Menepuk Harapan

Menepuk Harapan
Ahmad Erani Yustika

Oleh: Ahmad Erani Yustika

WAKTU BEGITU sulit ditebak, apalagi dieja. Cuaca lebih mudah diramal meski terkadang hasilnya jauh dari kepastian. Kerumitan menebak waktu bersumber dari proyeksi peristiwa yang bakal terjadi, bukan soal rentang dentang tiap detik. Satu perkara yang gampang dieja hanyalah kenyataan bahwa waktu berjalan begitu gegas, dan ini adalah berita buruk soal waktu. Namun, bagi Michael Altshuler, tidak selalu waktu berbicara masalah kisah muram. "The bad news is time flies. The good news is you are the pilot," ujarnya.

2020 bagi sebagian besar manusia adalah warta petaka. Identitas manusia sebagai makhluk sosial dikoyak oleh datangnya wabah besar bernama: Pandemi Covid-19. Virus ultramikro bergerak tanpa diketahui pasti model penyebarannya. Ilmu pengetahuan diuji menghadapi koloni virus yang menyasar dan bermutasi ke tubuh manusia dengan sigap. Korban bergelimpangan tak peduli kasta. Presiden terpapar, pebisnis global terkapar, dan tokoh masyarakat terdampar. Manusia harus mengurung diri: mengisolasi dari interaksi. Akibatnya, kehidupan sosial dan ekonomi retak.

Bangsa bisa tahan melewati aneka krisis ekonomi/politik, juga perang sekalipun. Namun, negara mudah robek bila sekat sosial makin meninggi. Sejarah mengajarkan itu. Ikatan sosial adalah tali terpenting penyangga perkauman. Lagi-lagi, modal sosial kerap terpelanting begitu tekanan aktivitas ekonomi dan politik menjepit. Manusia saling terpisah, tersekat oleh koridor transaksi ekonomi. Tetapi, pandemi merobohkan pagar tersebut. Ini hikmah terpenting. Kaum kembali bergandengan memberikan apapun yang dipunyai: berbagi sumber daya atas nama kemanusiaan. 

Pada level yang lebih kecil: keluarga adalah inti bangsa. Di dalam keluarga sebuah puak ditegakkan. Generasi baru dilahirkan. Harapan masa depan dirawat dengan ketelitian. Nilai-nilai mulia disemaikan dengan ucapan dan teladan. Aneka rencana dirancang dan diputuskan. Tiap hari transaksi ikatan batin dikuatkan di bawah atap yang sama. Pada saat alam bekerja dengan normal, ekonomi berderap kencang yang membuat tali keluarga menjadi longgar. Anak, orang tua, saudara, kolega, dan sahabat berburu mengurus kehidupan. Pandemi mengeratkan kembali. Altshuler benar, kita yang menjadi pilot peradaban.

2021 telah tiba tanpa undangan. Pandemi belum nampak tepinya. Namun, keringat sejarah manusia adalah cerita menepuk harapan lewat pengetahuan. Vaksin telah ditemukan berkat kerja ilmu yang diamalkan di dalam ruang laboratorium sunyi dengan penuh ketekunan. Tentu hasilnya masih berjarak dari kesempurnaan. Namun, yang lebih penting ialah ikhtiar mengagendakan perbaikan melalui rangkaian perubahan, persis yang dinubuatkan Winston Churchill: "To improve is to change; to be perfect is to change often".  Sahabat, Selamat Tahun Baru 2021.

* Penulis adalah Prof. Ahmad Erani Yustika PhD, Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, Malang.