Menghitung Harta Gono Gini

Menghitung Harta Gono Gini
Ilustrasi

Kehidupan berkeluarga sudah hampir 15 tahun, selama ini sebagai seorang perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga tidak pernah berkerja dan atau tidak menghasilkan uang (harta) untuk keluarga tetapi selalu mengurusi 3 oran anak dari perkawinan bersama suaminya tetapi sebelum perkawinan memiliki sebidang tanah sedangkan dalam ikatan perkawinan mendapat warisan dari orangtua.

Selama berumah tangga tidak pernah ada masalah, tetapi akhir-akhir ini sering terjadi keributan sepertinya rumah tangga sudah tidak dapat dipertahankan bahkan akan mengarah ke perceraian.

Pertanyaan, sejak kapan harta gono gini di hitung, bagaimana membaginya dan seorang istri akan mendapatkan bagian berapa dan bagaimana harta dari perolehan waris dari orang tuanya yang  diperoleh saat dalam perikatan perkawinan

Ruminten, Lampung 

JAWABAN .

Sebelum menjawab pertanyaan, terlebih dahulu kami terangkan macam-macam harta yang berhubungan dengan perkawinan, untuk itu kami akan mengacu pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan pasal 53 membagi harta dalam perkawinan menjadi 3 macam yaitu harta bawaan, harta waris dan atau hadiah  dan Harta bersama (Gono Gini)

  1. Harta Bawaan, yaitu harta yang diperoleh dari sebelum perkawinan. 
  2. Harta yang diperoleh melalui warisan atau hadiah 
  3.  Harta Bersama atau Gono-gini, yaitu harta yang diperoleh selama perkawinan

Harta bersama atau Gono Gini terjadi adalah harta yang diperoleh selama perkawinan dengan syarat perkawinan yang sah menurut hukum dan tidak melihat siapa yang mencari atau dengan kata lain harta yang dihasilkan oleh suami atau istri yang terikat perkawinan yang sah Cq Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang  Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. 

Dalam praktek harta Gono Gini tidak bisa dialihkan kepada pihak lain oleh suami atau istri tanpa persetujuan suami atau istri yang sah sedangkan mengenai harta bawaan dan harta yang diperoleh dari warisan atau hadiah di bawah kekuasaan masing-masing sehingga apabila akan dialihkan tidak harus mendapat persetujuan suami atau istri.

Harta Bersama atau gono gini dipermasalahakan apabila pasangan suami istri melakukan peceraian dan atau salah satu pihak meninggal dunia sementara pasangan yang hidup mau menikah lagi. 

Harta bersama atau gono gini adalah hak bersama suami istri yang besarannya masing-masing separo (50 %) dari harta yang diperoleh selama perkawinan dan hal tersebut. Dan seharusnya apabila terjadi perceraian dan saling menyadari untuk pembagiannya sangat mudah karena tinggal dibagi semua harta yang ada, dan apabila  pembagian secara Natural tidak bisa dapat dinilai dengan uang atau dengan cara dijual terlebih dahulu sementara apabila salah satu meninggal dunia maka dapat tetap dikuasai oleh yang masih hidup tetapi apaila pasangan yang masih hidup ingin menikah lagi maka sebaiknya dibagi, karena separo dari harta yang meninggal itu merupakan bundel waris yang menjadi hak-hak pihak lain. 

Apabila harta gono gini tidak dapat di bagi atau takut tidak dapat dibagi dapat secara damai maka sebaiknya diajukan gugatan ke pengadilan, dengan cara ;

  • Pembagian harta gono-gini dapat diajukan bersamaan dengan saat mengajukan gugat cerai.
  • Pembagian harta gono-gini diajukan setelah adanya putusan perceraian.

Bagi pasangan suami yang beragama islam dapat mengajukan ke Pengadilan Agama sedangkan bagi yang non mulsim dapat mengajukan ke Pengadilan Negeri.

Bagi yang beragama islam Harta bersama pembagian mengacu Inpres Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Komplikasi Hukum diantaranya pasal 97 dan Pasal 156, putusnya perkawinan karena perceraian terhadap harta bersama bahwa janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta gono-gini sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.

Hal ini juga sejalan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang dijadikan dasar di Pengadilan Negeri, yaitu cara pembagiannya masing-masing (suami-istri) mendapat setengah bagian dari harta gono-gini tersebut.

Demikian jawaban pertanyaan ini, semoga dapat bermanfaat.

Eka Intan Putri /Pengacara dan Konsultan hukum
Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum “INTAN” Bandarlampung