Opini

Mengenang Almarhumah Ibu Sudjiatmi (1)

Tangis Bunda Tak Bersuara

Pengantar:

DI tengah keprihatinan bangsa kita bersama bangsa-bangsa lain di dunia menghadapi serangan virus corona (Covid-19) Ibu Sudjiatmi Rabu (25 Maret 2020) wafat menghadap Illahi. Semua orang memberi kesaksian bahwa Ibunda Presiden Joko Widodo itu seorang ibu yang sederhana, rendah hati, bijak, dan merakyat.

Sebuah buku karya almarhum Wasis Widjiono redaktur Senayanpost.com berjudul “Jokowi Jadul Kinanti” antara lain menggambarkan sosok almarhumah. Untuk mengenang beliau dan menghargai penulisnya, kami turunkan cuplikan isi buku yang terkait Ibu Sudjiatmi. Diturunkan tiga kali mulai hari ini. (Redaksi).
___________

IBU Sudjiatmi tidak pernah lupa dengan senyum terindah dalam hidupnya. Seperti baru kemarin senyumnya disunggingkan. Waktunya hampir tak berjeda ketika mengantarkan jiwa ragawi Joko Widodo (kini biasa disapa Jokowi) menghirup dunia nyata.

Sang suami, Widjiatno Notomihardjo meluruh perasaan berdebar- debarnya. Kegelisahannya lenyap. Tergantikan oleh syukur. Tuhan mewisudanya sebagai seorang ayah, pada hari Rabu Pon, 7 Suro, Masehinya 21 Juni 1961, di Rumah Sakit Brayat Minulya, Surakarta.

Sekaligus jadi pembuktian dua tahun setelah pernikahan Notomihardjo layak disebut sebagaiv wong lanang tenan, lelaki sejati. Benihmya kuat. Kebahagiaannya tak ternominalkan.

Ibu Sudjatmi diselimuti suka cita. Rasanya hampir menyentuh garis batas puncak emosi bersyukur. Air matanya menyusul senyuman. Wajahnya mewek, menangis tanpa suara. Tangis bahagia. Menghapus yang tak enak di tubuh selama dalam kehamilan. Melupakan berbilang-bilangan sakit karena kontraksi kandungan.

Jadi Kunang-kunang Surga

Setelah Jokowi lahir, sang ibu ini melanjutlan ketaatannya kepada Tuhan dan suaminya. Lahir empat adik Jokowi. Masing-masing Tit Sriyantini, Ida Yanti, Titik Relawati, dan dan anak lanang lagi, Joko Lukito. Namun meninggal saat persalinan.

Ada tangis doa. Itu jelas tidak bisa dipungkiri. Ibu Sudjiatmi tidak mau larut. Keimanannya kepada Tuhan telah menebalkan kehakkulyakinannya. Keihlasan diambilnya Joko Lukito dianggapnya sebagai tidak diizinkannya almarhum oleh Sang Khalik untuk menilmati indahnya dunia. Diaanggap saja sebagai kebahagiaan di keabadian.

Ibu Sudjiatmi sadar Tuhan tak perlu izin. Joko Lukito dipilih. Zat Maha Pencipta memiinta kepada Ibu Sudjiatmi .Joko Lukito masuk dalan Laskar Wildanummukholladuun, menjadi barisan pelayan surga. Jadi pemuda abadi. Jadi salah satu anak yang mengelilingi manusia paling agung di seluruh jagat galaksi. Muhammad SAW.

Ia bersinar seperti kunang-penghias surga. Ia menjadi dinding penghijap api neraka untuk kedua orang tuanya. Ibu Sudjiatmi sangat paham soal itu. Baginya urip mung sak dermo nglakoni, manut kersaning Gusti. Hidup hanya dijalani, menaati kehendak Illahi. Satu kearifan karakter khas perempuan Jawa.

Ibu Sudjatmi juga sadar, ketetapan Sang Khalik terhadap Joko Lukito tak lain untuk membahagiakan dirinya. Kalau awalnya harus mengalami nestapa. Itu memang “pakaiannya”. Setelah sedih pasti akan datang kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan iiru sudah disandingkan Tuhan untuknya.

Dua Joko yang lahir dari Ibu Sudjiatmi menjadi dua ksatria yang menjaganya. Joko Widodo nama itu jabarannya anak laki-laki yang selamat, menjadi pengawal Ibundanya di bumi. Joko Lukito, anal laki-laki yang meluhurkan, ia diyakini akan menempatkan orang tuanya di posisi luhur; surga. (Bersambung).

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close