Konsultasi Hukum

Menyewakan Kembali Rumah Kontrakan Apakah Melanggar Aturan Hukum?

Pertanyaan

Kepada Rubrik Konsultasi Hukum Senayan Post.

Saya mengontrak rumah 2 lantai dengan harga sewa Rp20 juta pertahun, lama kontrak selama 2 tahun dan sudah saya bayar lunas kepada pemiliknya sejumlah Rp40 juta, namun setelah 1 tahun berjalan usaha saya tidak berjalan dengan lancar, saya berfikir daripada lantai 2 rumah tidak ada yang menunggu lebih baik saya sewakan kembali kepada teman saya dan keluarganya selama 1 tahun dengan harga sewa disepakati sebesar Rp15 juta pertahun, tetapi baru berjalan 4 bulan teman saya menempati lantai 2 rumah tersebut, tiba-tiba pemilik rumah datilang dan memutus kontrak secara sepihak dengan alasan bahwa saya telah melanggar perjanjian.

Pertanyaan saya, Apakah tindakan saya tersebut melanggar aturan hukum? Dan dapatkah saya meminta kembali sisa uang sewa selama 8 bulan tersebut.

SANTO
Cilegon

Jawaban:

Kepada Yth pak Santo di Cilegon. Terimakasih atas pertanyaan bapak.

Terlebih dahulu kami sampaikan bahwa definisi perjanjian sewa menyewa sebagaimana yang telah diatur pada Pasal 1548 Kitab Undang-Undang Hukum (KUH) Perdata yang menyebutkan bahwa:
“Sewa-menyewa adalah suatu perjanjian di mana pihak yang satu mengikatkan diri untuk memberikan kenikmatan suatu barang kepada pihak lain selama waktu tertentu, dengan pembayaran suatu harga yang disanggupi oleh pihak tersebut.”

Aturan yang lebih spesifik tentang sewa menyewa rumah dapat kita lihat juga dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 1994, tentang penghunian rumah oleh bukan pemilik.

Pasal 4 PP Nomor 44 Tahun 1994 mengatur tentang Penghunian Rumah Dengan Cara Sewa Menyewa menyebutkan:
(1) Penghunian rumah dengan cara sewa menyewa didasarkan kepada suatu perjanjian tertulis antara pemilik dan penyewa.
(2) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya mencantumkan ketentuan mengenai hak dan kewajiban, jangka waktu sewa, dan besarnya harga sewa.
(3) Rumah yang sedang dalam sengketa tidak dapat disewakan.

Dalam PP Nomor 44/1994 Pasal 9 menyebutkan:
(1) Penyewa dengan cara apapun dilarang menyewakan kembali dan atau memindahkan hak penghunian atas rumah yang disewanya kepada pihak ketiga tanpa izin tertulis dari pemilik.
(2) Penyewa dilarang mengubah bentuk bangunan rumah tanpa izin tertulis dari pemilik.

Jika hubungan sewa-menyewa berakhir atau diputuskan sebelum berakhirnya jangka waktu yang diatur dalam kontrak, maka dalam PP Nomor 44/1994 pada Pasal 11 ayat (1) apabila salah satu pihak tidak mentaati ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10, maka hubungan sewa menyewa dapat diputuskan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa menyewa, ada dua konsekuensi yang dapat terjadi: jika yang dirugikan pihak penyewa maka pemilik berkewajiban mengembalikan uang sewa;
jika yang dirugikan pihak pemilik, maka penyewa berkewajiban mengembalikan rumah dengan baik seperti keadaan semula, dan tidak dapat meminta kembali uang sewa yang telah dibayarkan.

Menjawab pertanyaan bapak, berdasarkan peraturan tersebut di atas, sepanjang tidak ada kesepakatan atau persetujuan tertulis dalam hal menyewakan kembali rumah sewa (kontrakan) tersebut kepada pihak lain, maka penyewa tidak dapat bertindak demikian.

Apabila penyewa tetap menyewakan kembali rumah kontrakan tersebut berarti penyewa telah melanggar peraturan hukum yang ada, dan perjanjian sewa menyewa dapat dibatalkan atau diputus sebelum berakhirnya masa sewa dengan tidak ada kewajiban pemilik rumah untuk mengembalikan uang sisa sewa kepada penyewa.

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

EKA INTAN PUTRI, S.H.,M.H.
Advokat/Ketua LKBH Intan

KOMENTAR
Tags
Show More
Close