Opini

Mengembangkan Spirit Kenormalan Baru Masa Pandemi

Oleh: Dudung Abdurahman

MEMASUKI bulan keempat masa pandemi Covid-19 yang secara umum disebut dengan masa new normal life dan juga istilah-istilah lain seperti “masa transisi pandemi”, “adaptasi kebiasaan baru”, “kenormalan proporsional” dan sebagainya, yang secara khusus diarahkan kepada kebaruan langkah, mentalitas, maupun usaha-usaha yang bisa dikembangkan oleh masyarakat saat atau pasca pandemi ini.

Bila diperhatikan lebih seksama, dampak pandemi itu telah membuat mentalitas masyarakat menurun dalam berbagai bidang, sehingga dalam proses pemulihannya dibutuhkan semangat baru atau spiritual baru terutama yang bersumber pada agama, sosial, maupun budaya. Upaya pemulihan seperti ini bisa bertolak dari dampak pandemi yang dialami selama ini, kemudian dikembangkan gagasan-gagasan positif untuk menanggulangi dampak negatif yang muncul, serta kemudian dicarikan alternatif solusi yang lebih relevan dengan kehidupan nyata pada masyarakat itu.

Dampak Pandemi

Secara garis besar dapat digambarkan bahwa penyebaran wabah yang berlangsung secara masif telah melahirkan kebijakan pemerintah yaitu berlakunya social distancing pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Akibatnya, dalam segala aktivitas sosial harus dibuat pembatasan jarak yang bersifat fisik (physical distancing) dan menghindari kerumunan, yang diharapkan dapat mencegah penularan virus korona semakin meluas. Upaya yang lebih nyata telah dilakukan dengan memusatkan segala aktivitas masyarakat hanya di rumah saja. Langkah ini dipandang sangat efektif, tetapi juga telah berdampak pada keterbatasan-keterbatasan nyata dalam produktivitas kerja, perkembangan ekonomi, kegiatan pendidikan, dan kehidupan sosial lainnya.

Demikian halnya dengan dampak penyebaran wabah itu pada kegiatan keagamaan. Tradisi dan ritual bersama yang biasa dilakukan di tempat-tempat ibadah secara massal selama ini hanya boleh dilakukan di rumah dengan keluarga atau kelompok kecil yang sangat terbatas jumlahnya. Suasana seperti ini pun bukan hanya berakibat pada pemudaran essensi kehidupan sosial-keagamaan, tetapi juga banyak tradisi dan ritual yang tidak bisa dilaksanakan karena keterbatasan masyarakat dalam pengetahuan serta praktik keagamaan itu.

Sama halnya dengan dampaknya pada kehidupan budaya. Bila berbagai tempat hiburan dan obyek pariwisata yang selalu dikunjungi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan rekreatifnya selama masa pandemi harus ditutup, maka bukan saja akan berdampak pada berkurangnya sektor ekonomi pariwisata, tetapi juga telah membuat kejemuan sosial dan psikologis masyarakat.

Alternatif

Sebagaimana disarankan pemerintah, salah satu upaya mengatasi pandemi ini dengan cara menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di berbagai daerah. Yaitu semua perilaku kesehatan yang dilakukan karena kesadaran pribadi sehingga keluarga dan seluruh anggotanya mampu menolong diri sendiri pada bidang kesehatan serta memiliki peran aktif dalam aktivitas masyarakat. Protokol kesehatan tersebut dapat diaplikasikan seperti menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Hal ini bisa dipahami lebih luas sebagai spiritual baru di dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan kebudayaan seperti tersebut di atas.

Selama pandemi ini, kegiatan-kegiatan sosial dapat berlangsung secara virtual. Ini alternatif yang sangat efektif, selain dapat menjangkau lingkup yang luas, efisien waktu dan ruang, juga relatif murah dari segi pembiayaan. Bahkan cara demikian menginspirasi aktivitas sosial pada suasana normal total pasca pandemi Covid-19 di masa mendatang.

Namun pembatasan sosial untuk konteks sosial-ekonomi seperti kehidupan pasar tradisional dan urban yang sulit diatasi secara virtual, maka spiritual pembatasan sosial antara lain dapat dilakukan dengan pemberdayaan potensi sosial dan ekonomi pedesaan. Sangat banyak sumber kehidupan di pedesaan yang selama ini terbengkalai akibat urbanisasi, sehingga upaya-upaya pengerahan sumber daya manusia dan alam perlu dilakukan atas bimbingan pemerintah maupun para pengusaha dari perkotaanterutama dalam hal pemasaran dan distribusi barang.

Sementara itu, pembatasan sosial dalam kehidupan keagamaan, yang selama ini dilakukan dengan menutup sementara tempat-tempat ibadah, memang sepintas tampak efektif dalam mencegah penularan virus, tetapi berdampak pada penurunan semangat keagamaan masyarakat. Dapat disaksikan di sejumlah perkampungan betapa lesunya suasana kehidupan keagamaan. Pelaksanakan ibadah dan praktik ritual lainnya di rumah saja tidak menjamin kegairahan keagamaan. Meskipun demikian pembatasan jarak di tempat ibadah tetap penting dilakukan dengan semangat baru, yaitu dengan memanfaatkan sarana umum seperti sekolah dan balai pertemuan kampung untuk menampung jamaah yang tidak termuat di sarana ibadah yang telah ada.

Adapun pembatasan sosial pada kehidupan budaya terutama tempat hiburan dan pariwisata lebih sulit diatasi. Kerumunan sosial di sini akan selalu terjadi. Maka selain tetap memperhatikan disiplin protokol kesehatan Covid-19, spiritual baru yang perlu dikembangkan adalah menghindari segi-segi buruk dari kegiatan rekreatif tersebut dan mengutamakan segi positifnya saja dalam lingkup ruang dan waktu yang terbatas.

Renungan

Apabila kenormalan baru kehidupan masyarakat di tengah pandemi adalah kehidupan masyarakat dalam suasana aman dan makmur, maka sebagaimana dilukiskan dalam kitab suci adalah negeri yang baik dalam ampunan Tuhan (baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur) (baca QS. Saba: 15), atau populer di masyarakat kita sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, suatu ungkapan yang menggambarkan betapa potensi kekayaan Indonesia dapat membawa ketentraman dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Kini sebutan terhadap negeri dalam keadaan baldatun thayyibatun tersebut, yakni ditunjukkan oleh seluruh kebaikan alam dan kemakmuran rakyatnya, patut dijadikan introspeksi bersama apakah keadaan negeri juga dalam suasana Rabbun ghafuur, yakni ditunjukkan dengan kebaikan perilaku penduduk negeri yang mendatangkan ampunan Tuhan serta dapat terbebas dari kian merebaknya musibah yang menimpa negeri ini?

Implikasi muhasabah atau renungan tersebut adalah mengenai bagaimanakah cara menjaga serta mewujudkan kembali suasana negeri yang baik dan rakyatnya sejahtera, sekaligus mengantisipasi murka Tuhan—khususnya dalam bentuk musibah, sehingga akan mengakibatkan kekacauan dan keterpurukan masyarakat di seantero negeri? Maka cara yang dilakukan antara lain dengan selalu menegakkan perilaku yang baik dan menjadikanya perhatian bagi seluruh elemen bangsa dalam kehidupan ini.

Sifat amanah merupakan pilar utama yang patut ditegakkan oleh setiap warga negara. Menjalankan amanah antara lain dengan menghindari perilaku korupsi, manipulasi dan penyimpangan moral lainnya. Karena itu, suatu keniscayaan bagi terwujudnya masyarakat yang baik dan sejahtera adalah dengan tidak mengkhianati semua amanat yang diberikan kepada manusia, sebab hal ini juga termasuk pengkhianatan kepada Tuhan. Demikian spirit ini untuk dipegang teguh serta patut selalu disadari sebagai upaya memperkuat tatanan kehidupan baru masyarakat.

Bahkan upaya-upaya untuk menggapai ampunan Tuhan diharapkan menjadi kunci pembuka bagi kedamaian, kesejahteraan, dan kemakmuran negeri, yang terhindar dari berbagai musibah.

Bagaimanapun, protokol kesehatan menjadi norma baru untuk mencapai suasana aman, damai dan terbebas dari musibah pandemi yang terus berlangsung ini. Namun upaya normatif tersebut perlu dikembangkan lebih lanjut dengan spiritual baru berdasarkan moral dan ketaatan masyarakat terhadap jati diri mereka di hadapan Tuhan.

* Penulis adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close