginnya Prabowo terus melawan, kalau perlu dengan kekerasan. Dan mereka akan membantu di sana dengan frontal. Lalu ketika strategi mereka ternyata tidak berjalan, ngamuklah ke mana-mana.

Semoga dengan kasus Prabowo ini, banyak politisi yang sadar sangat riskan memainkan politik identitas karena itu akan membawa kehancuran. Agama dimainkan seenaknya tanpa malu kepada Tuhan bahkan membawa namaNya demi syahwat berkuasa.

Mereka adalah penunggang gelap dalam demokrasi. Menggunakan demokrasi sebagai senjata untuk menghancurkannya kelak ketika berkuasa.

“Apakah mereka itu kampret, Bang?”

“Dulunya. Sekarang mereka bermutasi jadi kadal gurun karena pengaruh ramuan kencing onta.”

Seruput kopinya….

Denny Siregar, penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close