Opini

Menuju Aktivitas Transportasi Normal Baru Pasca COVID-19

Oleh: Hafida Fahmiasari

YA ampun, apa yang terjadi di benak mereka ?!” kata seorang wanita yang saya ikuti di media sosial. “Kau tahu, aku hanya perlu memalsukan sertifikat kesehatan itu untuk masuk ke antrian bandara itu!” pria lain berkomentar.
Ini adalah jenis-jenis tanggapan dari warga negara Indonesia setelah melihat foto-foto Terminal 2E yang ramai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta baru-baru ini, ketika pemerintah melonggarkan pembatasan pada layanan transportasi untuk individu tertentu.

Kebijakan ini menghasilkan banyak perjalanan bisnis terjadi di tengah krisis kesehatan ini. Beberapa warga menyalahkan pemerintah atas peraturan aneh tersebut. Yang lain menyimpulkan bahwa sikap keras kepala para penumpang menyebabkan hal ini terjadi. Yang lain masih menyebutkan bahwa ini adalah hasil dari kombinasi aturan yang tidak jelas dan egoisme para penumpang.

Jelas bahwa bagi sebagian besar dari kita yang mematuhi peraturan pemerintah yang tinggal di rumah dan menghindari mudik Idul Fitri untuk membantu memutus rantai transmisi COVID-19, kita tertipu oleh kombinasi perilaku ini.

Tetapi kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa COVID-19 akan menavigasi aktivitas transportasi kita menjadi normal baru. Mike Ryan, direktur eksekutif program darurat kesehatan WHO, mengatakan bahwa virus ini mungkin saja menjadi virus endemik lain di komunitas kita seperti HIV, dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang. Pernyataan ini akan memengaruhi semua jenis normal baru dalam aktivitas kita sehari-hari, terutama dalam transportasi.

Jika kita membandingkan semua moda transportasi, baik melalui udara, laut atau jalan, teori yang jelas adalah bahwa lalu lintas penumpang akan sangat dipengaruhi oleh virus ini. Sektor yang paling parah terkena pandemi adalah transportasi udara.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) memproyeksikan bahwa akan ada penurunan 48 persen penumpang transportasi udara secara global. Di Indonesia, selama Maret 2020, penurunan mencapai 34 persen.

Dalam transportasi laut, lalu lintas kargo tidak begitu terdampakkecuali lalu lintas penumpang melalui kapal pesiar. Hal ini akibat dari lebih sedikit kontak manusia yang diperlukan dibandingkan dengan transportasi udara. Di Tanjung Priok, pelabuhan terbesar di Indonesia, ada penurunan 5 persen dalam lalu lintas peti kemas selama Februari dan Maret 2020. Secara global, lalu lintas pelabuhan telah turun 20 persen.

Menimbang jika COVID-19 tidak akan pernah pergi, perencana transportasi di seluruh dunia, terutama di Indonesia, perlu merencanakan kembali infrastruktur transportasi dan kegiatan operasinya. Digitalisasi akan menjadi kuncinya, di mana lebih sedikit kontak manusia diperlukan untuk kegiatan transportasi.

Di bandara, diharapkan lebih banyak penggunaan kartu masuk elektronik, tag bagasi elektronik, jarak fisik lebih jauh antara penumpang di ruang tunggu, makan tanpa kontak, pemeriksaan keamanan dan control perbatasan tanpa kontak, dll.

Pelabuhan harus tetap terbuka untuk menjaga rantai pasokan tetap utuh dan untuk memungkinkan perdagangan kargo terjadi. Lebih banyak langkah perlu diambil dalam proses logistik di gudang, pangkalan kontainer dan bongkar muat. Beberapa langkah disarankan oleh Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD): dokumentasi digital untuk membatasi kontak manusia seminimal mungkin, penyediaan peralatan pelindung yang cukup untuk pekerja pelabuhan, dan mengidentifikasi area dekontaminasi di bangunan pelabuhan.

Bus tanpa pengemudi akan menjadi pilihan yang masuk akal untuk menghindari kontak manusia antara pengemudi dan penumpang.

Di sisi perencanaan infrastruktur transportasi, akan ada penurunan permintaan dalam beberapa bulan dan tahun mendatang jika vaksin tetap tidak tersedia. Dengan persyaratan jarak fisik 2 meter, terminal bandara membutuhkan lebih banyak ruang bagi penumpang untuk menunggu di ruang tunggu dan makan.

Untuk transportasi perkotaan, antrian panjang akan terjadi ketika orang menunggu untuk naik bus, kereta komuter dan MRT. Di pelabuhan, area penyimpanan barang yang lebih besar diperlukan untuk menyimpan muatan yang digunakan untuk dekontaminasi atau inspeksi.

Penelitian oleh The Guardian menunjukkan bahwa jika orang menerapkan jarak fisik 2 meter saat mengambil jalur komuter reguler di London, antrian dari beberapa stasiun komuter akan memanjang hingga dua halte berikutnya. Di Indonesia, ada tantangan yang cukup besar bagi pemerintah dan warga negara untuk mengikuti aturan jarak 2 meter. Seperti yang bisa kita lihat, masih ada keramaian di beberapa stasiun MRT dan komuter.
Bagaimanapun juga, normal baru dari aktivitas transportasi akan mengubah seluruh rencana infrastruktur transportasi yang telah dimulai 20 tahun yang lalu. Rencana itu perlu direvisi.

Dibutuhkan lebih banyak upaya untuk memperbarui perkiraan permintaan dan menerjemahkannya ke dalam pengeluaran kapital dan operasional. Tetapi inilah yang memang harus dilakukan agar ekonomi kita terus menggeliat.

Tulisan ini sudah dimuat di Jakarta Post 28 Mei 2020 dengan judul “Navigating a new normal of transport activity after Covid-19”)

*Ing Hafida Fahmiasari ST MSc, Master Transportasi, Infrastruktur, dan Logistik dari TU Delft, kini bekerja sebagai peneliti pada sebuah lembaga internasional di Washington DC.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close