Catatan dari Senayan

Mengenang Gus Dur dan Pudarnya Semangat Toleransi

SEMBILAN tahun lalu, 30 Desember 2009, Indonesia berduka. Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, wafat pada usia 69 tahun. Gus Dur mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, setelah dirawat sejak 26 Desember 2009. Hari-hari ini haul wafatnya tokoh besar itu diperingati. Tadi malam peringatan dihelat di Pesantren Tebuireng Jombang, tempat Gus Dur dan para leluhurnya dimakamkan. Pada akhir pekan nanti haul direncanaàakan digelar di rumah keluarga, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Meninggalnya Gus Dur sembilan tahun lalu menjadi duka bagi Indonesia. Pernyataan duka ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY menyampaikan dukacita mendalam atas nama negara, pemerintah, dan pribadi atas meninggalnya Gus Dur. Dengan wajah sendu SBY meminta masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang selama sepekan sebagai bentuk penghormatan dan berkabung. SBY menjadi inspektur upacara pada pemakaman jenazah Gus Dur di Kompleks Pesantren Tebuireng pas pada tutup tahun 2009 itu. Puluhan ribu orang yang datang dari berbagai daerah menyaksikan mantan Ketua Umum PBNU itu. Rasa sedih, duka, dan linangan air mata dari para pentakziah pun tak terbendung.

Pria yang lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil ini merupakan cucu dari pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyeh KH Hasyim Asyari, dan putra dari Menteri Agama di era Presiden Soekarno, KH Wahid Hasyim. Dari garis Ibunya, Nyai Shalehah, Gus Dur juga cucu dari ulama besar KH Bisri Syansuri. “Darah biru” saja tidak cukup. Gus Dur menjelajahi dunia untuk belajar ilmu dan kehidupan.

Sepulang berkelana dari Timur Tengah dan Eropa, Gus Dur resah dengan rezim otoriter di zaman Orde Baru. Melalui tulisan dan diskusi dia melontarkan pemikiran kritis tentang demokrasi sambil membenahi NU dan umat pada unumnya. Gus Dur pun membangun jaringan, berdialog dan merangkul berbagai kalangan: lintas agama, lintas golongan, dan lintas etnis, untuk melakukan perubahan demokrasi dan menggerakkan semangat toleransi.

Di internal NU setelah berhasil memegang tampuk pimpinan, bersama para kiai dan aktivis, Gus Dur menghadirkan ajaran Islam yang moderat dan menempatkan NU sebagai garda terdepan dalam mendukung Pancasila. Presiden Soeharto waktu itu seolah mendapat dukungan besar. Penerimaan Pancasila yang dilakukan Gus Dur bersama NU juga menjadi pintu masuk menggalang kekuatan menyiapkan agenda reformasi. Begitu terbuka momentum, saat badai politik dan ekonomi mengempaskan Soeharto dari kekuasaan (yang digenggamnya erat selama 32 tahun), Gus Dur bergerak menuju kursi kepresidenan.

Banyak hambatan mengadang langkah Gus Dur. Rezim penguasa terang-terangan menjegal Gus Dur lewat dua Muktamar NU: di Krapyak, Yogyakarta (1989) dan di Cipasung, Tasikmalaya (1994). Gus Dur tak terbendung. Usai Habibie meneruskan sisa kepemimpinan Soeharto, Gus Dur terpilih sebagai Presiden pada Sidang MPR 1999.

Dalam waktu sekitar dua tahun memimpin pemerintahan banyak hal fundamental dilakukannya. Antara lain memisahkan TNI dari kekuasaaan dan penjaga keamanan. Meniadakan kebijakan yang diskriminatif dan membangan masyarakat yang pluralistik penuh toleransi, menggerakkan penyelesaian Papua dan Aceh secara melalui pendekatan dialogis. Gus Dur juga melakukan sejumlah perubahan kultural di Indonesia, antara lain dengan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional, diubahnya nama Irian Jaya menjadi Papua. Istana Presiden yang dulu terkesan angker dan tak mudah dijamah rakyat, di tangan Gus Dur menjadi tempat biasa.

Langkah Gus Dur tentu mengganggu banyak pihak, terutama para kroni Soeharto. Apalagi dengan menaik turunkan tokoh-tokoh partai dan tentara dalam kabinet. Muncullah kemudian konspirasi untuk menjatuhkan Gus Dur dari kekuasaan. Tanpa jabatan Presiden Gus Dur tetap menjadi Bapak Bangsa. Dia selalu berada di depan melawan kekuatan yang berpotensi memecah keutuhan bangsa dan negara. Gus Dur melakukan sejumlah perubahan kultural di Indonesia, antara lain dengan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Diubahnya nama Irian Jaya menjadi Papua, dan lainnya.

Terlepas dari sosoknya yang kontroversial, Gus Dur dinilai banyak orang telah mewariskan semangat persatuan dalam keragaman. Gus Dur memang dikenal sebagai tokoh yang mengedepankan toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Pemikiran Gus Dur tentang toleransi pun semakin dirindukan, terutama dalam kondisi maraknya penyebaran ujaran kebencian berlandaskan perbedaan, membanjirnya fitnah dan kebohongan. Presiden Joko Widodo saat mengenang Gus Dur sebagai tokoh yang mengingatkan bahwa Indonesia merupakan milik bersama, bukan milik golongan atau perseorangan. “Saya percaya, Gus Dur pasti gemes, geregetan, kalau melihat ada kelompok yang meremehkan konstitusi, mengabaikan kemajemukan, memaksakan kehendak, melakukan kekerasan, radikalisme dan terorisme,” kata Jokowi saat memberikan sambutan Haul Gus Dur ke-7 di Jakarta dua tahun lalu.

Bukan hanya Jokowi yang memuji peran Gus Dur. Sebagian besar rakyat Indonesia merindukan Gus Dur. Para peneliti dan akademisi menulis skripsi hingga disertasi tentang pemikirannya. Kepergian Gus Dur ditangisi banyak orang. Makamnya sehari-sehari selama sembilan tahun tak pernah sepi diziarahi. Ribuan orang dari berbagai agama dan etnis datang setiap hari.

Gus Dur sudah sembilan tahun tiada. Tapi semangat dan pemikirannya untuk menjaga keutuhan negeri dan toleransi tetap dikenang dan dirawat bersama. Ketika semangat persatuan dan kebangsaan terdegradasi kini, Gus Dur bagai hadir kembali dan terngiang di telinga kita rangkaian narasi dari dirinya tentang hak azasi, demokrasi, dan toleransi demi NKRI.

Beristirahatlah Gus dalam kedamaian.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close