Menteri ESDM: Kita Bergantung pada Energi Impor

Menteri ESDM: Kita Bergantung pada Energi Impor
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengakui permintaan energi nasional terus mengalami peningkatan setiap waktunya.

Hal tersebut sejalan dengan adanya perkembangan teknologi, perekonomian nasional, maupun perubahan gaya hidup.

Namun, peningkatan konsumsi energi tersebut justru berpotensi memperburuk neraca dagang nasional. Pasalnya, sampai saat ini bauran energi nasional masih didominasi oleh bahan bakar fosil atau tidak terbarukan. Padahal, pada saat bersamaan jumlah cadangan bahan bakar fosil terus menipis.

Oleh karenanya, untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, saat ini pemerintah terpaksa melakukan impor. Ironisnya, sampai saat ini Indonesia masih terdaftar sebagai salah satu anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

"Kita bergantung pada energi berbasis bahan bakar fosil. Dan Indonesia merupakan salah satu anggota dari OPEC. Tapi cadangan kita terus menurun. Sekarang kita bukan lagi eksportir tapi importir. Kita bergantung pada energi impor," kata Arifin, dalam diskusi virtual, Selasa (8/9/2020).

Jika dilihat berdasarkan sumber pembangkit listrik, energi fosil masih sangat mendominasi.

Tercatat, hingga paruh pertama tahun 2020, sumangan energi fosil terhadap pembangkit listrik nasional mencapai 60.486 mega watt (MW) atau setara 85,31 persen dari total kapasitas terpasang nasional.

Oleh karenanya, Arifin menekankan pentingnya pengembangan industri energi baru terbarukan (EBT) guna menciptakan ketahanan energi nasional.

Kementerian ESDM mencatat, potensi pemanfaatan EBT mencapai 417,8 giga watt (GW). Namun, sampai dengan Agustus 2020, realisasi pemanfaatan EBT baru mencapai 10,4 GW atau etara 2,5 persen dari potensi yang dimiliki.

"Kita harus beralih dari bahan bakar fosil," ujar Arifin.

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), bauran EBT terhadap sumber energi nasional ditargetkan mencapai 23 persen. Dengan demikian, diharapkan ketergantungan impor bahan bakar fosil dapat terus berkurang.

"Konsumsi energi diproyeksi mencapai 1,4 TOE (Setara Ton Minyak) per kapita, dengan konsumsi 2.500 kWh per kapita," ucapnya.