Mengenang Aksi Damai 411 yang Gagal Total

Mengenang Aksi Damai 411 yang Gagal Total

EMPAT tahun lalu sekelompok anak bangsa yang mengatasnamakan umat Islam, mengusung aksi damai pada tanggal 4 November 2016.

Gerakan tersebut dikenal juga dengan sebutan Aksi Bela Al-Qur’an, Aksi Damai, Aksi Bela Islam, yang berlangsung di Jakarta. Pelaku aksi turun ke jalan dalam rangka memprotes pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias BTP yang dianggap menistakan Islam.

Ucapan BTP yang dianggap menistakan Islam adalah berupa kalimat 'jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51'. Kalimat itu diucapkan BTP pada 27 September 2016, saat ia melakukan kunjungan kerja ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. 

Aksi 4 November 2016 bukanlah yang pertama, karena pada 14 Oktober 2016, pelaku aksi yang dikomandoi oleh FPI, berunjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta, menuntut agar penyelidikan atas kasus penistaan agama yang dilakukan oleh BTP, segera digelar.

Berbeda dengan sebelumnya, pada Aksi 411 dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Amien Rais (mantan Ketua MPR RI), Fahri Hamzah (yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI), Fadli Zon, serta penyanyi Ahmad Dhani dan Rhoma Irama. Pelaku aksi mendesak diprosesnya tindakan hukum terhadap BTP.

Sebagian masyarakat menduga, kasus BTP hanyalah sasaran antara dari sasaran utama melakukan terminasi secara inskonstiusional terhadap keberlangsungan pemerintahan Joko Widodo.

Aksi 411 yang diyakini pelakunya dapat menterminasi, ternyata tidak sesuai harapan. Gagal Total.

Sebulan kemudian, aksi lanjutan digelar pada 02 Desember 2016, yang kemudian dikenal sampai sekarang dengan istilah PA 212. Aksi 2 Desember 2016 juga patut diduga melanjutkan upaya terminasi yang gagal diwujudkan pada November sebelumnya.

Mengapa aksi-aksi itu gagal total? Bahkan pemerintahan Joko Widodo terus melangkah memasuki periode kedua pada musim pemilu 2019 lalu.

Mengapa gagal? Jawabannya sangat sederhana. Yaitu, karena Allah SWT tidak ridho dengan gerakan mereka, sebuah gerakan yang mengatasnamakan Islam namun sama sekali jauh dari tuntunan Islam.

Pertama, mereka cenderung kepada kemusyrikan, yaitu menyekutukan Allah SWT. Mereka melakukan materialisasi terhadap Allah SWT dengan memaknai angka 411 atau 212 sebagai lafaz Allah dalam aksara Arab, dalam rangka memberi kesan psikologis kepada pendukungnya bahwa Allah hadir di tengah-tengah mereka.

Bahkan, formasi kumpulan massa yang membanjiri kawasan Monas dan sekitarnya, diasosiasikan juga dengan lafaz Allah dalam aksara Arab. Ini jelas musyrik. Karena Allah adalah Sang Khalik, sedangkan angka-angka 411 atau 212 serta formasi kumpulan massa adalah makhluk.

Kedua, mereka memposisikan sosok yang diduga melakukan chat mesum, kemudian hengkang ke Arab Saudi untuk menghindar dari proses hukum, sebagai Imam Besar bahkan digadang-gadang sebagai calon Presiden NKRI bersyari’ah. Astaghfirullah.

Ketiga, mereka mendukung sosok yang awam agama, bahkan jarang shalat, sebagai capres. Sosok tersebut, anak seorang tokoh politik yang berseberangan dengan pemerintah RI di masa Orde Lama, terkenal sebagai salah satu tokoh penting gerakan PRRI. 

Lebih parah lagi, sosok capres yang mereka dukung adalah sosok yang dituduh berkhianat oleh adik iparnya sendiri. Tuduhannya, konon ia berkhianat kepada mertuanya sendiri di tahun 1998, saat sang mertua menduduki jabatan tertinggi kursi eksekutif di Republik Indonesia.

Dukungan itu membuahkan hasil yang menyakitkan. Sang capres setelah kalah dalam kontestasi, malah bergabung menjadi bagian dari rival politiknya, seraya meninggalkan kelompok pendukungnya yang selama ini mengelorakan isu-isu SARA demi memenuhi syahwat kekuasaan.

Ironisnya lagi, sang timbalan yang digadang-gadang sebagai santri meski tata cara berwudhu saja masih masih belum fasih, belakangan ikut balik badan dengan memberi dukungan kepada mantan rival politiknya.

Keempat, cara-cara yang mereka lakukan dengan judul AKSI DAMAI, adalah cara-cara yang tidak ada tuntunannya dalam Islam. Aksi damai yang mereka gelorakan secara serial itu, ternyata mirip dengan cara-cara kaum kiri yang hendak menyalurkan syahwat kekuasaannya. 

Cobalah tengok sejarah, bagaimana kaum kiri di Soviet, di China, di Cuba pada masa lalu, ketika mereka hendak merebut kekuasaan dari pemerintahan yang sedang berkuasa. Kira-kira seperti itulah.