Opini

Menganiaya Jokowi oleh Manipulator Psikologi

Sejak menjadi calon presiden pada 2014 sampai saat ini, Joko Widodo (Jokowi) tidak henti-hentinya ‘dianiaya’ oleh lawan politiknya, atau oleh orang-orang yang sekadar ikut-ikutan karena termakan kabar bohong.  Saat ini pun, ‘penganiayaan’ yang sama dialami oleh Jokowi, bahkan lebih keras dan terkesan sadis. 

Ibarat tuduhan terhadap seseorang yang dituding sebagai tukang tenung di zaman kegelapan, yang dianiaya beramai-ramai bahkan dibakar hidup-hidup atas kesalahan yang dia tidak lakukan. Pelakunya terperangkap hasutan, yang mungkin juga dilakukan oleh tukang tenung sesungguhnya. Bayangkan, banyaknya orang terkena lepra disebut sebagai ulah tukang tenung. Kemarau, bencana alam dan kelaparan, juga dianggap sebagai perbuatan tukang tenung.

Kondisi semacam itu dalam psikologi dikenal sebagai manipulasi psikologi. Manipulasi psikologi adalah gaya dalam memengaruhi pengetahuan sosial seseorang atau sekompok yang bertujuan untuk mengubah persepsi atau perilaku orang atau kelompok secara licik, menipu, atau melalui sebuah strategi yang kasar, untuk kepentingan sang manipulator. Metode yg digunakan dapat berupa eksploitasi, sampai dengan penyalahgunaan ilmu pengetahuan psikologi secara kasar, licik, dan menipu.

Saat ini lawan politik Jokowi membuat tema besar dalam tagar #2019GANTIPRESIDEN. Tema itu kemudian diikuti dengan kata-kata hujatan dan ulasan-ulasan sisi negatif atau bagian yang dibikin negatif yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi.

Celakanya, kata-kata atau tulisan-tulisan di media sosial (medsos) berkembang sedemikian rupa dan liar sesuai dengan kehendak masing-masing pembuat kata-kata.

Bahkan belakangan merembet ke aksi persekusi di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta. Seorang ibu yang mengenakan kaus putih dengan tulisan #DIASIBUKKERJA dan anaknya, dianiaya secara psikologis oleh sekelompok orang berkaus hitam bertuliskan #2019GANTIPRESIDEN.

Masyarakat yang melihatnya, mengartikan si ibu berkaus putih adalah pendukung Jokowi, dan kelompok ‘penyerangnya’ berkaus hitam diartikan sebagai kelompok lawan lawan Jokowi. Mungkin berikutnya akan dibahasakan sebagai peratarungan putih melawan hitam.  

Kemudian timbul kesan, siapapun pendukung Jokowi, berada dalam bahaya persekusi.  Persekusi (bahasa Inggris: persecution) adalah perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik.

Persekusi adalah salah satu jenis kejahatan kemanusiaan yang didefinisikan di dalam Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional. Timbulnya penderitaan, pelecehan, penahanan, ketakutan, dan berbagai faktor lain dapat menjadi indikator munculnya persekusi, tetapi hanya penderitaan yang cukup berat yang dapat dikelompokkan sebagai persekusi.

Mengapa penganiayaan itu muncul? Karena adanya manipulasi psikologi. Seorang terapis masalah psikogi, Fiona McColl menulis bahwa ada delapan cara seseorang atau kelompok dalam memanipulasi emosi orang lain atau kelompok lain. Ke delapan cara tersebut disebutnya sebagai agresi terselubung, atau dalam ‘bahasa psikopat’nya adalah serigala berbulu domba.

1) Tidak ada gunanya mencoba jujur ​​dengan manipulator emosional. Anda membuat pernyataan dan itu akan berbalik. Contoh: Saya benar-benar marah karena Anda lupa hari ulang tahun saya. Tanggapan – “Itu membuat saya merasa sedih bahwa Anda akan berpikir saya akan melupakan hari ulang tahun Anda, saya seharusnya memberi tahu Anda tentang tekanan pribadi yang hebat yang saya hadapi saat ini – tetapi Anda melihat saya tidak ingin merepotkan Anda. Anda benar. Seharusnya aku meletakkan semua rasa sakit ini (jangan terkejut melihat air mata yang nyata pada titik ini) di samping dan fokus pada hari ulang tahunmu. Anda mendapatkan sensasi yang seolah menyeramkan bahwa mereka benar-benar TIDAK berarti. Apa yg anda katakan atau rasakan dibuat berbalik kepada anda seolah anda yg bersalah.

2) Seorang manipulator emosional seolah menolong anda namun sesungguhnya tidak bersedia menolong atau menolong untuk
mewujudkan kepentingan mereka.

3) Mengatakan satu hal dan kemudian meyakinkan Anda bahwa mereka tidak mengatakannya. Sampai anda harus mencatat atau merekam percakapan agar terekam apa yang dibicarakan. Seorang manipulator emosional adalah seorang ahli dalam membalikkan keadaan, merasionalisasi, membenarkan dan menjelaskan sesuatu. Anda memandang sesuatu hitam dan mereka akan menyebutnya putih – dan berdebat dengan sangat persuasif sehingga Anda mulai meragukan indra Anda.

4) Rasa Bersalah. Manipulator emosi adalah ‘penipu’ yang sangat baik. Mereka dapat membuat Anda merasa bersalah karena berbicara atau tidak berbicara, karena emosional atau tidak cukup emosional, karena memberi dan peduli, atau tidak memberi dan cukup peduli. Segala sesuatu adalah permainan yang adil dan terbuka untuk rasa bersalah dengan manipulator emosional. Manipulator emosi jarang mengungkapkan kebutuhan atau keinginan mereka secara terbuka – mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui manipulasi emosional. Rasa bersalah bukan satu-satunya bentuk dari ini, tetapi ini adalah salah satu yang ampuh. Sebagian besar dari kita cukup terkondisi untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk mengurangi perasaan bersalah kita. Emosi kuat lain yang digunakan adalah simpati. Seorang manipulator emosional dapat menyatakan diri atau kelompok sebagai ‘korban’yang hebat. Mereka mengilhami perasaan yang sangat dalam yang membutuhkan dukungan dan perhatian . Manipulator emosi jarang melawan perkelahian mereka dengan tangan sendiri atau melakukan pekerjaan kotor mereka dengan tangan sendiri.

5) Manipulator emosi akan berbicara di belakang Anda dan pada akhirnya menempatkan orang lain dalam posisi memberi tahu Anda apa yang tidak akan mereka katakan sendiri. Mereka pasif agresif, yang berarti mereka menemukan cara halus untuk memberi tahu Anda bahwa mereka tidak suka akan sesuatu.

6) Anda bisa tidak merasakan kehadiran manipulator emosi. Sulit untuk merasa terhubung secara emosional dengan manipulator emosional karena mereka memiliki cara untuk meretas percakapan dan mengembalikan sorotan pada diri mereka sendiri.

7) Manipulator emosi bagaimanapun memiliki kemampuan untuk mempengaruhi iklim emosional orang-orang di sekitar mereka. Ketika seorang manipulator emosional sedih, marah atau bentuk emosi lainnya, mereka akan membuat orang di sekitarnya merasakan emosi yang sama.

8) Manipulator emosi tidak memiliki rasa akuntabilitas. Mereka tidak bertanggung jawab atas diri mereka sendiri atau perilaku mereka – itu selalu tentang apa yang orang lain telah “lakukan kepada mereka”.

Jadi dapat dipahami ketika para ‘pembuat’ ujaran kebencian kepada Jokowi, merasa bahwa itu bukan sebuah ‘penganiayaan’, tetapi sesuatu yang biasa saja dan konstitusional, padahal sebuah manipulasi psikologi.

*Penulis adalah pengamat sosial politik, tinggal di Jakarta

KOMENTAR
Tags
Show More
Close