Menjadi Bangsa Visioner

06:00
481

Setidaknya ada tiga pandangan publik terhadap kebijakan negara. Pandangan pertama, negara itu serba benar. Setiap langkah dan kebijakan negara diambil karena ada kebutuhan. Ketika reformasi yang ditandai dengan jatuhnya rezim Orde Baru di bawah Soeharto, ada sejumlah tuntutan reformasi. Antara lain; penegakan hukum, mengurangi dominasi kekuasaan eksekutif, membentuk sejumlah lembaga negara, membuka kran demokrasi, penegakan hak asasi manusia, dan lain sebagainya. Ujungnya adalah melakukan amandemen konstitusi atau UUD 1945. Hasilnya ada perubahan dan penambahan sejumlah pasal UUD 1945.

Bagi yang berpandangan negara serba benar, hasil amandemen konstitusi itu sangat positif. Ada perubahan dari executive heavy ke legislative heavy; masa jabatan Presiden dibatasi, dilembagakan checks and balances dalam kekuasaan yudikatif ditandai dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial, Mahkamah Agung sebagai pemegang  kekuasaan kehakiman, dan seterusnya. Turunannya melalui sejumlah undang-undang dilahirkan Komisi Pembrantasan Korupsi (KPK), dipisahkannya kepolisian dari tentara dan lainnya.

Sebaliknya yang berpandangan negara serba salah, selalu negatif dalam menilai apa yang menjadi langkah dan kebijakan negara dalam semua hal. Amandemen UUD 1945 dinilai sebagai demokratisasi yang kebablasan, bahkan cenderung liberal. Pers yang sangat bebas, banyaknya partai yang hanya menimbulkan   kegaduhan, pemilihan anggota legislatif dan pemilihan kepala daerah yang transaksional. Lalu banyak yang menjadikan amandemen konstitusi sebagai kambing hitam. Bahkan ada yang ingin kembali ke UUD 1945 asli.

Pandangan ketiga adalah pandangan yang menilai semua masalah secara obyektif-proporsional. Amandemen UUD 1945 adalah keniscayaan dalam mengkanalisasi sejumlah tuntutan reformasi. Tanpa amandemen, negara akan stagnan. Bangsa ini tak akan mampu mengikuti perkembangan global dan akan tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Jika kemudian   ada dampak negatif dari amandemen konstitusi juga harus diakui. Hal ini yang kemudian menjadi tugas kita bersama untuk membenahi, bagian mana yang perlu ditata ulang karena iya semua merupakan bagian dari “try and eror” perjalanan bangsa kita.

Pandangan serba benar dan serba salah sulit untuk disatukan. Masing-masing kemudian melahirkan sikap optimistik dan overconfidence di satu sisi, namun di sisi lain muncul sikap pesimistik dalam menghadapi masa depan bangsa. Keduanya kemudian tumbuh menjadi semacam mazhab. Tentu cara melihat hitam-putih seperti itu tidak sehat dan bahkan terkesan sebagai pandangan yang picik dan subyektif. Kajian yang mendasarkan pada kedua “mazhab”   terasa dangkal. Dalam kenyataannya, hal itu yang kemudian mewarnai kehidupan sosial bangsa kita harus terus berjalan maju dalam menatap masa depan. Setelah 72 tahun merdeka, setelah 17 tahun reformasi, kita ingin semuanya tertata   rapi. Kehidupan kebangsaan dan kenegaraan dapat dipandu melalui sistem yang semakin mapan.

Comments

comments