Catatan Perjalanan ke Palestina (2)

Menjenguk Maqam Nabi Ibrahim AS di Hebron

Menjenguk Maqam Nabi Ibrahim AS di Hebron
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“YA ALLAH. Berilah kami kesempatan untuk berziarah ke Al-Haram Al-Ibrahimi!”

Demikian doa pelan terucap dari bibir saya pagi itu. Pagi itu, sekitar tiga tahun yang lalu, saya bersama 34 alumni Institut  Teknologi Bandung (ITB), sudah berada di dalam bus. Sebuah bus yang akan membawa kami menuju Al-Khalill alis Hebron. Untuk berziarah ke Al-Haram Al-Ibrahimi (atau lebih tepatnya Masjid Al-Ibrahimi).

Lo, ada apa di Al-Haram Al-Ibrahimi?

Kota Al-Khalil, alias Hebron, merupakan sebuah kota kecil sekitar 30 kilo meter di sebelah selatan Bait Al-Maqdis alias Jerusalem. Nah, di bagian lama kota tersebut (Old City), terdapat sebuah  situs bersejarah kondang. Yaitu situs yang disebut orang-orang sebagai Makam Para Leluhur (Cave of the Patriarchs) atau Gua Makhpela atau Me’arat ha-Machpelah. Dalam bahasa Arab, situs itu  disebut Al-Haram Al-Ibrahimi. Alias “Tempat Suci Ibrahim”.  Wilayah yang terletak di tengah-tengah lingkungan orang-orang Palestinna itu dibagi menjadi dua: H-1 merupakan wilayah orang Palestina (80%). Sedangkan H-2 merupakan wilayah pemukiman orang Yahudi. 

Al-Haram Al-Ibrahimi tersebut dipandang suci bagi tiga agama utama di dunia. Yaitu agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Orang Yahudi berpendapat,  Abraham (Nabi Ibrahim a.s.), Sarah ( istri beliau), Isaac (Nabi Ishaq a.s.), Ribka atau Rebecca, (istri beliau), Jacob (Nabi Ya‘qub) dan Lea ( istri beliau) dimakamkan di Gua Makhpela atau Me’arat ha-Machpelah tersebut. Karena itu, orang Yahudi juga menyebut Al-Khalil atau Hebron sebagai “Kota Para Leluhur,”. Menurut mereka, situs tersebut merupakan salah satu (tempat suci kedua) dari empat kota paling suci bagi mereka, selain Yerusalem, Tiberias dan Tzfat.

Sepanjang sejarah, di tempat ini pernah tegak sinagog, gereja, dan masjid. Ruang Nabi Ishaq a.s. kini menjadi Masjid Al-Ibrahimi. Sedangkan Ruang Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ya‘qub a.s. menjadi sinagog Yahudi. Untuk penziarah Muslim, bagian yang dapat dikunjungi adalah bagian masjid. Bukan sinagog. Karena itu,  untuk penziarah Muslim pintu masuknya berbeda dengan penziarah Yahudi dan penziarah lain: mereka harus memasuki komplek tersebut lewat Gerbang Barat (Western Gate). Setiap pengunjung wajib lapor pada otoritas Israel yang menjaga sangat ketat situs tersebut.

Masjid Al-Ibrahimi memiliki dua menara dengan tinggi 15 meter. Mimbar Masjid Al-Ibrahim memiliki ciri khas tersendiri dengan design periode Dinasti Fatimiyah yang terletak di sebelah kanan tangga mihrab tetap terjaga hingga kini. Makam para nabi dan istrinya memiliki bentuk yang berbeda. Makam para Nabi berbentuk segi delapan. Sedangkan makam para istri Nabi berbentuk segi enam.

Lingkungan yang Kerap Bergolak

Pagi itu, selepas bus yang kami naiki meninggalkan hotel yang kami inapi, bus itu segera merayapi  Derech Haofel St., jalan yang berada di sebelah kanan Komplek Masjid Al-Aqsha yang dikitari tembok. Kawasan yang berada di dalam tembok itu disebut Old City. Itulah kawasan suci bagi para pemeluk tiga agama utama dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam. Di kanan dan kiri jalan tersebut terdapat sederet situs-situs utama Kota Suci itu. Antara lain Gereja St. Anne, Gereja dan Makam Bunda Maria, Basilika Gethsemane, dan Makam Nabi Zakariya a.s.

Sambil menyimak pemandangan di arah kanan dan kiri bus, saya sempatkan pula mencermati tembok yang melingkungi Old City of Jerusalem. “Sejatinya kota ini cantik. Namun, dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, hingga kini, kota ini lebih kerap mengalami penderitaan ketimbang kenyamanan,” demikian gumam bibir saya. Sambil “menikmati” perjalanan di Kota Tua itu, di samping mendengarkan paparan yang dikemukakan tour guide Palestina. 

Kemudian, setelah bus itu melewati Ma’ale Hashalom St., dan berada tepat di samping Gerbang Daud (Daud Gate), tiba-tiba dalam benak saya “melenting” pertanyaan, “Seperti apakah Jerusalem pada masa Daud?”
“Menurut ukuran masa kini,” jawab Karen Amstrong dalam sebuah  buku berjudul Jerusalem: One City, Three Faiths, “kota itu kecil. Hanya terdiri atas sekitar lima belas hektar saja. Seperti kota-kota lain di area tersebut, kota itu terdiri dari sebuah benteng yang mengitari sebuah istana dan rumah-rumah para aparatur militer dan sipil. Kota itu tidak dapat mengamodasi lebih dari dua ribu orang.”    

Selepas melewati Ma’ale Hashalom St., segera bus itu melesat menuju ke arah Hebron. Di jalur utama kota itu, saya lihat banyak rumah-rumah mewah yang memasang bendera yang berlambang Bintang David. Tampaknya, rumah-rumah itu milik orang-orang Yahudi warga Israel. Kemudian, ketika bus itu meninggalkan perbatasan Kota Jerusalem, saya lihat beberapa tentara Israel sedang siap di check-point di perbatasan itu. Jerusalem, atau Bait Al-Maqdis, atau Al-Quds, kini memang berada di bawah kekuasaan Israel. Bukan berada di bawah kekuasaan Palestina. Karena itu, untuk memasuki Kota Suci itu harus mendapatkan izin khusus dari pihak Israel.

Selepas melintasi Kota Bethlehem, tanpa berhenti, bus itu akhirnya  tiba di Hebron, sebuah kota utama di wilayah Tepi Barat (West Bank), Palestina. “Alhamdulillah, hari ini kita dapat berziarah ke dalam Al-Haram Al-Ibrahimi,” ucap tour guide Palestina yang duduk di samping kanan saya. Dengan wajah berbinar-binar. Saya pun bersyukur, mendengar penjelasan tour guide Palestina yang demikian. Perlu dikemukakan, memasuki lingkungan Al-Haram Al-Ibrahimi “untung-untungan”. 

Lo, mengapa? 

Ini karena lingkungan tersebut kerap bergolak. Pergolakan antara warga Palestina, sebagai para penghuni lama lingkungan tersebut, dan para pemukim baru Yahudi yang kian memperluas pemukiman yang mereka dirikan. Kota tua ini sendiri, sejak 1997-berdasarkan perjanjian antara PLO dan pemerintah Israel-terbagi menjadi dua area: are H1, yang meliputi sekitar 80 persen dari kota tersebut di bawah kendali Palestina. Sedang sisanya di bawah kendali Israel (termasuk lingkungan Al-Haram Al-Ibrahimi). 

Begitu kian dekat dengan Al-Haram Al-Ibrahimi, melewati lorong-lorong yang berkelok-kelok, saya pun mengingatkan rombongan untuk lebih hati-hati. Karena hari belum siang, saya lihat tidak banyak anak-anak Palestina yang “menyambut” kami. “Mohon tetap menjaga diri. Ini lingkungan yang kerap bergerak,” ucap saya. Sambil  mencermati lingkungan  tersebut. Saya pun, karena kunjungan itu merupakan kunjungan keenam bagi saya, segera menyadari, meski tidak terlalu kentara, adanya “gerakan” tentara Israel. Di berbagai sudut jalan yang kami lewati. Di beberapa atap rumah, mata saya melihat beberapa sniper Israel sedang siaga penuh. “Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâh,” gumam pelan bibir saya tanpa memberitahukan hal itu kepada rombongan. Sambil memantau rombongan yang sedang melewati lorong-lorong di lingkungan yang telah berusia ribuan tahun itu. 

“Alhamdulillâh wasy syukru lillâh. Di depan itu adalah Al-Haram Al-Ibrahimi. Silakan masuk lewat pintu pemeriksaan dengan detektor di depan kita itu,” ucap saya kepada  rombongan. 

Selepas melewati pintu pemeriksaan, yang diawasi ketat tentara Israel, mereka kemudian menaiki tangga Gerbang Barat yang menuju ke bagian dalam Masjid Al-Ibrahimi. Setelah belok ke arah kanan dan kemudian belok ke arah kiri, di hadapan mereka terdapat Maqam Sarah, istri Nabi Ibrahim a.s. Lo, apa itu maqâm?  Situs yang di sekitar tempat itu seseorang diperkirakan dikebumikan.

Begitu masuk ruang luas, selepas melintasi Maqam Sarah, di situ terdapat mihrab dan dua maqam. Yang pertama, berbentuk persegi enam, adalah Maqam Rifqa (atau Rebecca, istri Nabi Ishaq a.s.). Sedangkan di sebelah kanannya ada sebuah maqam berbentuk segi delapan. Itulah Maqam Nabi Ishaq a.s. Di depan, ke  arah kiblat, terdapat sebuah mihrab yang dibuat pada masa Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, penguasa Dinasti Ayyubiyah yang berhasil merebut kembali Palestina dari tangan Pasukan Salib. Di arah sebaliknya terdapat sebuah gua yang disebut Makam Para Leluhur (Cave of the Patriarchs) atau Gua Makhpela atau Me’arat ha-Machpelah: tempat yang dipandang suci orang-orang Yahudi.

Kini, di mana Maqam Nabi Ibrahim a.s. dan maqam cucu beliau, Nabi Ya’qub a.s.? Maqam Nabi Ibrahim as.s berada di sebuah ruangan yang terletak di belakang Makam Para Leluhur. Sedangkan Maqam Nabi Ya’qub a.s. berada di balik sekat yang membatasi ruangan yang menjadi lokasi Nabi Ishaq a.s. dan istrinya. Kaum Muslim tidak diperkenankan memasuki ruangan di mana Maqam Nabi Ya’qub a.s. dan istrinya, Leah, berada. Kecuali pada hari-hari tertentu.

Ketika rombongan sedang asyik mendengarkan penjelasan dari tour quide  Palestina, tentang Al-Haram Al-Ibrahimi, saya pun pelan-pelan memasuki ruangan yang di mana terdapat Maqam Nabi Ibrahim a.s. Sejenak saya berdoa. Kemudian, ketika saya mengarahkan pandangan saya, lewat jendela berjalusi besi, ke arah gundukan yang dikatakan sebagai Maqam Nabi Ibrahim a.s., segera benak saya pun “melayang-layang”. Jauh ke masa silam. Ya, ke masa silam yang sangat jauh: untuk menelusuri “curriculum  vitae” Nabi Ibrahim a.s.

Sederet Kegagalan
Kini, kita berada pada masa sekitar 2.100 sebelum Masehi. 

Pada masa itu, muncul seorang Nabi dan Rasul yang namanya disebut 40  kali  dalam Al-Quran. Rasul yang satu ini, dalam Al-Quran, digambarkan sebagai orang yang  menyerahkan  diri sepenuhnya  kepada Allah. Sehingga, perintah apa pun ia lakukan, meski hal itu bertentangan dengan pikiran dan perasaannya.

Kini, siapakah sejatinya Nabi Ibrahim a.s. ini?

“Garis keturunan Nabi Ibrahim a.s.,” jawab Ibn Katsir dalam sebuah karyanya seperti telah dikemukakan di muka, Qashash Al-Anbiyâ’, “adalah sebagai berikut: Ibrahim bin Terah bin Nahur bin Sarugh bin Raghuh bin Faligh bin Ahr bin Syalih bin Arfghshand bin Sam bin Nuh. Dengan kata lain, Nabi Ibrahim a.s., menurut Ibn Katsir, adalah anak keturunan Nabi Nuh a.s.

Lain halnya dengan pendapat Dr. Shauqi Abu Khalil tentang nama ayah Nabi Ibrahim a.s. Menurut Dr. Syauqi Abu Khalil, nama ayah Nabi Ibrahim a.s. bukan Terah, tapi Azar. Tulis Dr. Shauqi Abu Khalil dalam karyanya di atas, Atlas of the Qur’an, tentang sang Nabi, “Lahir di kawasan Irak selatan, Nabi Ibrahim a.s. semula tinggal di Kota Ur, Chaldea. Ayahnya adalah Azar bin Nahûr, meski ada yang menyatakan bahwa Azar adalah pamannya. Kekaburan itu berpangkal dari kebiasaan memanggil paman seseorang (yaitu salah seorang saudara kandung lelaki ayah seseorang) dengan panggilan “ayah”. Azar adalah seorang warga Kutha, sebuah desa di pinggiran Kota Kufah.”

Nabi dan Rasul yang lahir di Ur, Babylonia, sekitar 2.1000 tahun sebelum Masehi,  sebuah kota di Irak dan kini berubah menjadi gurun pasir.  Ur, kala itu, merupakan sebuah kota yang cantik dan gemerlap dengan penduduk berjumlah sekitar 100.000 orang. Nabi Ibrahim a.s., menurut Ibn Katsir dalam karyanya yang sama, adalah anak nomor dua dari dua bersaudara. Kedua saudaranya bernama Tahur dan Haran. Nah, Haran mempunyai seorang putra bernama Luth, yang kelak juga menjadi seorang Rasul sebagaimana Nabi Ibrahim a.s. Dengan kata lain, Nabi Luth a.s. adalah keponakan Nabi Ibrahim a.s. 

Kala masih muda usia, Ibrahim adalah seorang anak muda yang senantiasa gelisah. Ia senantiasa gelisah, karena menyaksikan berbagai penyimpangan dan kesesatan yang berkembang dalam masyarakatnya. Kegelisahan itu kian lama kian membara. Akhirnya, kegelisahannya itu memacunya untuk mencari Tuhan yang menurutnya selayaknya disembah. Lewat kegelisahan yang berangkat dari keraguan, namun tidak berhenti pada keraguan itu selamanya, Ibrahim akhirnya menemukan Tuhan kala itu ia sedang menyendiri di sebuah gunung. 

Selepas menuntaskan keraguan dan pencarian ruhaniah tersebut, yang membuat Nabi Ibrahim a.s. akhirnya meyakini adanya Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, dan Maha Bijaksana, dan kemudian setelah diangkat sebagai Nabi dan Rasul, kini langkah sang Nabi mulai terarah untuk melaksanakan risalah seperti tugas yang pernah diemban Nabi Nuh a.s.: menyerukan kepada kaumnya supaya kembali pada ajaran yang dibawa Nabi Adam a.s. Yaitu ajaran yang mengumandangkan  bahwa  Allah  Swt. adalah Tuhan semesta alam, bukan Tuhan satu ras dan bangsa. Juga, bukan Tuhan yang terbatas untuk satu periode tertentu. 

Menerima tugas berat sebagai seorang Rasul, Nabi Ibrahim a.s. pertama-tama menebarkan seruannya kepada ayahnya tercinta, Azar. Namun, usahanya tersebut gagal. Meski gagal dengan usaha mulianya tersebut, Nabi Ibrahim a.s. tidak putus asa. Sang Nabi kemudian mengarahkan ajakannya kepada warga Babylonia. Ternyata, sambutan mereka tidak beda jauh dengan sambutan yang ditunjukkan ayahandanya: menolak sepenuhnya  ajakannya itu. Meski sang Nabi telah mengemukakan berbagai argumen tentang kebatilan menjadikan berhala sebagai tuhan. 

Gagal dengan usahanya tersebut, Nabi Ibrahim a.s. kemudian merencanakan untuk membuktikan kepada kaumnya tentang kesalahan mereka dalam menyembah berhala. Lagi-lagi, usahanya mengalami kegagalan. Melihat kesempatan menyampaikan seruannya yang sangat terbatas di bumi kelahirannya, Nabi Ibrahim a.s., yang kala itu telah menikah dengan Sarah, lantas meninggalkan tanah airnya. Kini, pandangannya terarah ke Haran, suatu wilayah yang terletak di bagian utara Semenanjung Arab. Jauh dari tanah kelahirannya. Sang Nabi, menurut Dr. Shauqi Abu Khalil dalam sebuah karyanya berjudul Atlas of the Qur’an, berhijrah ke Haran, dengan melewati sederet provinsi modern di Irak dewasa ini: Muntafiq, Diwaniya, Hilla, Baghdad, dan Mosul. Bersama istrinya dan Luth, juga seorang Nabi, yang juga disertai istrinya. Di sana, mereka menemukan penduduk yang menyembah bintang. 

Ternyata, seperti halnya penduduk Babylonia, penduduk Haran pun menolak seruan Nabi Ibrahim a.s. Karena itu, di Haran sang Nabi dan rombongannya tinggal hanya beberapa lama. Sang Nabi, istrinya, Nabi Luth, dan juga istrinya (konon bernama Edith), kemudian menuju Palestina. Namun, karena kondisi Palestina kala itu sedang paceklik, mereka lantas melanjutkan perjalanan mereka ke arah barat, menuju Mesir. 

Bertani di Mesir

Di Negeri Piramid, mereka berniaga, bertani, dan beternak. Selama berada di Mesir, sang Nabi yang, konon, menguasai lima bahasa, juga mendapat hadiah seorang pelayan, Hajar, dari penguasa Mesir kala itu. 

Setelah beberapa lama di Negeri Piramid, mereka kemudian kembali ke Palestina selatan. Di sini, Nabi Luth a.s. dan istrinya berpisah dengan Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya, Sarah dan pelayannya, Hajar. Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya kemudian menetap di B’ir Sheba (Al-Saba’). Sedangkan Nabi Luth a.s. dan istrinya kemudian melanjutkan perjalanan dan kemudian menetap di wilayah selatan Laut Mati. Di wilayah itu, Nabi Luth a.s. menyampaikan seruannya kepada penduduk Sodom dan Gomorah. 

Di sisi lain, setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Nabi Ibrahim a.s. dan Sarah tidak kunjung dikaruniai anak. Karena itu, untuk memeroleh keturunan, Sarah pun mengizinkan suaminya untuk menikahi Hajar, pelayan mereka. Dari perkawinan ini lahirlah kemudian Isma‘il, ketika Nabi Ibrahim a.s. berusia sekitar 68 tahun. Ternyata, kehadiran Isma‘il, membuat rasa cemburu Sarah kepada Hajar bersemi. Akhirnya, tidak tahan dengan rasa cemburu yang kian membara itu, kemudian Sarah meminta sang suami tercinta agar memindahkan Hajar beserta anaknya yang masih menyusu ke suatu tempat yang sangat jauh. Ya, ke tempat yang sangat jauh, sehingga kuasa meredam rasa cemburu Sarah yang kian lama kian membara: ke Makkah.

Selain itu, Nabi Ibrahim juga menerima perintah untuk membangun kembali Ka‘bah Al-Musyarrafah. Usai melaksanakan perintah mulia itu, Nabi yang tangguh dan memiliki  anak keturunan yang banyak menjadi Nabi itu kemudian balik ke Palestina. Di sana, di Palestina, pulalah sang Nabi menetap hingga berpulang. Jenazahnya dimakamkan di Hebron  (atau Al-Khalil). Di makam itu pula kemudian dimakamkan pula putranya, Nabi Ishaq a.s. dan istrinya, dan cucunya Nabi Ya‘qub a.s dan istrinya.

Selepas berziarah di Al-Haram Al-Ibrahimi, kami kemudian meninggalkan komplek tersebut. Selepas kami meninggalkan kota yang sejak 2018 ditetapkan Unesco sebagai Warisan Kultural Dunia, dan sebelum kembali ke Jerusalem, kami mampir dulu di Bethlehem. Beberapa lama. Dan pada siang hari, kami telah berada kembali di Jerusalem: untuk melaksanakan shalat ‘Asar, Maghrib, dan Isya di lingkungan Komplek Masjid Al-Aqsha. Dan, esok harinya, kami meneruskan perjalanan menuju Jordania.

“Ya Allah. Karuniakanlah kembali kepada kami kesempatan untuk mengunjungi lagi Bumi Palestina.” Demikian doa pelan bibir saya, ketika bus Jordania yang kami naiki melintasi King Hussein Bridge dan memasuki wilayah Jordania.

“Allâhumma âmîn.”