Catatan dari Senayan

Mengusut Tuntas Dalang Rusuh 22 Mei

RUSUH 22 Mei saat berlangsungnya unjuk rasa mendukung Prabowo-Sandi berlalu sudah. Duka mendalam tersisa karena jatuhnya sejumlah korban jiwa, luka dan harta. Yang tersisa lainnya, mencari dalang kerusuhan. Kita tidak dapat membiarkan dark number atau jejak gelap kali ini, setelah 20 tahun lalu peristiwa serupa terjadi di akhir pemerintahan rezim Orde Baru. Saat itu ada penembak gelap di tengah unjuk rasa di kampus Universitas Trisakti.

Kalangan pengamat dan rakyat awam sudah bersuara. Bahwa ada penunggangan dalam aksi unjuk rasa 22 Mei. Para pengunjuk rasa, para elite penyelenggara unjuk rasa sudah mendekler bahwa para perusuh pada 22 Mei itu bukan dari pihaknya. Meskipun sesungguhnya mereka tak boleh begitu gampang melempar tanggung jawab. Bukankah adanya kerusuhan yang memakan korban jiwa itu tak akan terjadi andai mereka tidak menggelar aksi massa. Bukankah sebelumnya sudah banyak yang mengingatkan bahwa jika aksi tetap dihelat akan sangat riskan, karena membuka ruang penunggang gelap bermain.

Lebih jauh ke belakang, unjuk rasa itu mestinya tak terjadi andai tak ada framing tak berdasar bahwa ada kecurangan dalam Pilpres 2019, pemilu tidak jujur, rezim penguasa bermain kotor, KPU dan Bawaslu sebagai penyelenggara pemilu –khususnya Pilpres–telah terkooptasi penguasa, Polri terlibat dalam kecurangan, dan sebagainya.

Belum lagi KPU mengumumkan hasil Pilpres 2019, Prabowo sudah mengklaim pihaknya memenangi Pilpes 56 persen, kemudian dikoreksi menjadi 52 persen. Sementara hampir semua quick count membeberkan hasil sebaliknya. Real count dari KPU dinafikan. Pengingkaran terhadap realitas itu sesungguhnya merupakan awal darl framing atau pembentukan opini bahwa Pilpres 2019 ini berlangsung curang. Upaya delegitimasi terhadap KPU mulai menggelinding dan menjadi alasan adanya aksi unjuk rasa menolak hasil pilpres.

Di sekitar itu ada kejadian menggegerkan, terbongkarnya kejahatan penyelundupan senjata yang melibatkan mantan komandan Kopasus dan tentara aktif. Senjata diduga kuat akan digunakan untuk aksi kerusuhan. Pada saat kerusuhan pun banyak ditemukan fakta-fakta bahwa kerusuhan itu sangat terencana bukan aksi spontan. Ada massa bayaran, aksi mobil ambulans berlogo parpol mengangkut batu, massa dengan mulut berbau minuman keras. Dari kondisi luka tembak pun diyakini bahwa penembak bukanlah aparat kepolisian yang mengawasi aksi unjuk rasa.

Adalah berawal dari tekad para elite tim Prabowo-Sandi yang tak akan mengajukan gugatan kekalahannya ke Mahkamah Konstitusi, sesuai aturan main. Mereka terang-terangan menyatakan akan berjuang di jalanan, memprovokasi akan menggerakkan people power sampai ada narasi yang sangat berbahaya, yakni akan melawan kecurangan “sampai titik darah penghabisan”. Lalu tindakan berbahaya lainnya pada saat unjuk rasa 22 Mei ketika batas waktu izin unjuk rasa sampai pukul 18.00 dilanggar, kemudian toleransi perpanjangan waktu yang diberikan aparat keamanan disalahgunakan. Itulah yang kemudian dimanfaatlan para perusuh.

Sebelumnya Prabowo cs telah berbalik langkah, setelah menyatakan penolakan terhadap penetapan hasil rekapitulasi KPU, tim 02 menyatakan menempuh jalur konstitusional maju menggugat KPU ke Mahakamah Konstitusi. Langkah yang benar tapi terlambat karena para pendukung Prabowo telanjur terprovokasi seruan turun ke jalan dan mereka yakini sebagai garis komando. Berlangsunglah aksi yang berlabel damai tapi diwarnai dengan kerusuhan, perusakan dan penembakan.

Peristiwa demi peristiwa seputar penolakan terhadap penetapan hasil Pilpres oleh KPU, gagalnya pengajuan gugatan ke Bawaslu, terbongkarnya kasus penyelundupan senjata, komando turun ke jalan, pernyataan berjuang melawan kecurangan sampai titik darah penghabisan, unjuk rasa di sekitar Bawaslu, kerusuhan dan jatuhnya korban jiwa dan harta, serta ditemukannya bukti-bukti adanya indikasi kerusuhan yang direncanakan, semua tak dapat dipisah-pisahkan. Ada semacam simbiosis mutualisme.

Analisa para pengamat menjelaskan bahwa ada kemiripan pola yang digunakan dalam kerusuhan Mei 1998 dengan kerusuhan Mei 2019. Dari rangkaian fakta-fakta itu kiranya sangatlah naif apabila elite 02 bersikap innocence, seolah tak berdosa.

Dengan rangkaian panjang fakta-fakta yang terpapar mereka semestinya mempertanggungjawabkan semua itu. Bertanggung jawab secara hukum dan kemanusiaan. Semuanya mesti melalui pengusutan profesional dan menghormati asas praduga tak bersalah sampai semuanya tuntas. Termasuk diketahui siapa dalang utamanya. Wayang tak akan pernah berperang tanpa ada dalang.

Mungkin berliku dan penuh tantangan untuk dapat mengusutnya seaca tuntas. Tapi itulah keniscayaan di negara hukum yang berkeadaban. Kita tak boleh mengulang sejarah kelam kejahatan kemanusiaan tanpa ada manusia penjahatnya.

Salam…

KOMENTAR
Tags
Show More
Close