Opini

Menyaksikan Prabowo, Jadi Ingat Ahok!

Belum lama ini, ribuan massa yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat di Boyolali, turun ke jalan melakukan protes keras terhadap Capres no.2, Prabowo Subianto.

Pasalnya, berawal dari pidato Prabowo pada peresmian Kantor Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Kabupaten Boyolali.

Saat Prabowo bermaksud melukiskan bagaimana sekarang ini arogansi orang kaya di kota-kota besar begitu marak dan semakin tinggi, terucap kata ‘tampang Boyolali’ yang digunakan sebagai metafora mewakili wajah rakyat miskin yang sering dikuyo-kuyo orang kaya berduit dan metropolis.

Hingga dipastikan oleh Prabowo bila ‘tampang Boyolali’ ini masuk hotel bintang lima, pasti ditolak.

Kontan saja masyarakat Boyolali yang tampilan wajah mereka digunakan Prabowo sebagai metafora perwakilan masyarakat miskin dan ndesit; yang masuk hotel pun tak layak dan pasti ditolak, tak dapat menerima, sangat tersinggung, dan marah.

Saat masyarakat Boyolali melakukan protes keras dan marah, Prabowo sempat bingung dan tidak percaya protes yang dilakukan secara massal ini bisa terjadi.

Prabowo tak habis pikir, mengapa soal ucapan yang tidak dimaksudkan untuk menghina dijadikan alat untuk menyerang dirinya. Apa karena dirinya sebagai capres dan ‘candanya’ berlangsung di masa kampanye?

Keterheranan Prabowo ini mengingatkan saya kepada sosok Basuki Purnama alias Ahok ketika diserang secara masif dan bertubi-tubi oleh sejumlah organisasi umat Islam.

Kala itu Ahok dianggap telah melakukan penistaan agama. Padahal menurut Ahok, pada saat dirinya mensitir Ayat 51 dari Surat Al Maidah, tidak ada niatan sama sekali untuk melecehkan dan apalagi melakukan penistaan.

Dalam waktu sekejap dunia maya pun diramaikan oleh serbuan para nitizen anti Ahok yang berkelanjutan berhasil mengirim Ahok ke penjara. Sangat mengharukan dan terlebih lagi…menyedihkan!

Walau kasus Boyolalinya Prabowo tidak se-sensitif kasus ayat Al Maidah yang menjerat Ahok menjadi terpidana, ada kesamaan nasib antara keduanya dalam hal tersandung kasus yang erat dengan, menurut istilah saya, musibah budaya.

Kedua tokoh ini tidak sensitif terhadap bagaimana berperannya budaya dan kebudayaan dalam aksi masyarakat merespon sesuatu yang mereka anggap hal yang harus dijauhkan untuk disentuh dan dipersoalkan.

Apalagi dilakukan oleh orang asing di luar lingkar kehidupan mereka yang berperilaku jauh dari pijakan budaya yang menghidupi mereka selama ini.

Ketidak sensitifan yang kedua, baik Ahok maupun Prabowo, sama-sama kurang sensitif terhadap realita politik berikut kultur politik yang menghidupi masyarakat selama ini.

Pada saat Ahok dijerat pasal penistaan agama, politik identitas begitu tengah hangat-hangatnya digelontorkan oleh kelompok tertentu jelang Pilkada-Pilgub DKI saat itu.

Ketika seorang kandidat potensial yang diprediksi bakal memenangkan pertarungan politik melakukan sedikit saja kesalahan yang terkait dan bersinggungan dengan gerak politik identitas, maka mesin politik identitas pun bergerak cepat menggerus popularitas Ahok yang terduga melakukan pelecehan agama Islam. Maka tamatlah Ahok dalam kaitan perhelatan Pilgub DKI.

Dalam kaitan ‘Wajah Boyolali’, Prabowo tidak belajar dengan seksama atas kasus yang menimpa diri Ahok.

Bagaimana kasus editan yang bisa merubah makna kata bisa tumbuh menjadi kenyataan seakan begitulah rincian yang Ahok ucapkan.

Seharusnya peristiwa trik politik ini dicatat sebagai kenyataan untuk dipahami sejauh mana tingkatan kualitas perpolitikan di negeri ini.

Andai saja Prabowo menyimpan catatan itu baik-baik, ucapan yang membuka peluang untuk dirinya diberondong amarah masyarakat Boyolali, pasti tidak akan terjadi.
Sebagai catatan untuk Prabowo, bahwa apa yang dimaksudkan dan apa yang diucapkan, ternyata diterima berbeda oleh publik.

Pelajaran yang sangat berharga untuk dicatat tim pemenangan Prabowo-Sandi adalah pemahaman akan makna kata: Beda ladang, bisa beda tanaman, kawan!

Satu hal yang mungkin menarik untuk dijadikan catatan penting oleh para kandidat capres-cawapres, betapa besar peran perilaku budaya dan kebudayaan dalam membentuk daya respon seseorang terhadap canda dan seloroh.

Sebagai contoh kecil, bagaimana kita di Indonesia, bila seseorang saat gurau menyentuh atau mempermainkan dengan sengaja kepala kita, kemarahan tak terduga bisa tiba-tiba meletup.

Hal mana sering dialami oleh para pendatang (asing) yang tidak sensitif terhadap nilai mempermainkan kepala seseorang.

Sebaliknya di Timur Tengah, menyentuh dan bahkan meremas-remas kepala kawan atau seseorang dengan sengaja dalam gurau maupun penyampaian rasa akrab, tidak menjadi masalah.

Akan tetapi jangan coba sentuh bagian belakang (bokong), amarah tak terduga pun bisa meledak-ledak terjadi.

Contoh lain tradisi sebagian masyarakat di Eropa Timur. Jauh sebelum isu LGBT merebak, kita sebagai orang Indonesia, pasti akan terbelalak dan ternganga-nganga melihat dua orang pria saling memberi salam dengan bercium temu bibir secara terbuka di depan umum.

Coba saja Anda lakukan di Jakarta, pasti akan menjadi tontonan aneh, dicemooh, dan menggelikan.

Yah, dalam masa kampanye yang super panjang, sangat lama, dan kurang bermutu ini, ternyata mempersoalkan program dan pemikiran para kandidat capres-cawapres bukan yang terpenting dan bahkan sama sekali menjadi tidak penting.

Dengan terus menggelembungkan jargon: Asal ‘Jagoku’ Menang; maka sedikit kesalahan dalam bentuk apa pun yang bisa dipompa menjadi besar untuk menyudutkan kandidat lawan, akan digelembungkan secara maksimal.

Siapa yang diuntungkan? Ya fihak yang menggelembungkan isu, sehingga menimbulkan keyakinan, jagoannya menjadi seng ada lawan! Dan yang merugi pastilah kandidat yang naif dan yang tertimpa musibah.

Tapi yang paling dirugikan dari perilaku saling serang lewat jendela subyektivitas ini, tidak lain adalah masa depan bangsa ini. Di mana rakyatnya menjadi kian terjerumus ke dalam lembah ‘like and dislike’ dalam setiap peristiwa menentukan pilihan seorang pemimpin!

Erros Djarot adalah budayawan

KOMENTAR
Tags
Show More

Check Also

Close
Close