Catatan dari Senayan

Menjadi Islam Kaffah Tetap Cinta NKRI

DI usia Republik Indonesia yang ke-74 ini kita bangga dengan prestasi anak-anak muda di berbagai bidang. Kepeloporan mereka di bidang startup, di bidang seni dan olahraga, dan munculnya banyak pengusaha dan politisi muda. Tapi pada saat yang sama kita prihatin dengan banyaknya generasi muda yang tidak tepat dalam menjalankan ajaran agamanya.

Antara lain ada yang menganggap aparat keamanan, terutama polisi itu toghut, kafir, karena mereka dianggap melakukan kriminalisasi terhadap orang-orang beragama. Sudah berapa banyak polisi dan pos polisi yang diserang sejumlah anak muda karena dianggap sebagai “musuh.” Terakhir kita saksikan penyerangan terhadap polisi di Wonokromo, Surabaya.

Komunitas lain di luar kelompok mereka pun dituding kafir karena tidak mengikuti syariat Islam. Umumnya mereka baru belajar Islam lalu salah memahami syariat Islam dan menganggap semua orang harus sepaham dan mengikuti apa yang mereka pahami itu. Mereka tidak menyadari tengah berada di dalam negara majemuk dengan beragam agama, golongan, suku, dan ras.

Anak-anak muda tertentu juga menunjukkan performance yang berbeda dengan unumnya masyarakat Indonesia. Dengan pakaian khas meniru pakaian khas bangsa lain dan menganggap saudara sebangsa yang tidak sama dengan cara berpakaian mereka adalah kelompok yang salah tidak “syar’i.” Padahal.menjadi Islam.tidak harus menjadi orang Arab. Kita berislam dengan tetap menjadi bangsa Indonesia.

Menghormat bendera Merah Putih dianggap dosa dan syirik. Bahkan mereka pun ada yang menentang hukum negara dengan dalih bukan hukum Qur’ani.

Kita prihatin terhadap cara pandang yang demikian. Islam dan agama-agama lain tidak sesempit itu. Islam tidak perlu dihadapkan “vis avis” dengan negara. Islam diakui sebagai agama dengan jumlah pemeluk terbesar di negeri ini. Ajaran Islam banyak menjadi sumber peraturan perundangan, tetapi semuanya diwadahi dalam dasar Pancasila yang mengayomi semua pemeluk agama di Indonesia. Kita bebas beribadah menurut agama masing-masing tanpa hambatan dan represi.

Kita pernah mempunyai “Piagam Jakarta” atau “Jakarta Charter” yang sangat Islami yang menuntun kita dalam berbangsa dan bernegara. Tetapi pada saat pengesahan Konstitusi, 18 Agustus 1945 dalam Pembukaan UUD 1945 atas dasar kesadaran para pemimpin bangsa untuk mengurangi tujuh kata, yakni “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”. Kompromi para pemimpin bangsa itu tentu demi terjaganya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada saat Dekrit Presden tanggal 5 Juli 1959, Piagam Jakarta dinyatakan menjiwai UUD 1945.

Anak-anak muda yang bersemangat menjalankan Islam yang kaffah atau Islam yang utuh barangkali belum sempat membaca sejarah kelahiran bangsa ini. Bahwa para pendiri bangsa sudah meletakkan syariat Islam itu sangat tinggi posisinya, tetapi tidak dapat dipaksakan untuk seluruh entitas bangsa yang majemuk ini. Dengan kata lain, kita semua, termasuk generasi muda, tetap dapat menjalankan Islam yang kaffah dengan tetap menjaga dan mencintai NKRI.

Adalah menjadi tugas kita sebagai anak bangsa untuk terus menebarkan semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan meletakkan Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

Salam Persatuan. Merdeka!!!

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close