Opini

Mengapa Saya Dukung Jokowi?

Oleh: Prof Arya Hadi Dharmawan

SAYA ditanya, mengapa saya yang dosen/akademisi/ilmuwan ini mendukung Pemerintahan Jokowi?

1. Penjelasan Umum.
Jawaban saya secara cepat: sejak Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, hingga Presiden Habibie, Presiden GusDur, Presiden Megawati, Presiden SBY & Presiden Jokowi. Semua saya dukung. Mereka presiden-presiden sah menurut UUD 1945, bagaimana mungkin ditolak?

Namun ada penjelasan lain. Ini penjelasan khususnya. Supaya semua bisa memahami. Maklum ini pertanyaan seperti berulang kali ditanyakan ke saya. Saya jawab sekali saja.

2. Penjelasan khusus
Saya bukan Ring 1 istana. Saya pun bukan anggota Parpol. Saya pun tak ada kaitan bisnis dengan pak Jokowi. Hanya dua kali saya berjumpa dengan pak Jokowi. Pertama tahun 2008 di Wonogiri dan tahun 2018 ini di istana. Selebihnya saya melihat pak Jokowi dari nonton TV.

Ini penjelasannya:
Dari status FB saya dikesankan Jokower banget. Benarkah? Apakah saya pernah menyerang pak Prabowo? Saya hormat pada beliau. Asal diketahui ya. Saya pendukung pak Prabowo pada pemilu 2009. Saya pun tetap berkawan baik dengan netizen pro Prabowo yang Prabowoer banget di FB.

Apa salahnya jika saya mendukung Pemerintah pak Jokowi dan berkawan dengan para pemilih Prabowo. Ndak apa-apa khan, kedua Capres khan kini sama-sama kontestan yang sah oleh KPU (lembaga ini legitimate). Buat saya, pemilih Prabowo tetap teman saya. Pemilih Jokowi pun tetap teman saya.

Saya tak pernah suka dengan posting nyinyir yang menyerang pribadi kawan. Sekiranya ada teman yang kurang, sebaiknya kita justru tutupi kekurangan tersebut. Yang biasa saya gugat adalah obyek-fenomenanya.

Saya biasa diskusi di tataran obyek dan bisa berdiskusi dengan baik. Saya tak pernah menunjuk nama tertentu. Ini adab akademik. Tetapi subyektivitas memang tak bisa disembunykan.

Di tataran subyektivisme, maha guru sosiologi IPB alm Prof. Sajogyo mengatakan bahwa “tak akan pernah ada ilmu yang value-free”. Setiap imuwan selalu berada di jebakan pemihakan atas nilai tertentu.

Konsekuensi logis dari tesis ini, maka ilmuwan harus/mau-tak-mau memihak. Justru lucu bila ilmuwan menganut value-free. Sejarah ilmu pengetahuan mencatat betapa sengitnya Thomas L Friedman (peraih hadiah nobel) bertarung dengan J Samuelson (juga peraih hadiah nobel) karena beda values dalam memaknai sistem ekonomi global. Pun juga pertarungan MIT’s (MIT/Massachusetts Institute of Technology adalah perguruan tinggi ranking 1 dunia dalam bidang sains & teknologi) school of thought dalam memahami soal intellectual rights versus hampir semua universitas di USA untuk ihwal tersebut. MIT sendirian dikeroyok rame-rame. Tetapi MIT tetap terdepan dan kukuh dengan keyakinannya.

Agar diketahui semua, bahwa yang saya back up dari Pemerintahan Pak Jokowi sampai hari ini adalah arah kebijakannya (pro pembangunan wilayah terpencil, pro membuka isolasi daerah, pro energi terbarukan/bioenergy dan eco-energy, pro welfarianisme – KIS/KIP). Saya tak pernah menggunakan alasan primordial, untuk mendukung seseorang. Semuanya rasional.

Karena nilai-nilai pembangunan semua itu (yang ditawarkan pemerintah) selaras/relevan dengan keyakinan/values akademik saya (lebih khusus, nilai-nilai itu sejalan dengan muatan substansi mata kuliah Ekologi Manusia dan Mata Kuliah Ekonomi Pedesaan, yang saya ajarkan di IPB). Itu sebabnya, maka saya dukung pak Jokowi. Saya khan harus menjadi orang konsisten antara aksiologi (pemihakan) pada apa yang saya ajarkan dan praktek kebijakan di lapangan.

Seandainya pak Prabowo hari ini menawarkan nilai-nilai (scientific values & principles) yang cocok dengan isi mata kuliah Ekologi Manusia dan isi mata kuliah Ekonomi Pedesaan yang saya ajarkan di IPB saya akan lirik beliau. Dan sekiranya nilai-nilai (scientific values) pak Prabowo itu buat saya lebih baik dari nilai-nilai yang ditawarkan oleh Pak Jokowi, maka saya beralih ke pak Prabowo.

Jadi dukungan saya “nothing personal”. Ulangi bukan karena like and dislike personalitas. Semuanya didasarkan oleh rasionalitas saya sebagai akademisi. Juga bukan karena di lingkungan saya banyak Jokowers-nya lalu saya harus Jokower juga. Sama sekali tidak.

Kebijakan demi kebijakan ekonomi pedesaan (semisal komitmen pak Jokowi membangun bendungan-bendungan untuk irigasi bagi petani kecil dan demi ketahanan pangan) jelas sangat mengesankan siapapun yang bergerak di bidang pertanian pedesaan terutama buat saya yang menggeluti bidang livelihood resilience. Kebijakan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) yang sangat sustainable dari perhitungan ekologi, jelas sangat mengesankan bagi saya yang mengajar mata kuliah Ekologi Manusia. Justru aneh bila saya tak mendukungnya. Saya membangun jaringan internasional untuk memperjuangkan prinsip-prinsip sustainability untuk energi terbarukan dan Pak Jokowi (fortunately) membuat Perpres soal Biodiesel 20% dan rancangan Perpres soal Sustainable Palm Oil. Hal itu membuat saya terkesan. Saya jadi punya amunisi buat menghadapi lawan-lawan Indonesia di banyak negara Eropa. Jadi saya perlu pemerintah RI yang bisa saya andalkan dan konsisten serta saya banggakan ketika saya di Eropa dan sedang menghadapi negara-negara Eropa. Itu sebabnya saya mendukung pak Jokowi. Dimensi Internasional, nasional dan lokal menjadi perhitungan saya semuanya. Ulangi, dimensi lokal, nasional, internasional sangat mendukung kiprah akademik saya.

Demikian saya kira, supaya semua paham bahwa dukungan kepada pak Jokowi sama sekali nothing-personal. Itu sebabnya saya menunggu betul program tawaran dari pak Prabowo. Jika prinsip-prinsip Ekologi Manusia dan prinsip-prinsip Ekonomi Pedesaannya mengenai di hati saya. Maka saya akan “say good bye pada pak Jokowi”.

Tetapi karena belum ada program apapun terkait yang saya sampaikan di atas dari pak Prabowo. Maka saya stay-tuned di posisi pak Jokowi sampai detik ini.

Saya publish saja hal ini ke semua sahabat saya baik yang Prabowoer maupun yang Jokower supaya bisa memahami soal “nothing personal” pada posisi aksiologis saya secara akademik ini terhadap pemerintah hari ini

*Prof. DR. Arya Hadi Dharmawan, Guru Besar IPB

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close