Nasional

Mengapa Metode Cuci Otak Dokter Terawan jadi Kontroversi?

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Metode cuci otak atau brain flushing yang dibuat oleh Direktur Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, Dr.dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K), menuai kontroversi sejak pertama kali dipraktikkan. Kalangan profesional menilai, praktik ‘cuci otak’ ini tidak berbasis penelitian ilmiah. Tapi Terawan justru membantah. Penelitiannya itu sangat ilmiah karena merupakan hasil disertasi doktoralnya.

Seperti apa metode yang diklaim mampu menyembuhkan pasien stroke ini?

Metode ini sebenarnya merupakan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Substraction Angiogram). Tekniknya dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha.

Modifikasi DSA yang dilakukan Terawan adalah dengan menurunkan dosis radiaso DSA yang biasanya di atas 300 miligrey menjadi 25 miligrey. Cairan kontras 100 cc yang bisa membenani ginjal dan cukup berat, dimodifikasi dengan diturunkan menjadi 10 cc.

Metode ini diklaim aman karena dimulai dengan pemeriksaan detail terhadap pasien. Mulai dari pemeriksaan otak dengan MRI, lalu neurologis degan peralatan yang tersedia di RSPAD.

BACA JUGA: Metode Cuci Otaknya Diakui Dunia, Dokter Terawan Putranto Justru Dipecat IDI

Dokter-dokter lain seperti dokter penyakit dalam, ahli diabetes, ahli jantung, juga bersama-sama membantu diagnosis pada pasien. Sehingga tindakan pun disesuaikan dengan kondisi pasien.

Meski sudah terbukti memberikan efek baik pada sejumlah pasien, namun metode yang dikembangan oleh Terawan ini masih menuai perdebatan panjang. Ujungnya, Terawan mendapat sanksi pemecatan keanggotaan selama 12 bulan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Namun, Terawan merasa yakin temuannya sudah terbukti secara ilmiah melalui disertasi yang berjudul “Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis“. Disertasi ini dipresentasikan Terawan dalam sidang doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar pada 2016 lalu.

Untuk menguji metode cuci otaknya, dia meneliti 75 pasien stroke iskemik yang berobat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Pasien didominasi oleh pria dengan rentang usia 41-60 tahun. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tindakan cuci otak memberikan peningkatan aliran darah yang signifikan, sekitar 41,20 persen. Jumlah ini lebih besar dibanding peningkatan pada terapi lain.

Dengan menerapkan metode ini, pasien bisa sembuh dari stroke selang 4-5 jam pasca operasi. Bahkan, metode pengobatan tersebut bahkan telah diterapkan di Jerman dengan nama paten ‘Terawan Theory’.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close