Menunggu Polri Bersih

06:00
343

Semula saya termasuk yang tidak berkeberatan dengan rencana pembentukan Detasemen Khusus (Densus) Antikorupsi Polri. Apa salahnya kalau Polri beritikad baik berkomitmen untuk mempercepat pemberantasan korupsi. Dengan demikian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak sendirian dalam membersihkan tindak pidana korupsi di negeri ini. Apalagi Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian begitu meyakinkan menjelaskan ihwal masa depan Densus Antikorupsi ini.

Ketika Presiden Joko Widodo menunda diwujudkannya Densus ini, saya tetap menganggap itu hanya soal waktu. Prinsip Presiden sudah menyetujui. Soal nanti tugas Densus ini beririsan dengan tugas dan kewenangan KPK tentu dapat diatur dengan menata pembagiannya, mana kewenangan KPK dan mana porsi untuk Densus. Saya tetap ber-husnuzon (berprasangka baik) terhadap Polri dan Densusnya itu. Kalau Densus Antiteror 88 atau Densus 88 Polri dinilai sukses, mengapa Densus Antikorupsi tidak boleh dilahirkan dari rahim yang sama?

Namun setelah membaca berita head line di halaman utama sebuah tabloid empat hari berturut-turut, 30; 31 Oktober, 1 November, 2017, permakluman saya terhadap rencana pembentukan Densus menjadi berubah total. Empat berita yang berkait itu, “Penyidik Polisi Rusak Barang Bukti KPK”, “Perusakan Diduga untuk Tutupi Setoran ke Polisi” dan seterusnya. Bagaimana mungkin akan dibentuk Densus Antikorupsi kalau kelakuan oknum polisi di hari gini masih seperti itu. Polisi yang di-BKO-kan menjadi penyidik KPK mestinya mereka yang terbaik. Rekam jejak dan integritas mereka sudah teruji. Tapi kok seperti itu tindakannya.

Jika memang benar, merusak barang bukti, itu bukan sekadar melanggar etika, tapi sudah merupakan tindakan kriminal. Mereka diberitakan ingin menutup aib dengan berbuat aib baru. Jadi bukan hanya tindakan dua orang oknum, tapi sudah merupakan konspirasi sejumlah oknum demi “korsa korp”. Tindakan itu juga bisa disebut sebagai kejahatan yang berlapis. Ini namanya “pagar makan tanaman”. Aparat yang mestinya menjaga barang bukti malah diduga kuat merusaknya.

Bukan bermaksud “gebyah uyah” kalau polisi “terbaik” yang ada di KPK berkelakuan seperti itu, apakah polisi-polisi yang bakal dicalonkan ke Densus Antikorupsi tidak seperti itu? Entah karena apa tiba-tiba saya berubah menjadi suuzon (berburuk sangka). Mestinya ketika Polri menyodorkan usulan pembentukan Densus, semua jajaran di kepolisian menunjukkan performance yang terbaik, bukan sebaliknya.

Comments

comments