Catatan Kluyuran ke Belanda & Belgia (1)

Menengok Negeri Kincir Angin

Menengok Negeri Kincir Angin
Stasiun Kereta Amsterdam

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

ISTRI SAYA, ketika menikah dengan saya 37 tahun yang silam,  adalah seorang anak kolong dan dokter yang tidak tahan pergi jauh. Setiap kali naik mobil, tidak lama kemudian perutnya mual. Karena itu, dapat dikatakan, selama sekitar 25 tahun hidup di kota kelahirannya, Semarang, ia jarang meninggalkan kota yang tegak di tepi Laut Jawa itu.

\Namun, kemudian, selepas menikah, pelan-pelan “perilakunya” berubah: ia mulai ketularan dan kecipratan “penyakit” saya: suka kluyuran. Ke mana-mana. Malah, kini, “tas punggung senantiasa siap bertengger di pundaknya”. Dengan kata lain, sewaktu-waktu ia pun senantiasa siap kluyuran. 

Mengapa kami suka kluyuran? 

Kluyuran, bagi kami, sejatinya merupakan sumber energi dan ide baru. Juga, kluyuran merupakan salah satu cara kami untuk menjadi warga dunia yang lebih baik: memahami kultur berbagai bangsa, menyerap ilmu dan pengalaman mereka, di samping mengerti berbagai persoalan dan jalan keluar yang mereka lakukan.

Tentu, dengan kluyuran membuat kami senantiasa bersyukur kepada Sang Pencipta dan memahami tanda-tanda kebesaran-Nya. Namun, sejak  Fabruari 2020, ketika pandemi covid-19 mulai menyebar di berbagai belahan dunia, untuk sementara kegiatan itu kami hentikan.

Di sisi lain, “absennya” kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada saya untuk “merekonstruksi” sederet kisah kluyuran yang pernah kami lakukan, dalam bentuk catatan perjalanan. Salah satunya adalah catatan kluyuran kami (saya dan istri), ke Belanda dan Belgia berikut ini. 

Selamat menikmati catatan kluyuran yang terdiri dari sembilan seri berikut:

“MAS. Bagaimana kalau saya ‘sekolah’ lagi.” 

Demikian ucap istri saya, pagi itu. Sekitar tujuh tahun yang lalu, selepas ia mendaras Alquran. “Saya kok ingin mendalami lebih jauh tentang penyakit jantung. Pada akhir Agustus tahun ini, European Society of Cardiology (ESC) akan menyelenggarakan pekan ilmiah tahunan. Di Amsterdam, Belanda. Tahun ini, saya ingin ‘sekolah’ lagi tentang penyakit jantung. Seperti beberapa tahun yang lalu di Vienna, Austria. 

“Sendiri?” tanya saya. Penasaran dan ingin tahu.

“Saya maunya ditemani Mas. Seperti ketika ‘sekolah’ di Istanbul pada 2009. Dan, di Sydney tahun lalu,” jawab istri saya. Seorang dokter spesialis penyakit dalam.
“Asal mau bergaya ‘backpacker’ saja. Tidak pergi bersama rombongan lain yang pergi ke sana dalam bentuk tour group.”

“Rasanya lebih nikmat dan hemat dengan cara ‘backpacker’an begitu. Saya benar-benar menikmati perjalanan dengan gaya begitu, ketika kita pergi ke Istanbul dan Sydney. Saya ‘sekolah’, sedangkan Mas jadi tour leader dan ‘ngluyur’. Ke mana-mana. Seperti biasanya.”

Segera, kami pun memroses segala hal yang diperlukan dalam perjalanan tersebut. 

Alhamdulillah, sekitar tiga minggu kemudian, visa “Etats Schengen” akhirnya kami dapatkan. Tanpa kami harus pergi ke Jakarta. Hal itu karena kami pernah pergi ke Eropa. Beberapa kali.  Selain ke Belanda, kami juga bermaksud pergi ke Belgia. Karena itu, sebelum berangkat, saya kemudian menghubungi Mas Andi Yudha Asfandiyar, mantan CEO Penerbit Mizan, Bandung yang kala itu bermukim di Brussels, bahwa saya akan mampir ke sana pada 4 September 2013. 

“Mas. Monggo diantos di Brusselsnya. Tanggal itu kami siap. Semoga perjalanan lancar, sehat, seger, dan barakah selalu,” jawabnya. Lewat message di facebook. 

Kebetulan, seorang sahabat yang juragan sebuah perusahaan IT di Jakarta juga mengajak kami untuk pergi bersama. Dari Belanda ke Belgia. Ia ingin membawa kami ke kantor cabangnya yang baru di Eindhoven. Baru kemudian pergi ke Brussels. Untuk bertemu dengan duta besar Republik Indonesia di sana.

Bertemu Saudara yang Juga Akan ke Belanda

Kemudian, pada Kamis sore, 29 Agustus tahun itu, kami pun telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selepas melintasi konter imigrasi, ketika kami sedang duduk sebelum masuk ke dalam boarding lounge, tidak lama kemudian seorang saudara, dr. Muhammad Toyibi Sp.JP, dan istrinya, Mbak Kus, muncul. 

“Mas Toyibi mau ke mana?” tanya saya kepada dokter spesialis penyakit jantung yang kala itu bertugas di Rumah Sakit (RS) Persahabatan, Jakarta itu. 

“Saya mau ke Amsterdam. Mau ikut ESC 2013 Meeting. Tapi, kami juga akan ke Swedia. Kalian mau ke mana?”

“Hehehe, sama Mas dan Mbak. Ke Amsterdam. Selain ke Amsterdam, kami akan pergi ke Eindhoven dan Brussels. Diajak Dik Harca, juragan perusahaan IT yang juga Mas Toyibi kenal. Ia akan melebarkan usahanya ke Belanda, Belgia, dan Jerman.”

“O, begitu. Kalau begitu, kami akan bergabung. Sebentar, saya akan kontak ia.”

Selepas berucap demikian, dokter spesialis penyakit jantung yang ketika menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada pernah merasakan “hotel prodeo”, alias bui, selama sekitar setahun di Semarang, karena menentang kebijakan politik rezim yang berkuasa di Indonesia kala itu, segera mengontak juragan perusahaan IT yang sedang berada di Hamburg, Jerman itu. 

“Oke, ia setuju. Saya dan istri ikut bergabung dalam perjalanan ke Eindhoven dan Brussels nanti,” ucap Mas Toyibi. Dengan wajah sumringah. 

Tidak lama kemudian kami berempat pun masuk ke dalam perut pesawat terbang KLM. Dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam. Ternyata, pesawat itu penuh dengan penumpang. Tidak ada kursi yang kosong. 

Saya dan istri, yang mendapat nomer kursi terpisah jauh, akhirnya dapat duduk berdampingan karena kebaikan hati seorang anak muda asal Karangasem, Bali, yang akan kerja di sebuah perusahaan pelayaran di Belanda. Dan, ternyata, pesawat terbang KLM pun terkena dampak kesibukan Bandara Soekarno-Hatta. 

Akibatnya, pesawat terbang yang kami tumpangi itu terlambat berangkat sekitar dua jam. Kala itu, jadwal naik-turun pesawat terbang di Bandara Cengkareng itu memang sangat sibuk.

Selepas menempuh perjalanan sekitar 14 jam, dan melintasi jarak sekitar 11.160 kilometer, akhirnya pesawat terbang yang kami naiki mendarat di Schipol International Airport, Amsterdam. Pada pukul 06.10 pagi waktu setempat. Karena kami berempat membawa “invitation letter” dari ESC 2013, proses pemeriksaan di konter imigrasi Bandara Schipol pun berjalan lancar. Tanpa banyak pertanyaan, paspor kami pun dicap “30.08.13.86 AMSTERDAM SCHIPOL G 305”.  

Dan, begitu melintasi “exit”, para penjemput para peserta ESC 2013 tampak bertebaran di mana-mana. Mas Toyibi dan istri segera menuju Hotel Ibis di lingkungan Bandara Amsterdam. Sedangkan saya dan istri, yang mengatur sendiri perjalanan kami, segera menuju ke konter “Train Tickets & Services”. Untuk membeli tiket kereta api jurusan Amsterdam Centraal. 

Setelah memegang dua tiket, seharga 4.40 euro, kami kemudian menuju ke peron nomer 2 dengan tulisan “Naar de trainen 1-2”. Membaca tulisan dalam bahasa Belanda tersebut, entah kenapa tiba-tiba sederet kosakata bahasa Belanda yang pernah saya pelajari, ketika masih menjadi mahasiswa di Jogjakarta, bermunculan kembali. 

Perlu dicatat, setiap seperempat jam ada kereta api yang berangkat dari Schipol Airport menuju stasiun terbesar di Kota Amsterdam: Amsterdam Centraal. Juga, sebaliknya. Dan, setelah melintasi dua stasiun, Amsterdam Lelyland dan Amsterdam Slotterdijk, akhirnya kereta api nyaman dan bersih yang kami naiki tiba di Stasiun Amsterdam Centraal. 

“Andai saja antara Cengkareng dan Gambir segera ada kereta api seperti ini,” gumam istri saya, kala itu, sambil memandangi kereta api-kereta api yang keluar dan masuk di stasiun yang lebih besar dari Stasiun Gambir, Jakarta itu. “Bersih, rapi, dan terintegrasi. Mirip Stasiun Sydney, Australia.”

Begitu turun dari kereta api, kami pun kebingungan dalam mencari tempat penginapan yang kami tuju: Hotel “C” yang terletak di Raadhuisstraat. Sebab, kala itu, kami belum pernah ke Amsterdam.  

Namun, karena sebelumnya saya sudah membaca “info” seputar kota tua itu, saya kemudian membeli tiket trem dan bus GVB yang berlaku untuk masa tiga hari, seharga 16.50 euro. Masa berlaku tiket GVB tersebut aneka ragam: ada yang berlaku satu jam, satu hari, dua hari, atau tiga hari. 

Dari peta yang disediakan dalam trem yang kami naiki, kami kemudian menaiki trem nomer 13 (juga bisa naik trem nomer 17) dan turun di Halte Westermarkt. Ketika ada pengumuman “volkende halte: Westermarkt”, kami pun segera siap-siap. Dan, setelah trem itu berhenti di halte yang terletak di depan sebuah gereja megah dan cantik, kami pun turun. 

“Oh, ini dia Raadhuisstraat,” gumam saya dalam hati. Seraya memandangi para pesepeda yang lalu lalang di jalan itu. “Enak juga naik sepeda di jalan yang mulus seperti ini. Andai jalan di Kota Bandung seperti ini, saya pun akan naik sepeda. Ke mana-mana.”

Harus Mendaki 48 Anak Tangga

Dengan mendorong masing-masing satu kopor, dan dengan kebingungan, kami pun mencari tempat penginapan yang kami tuju. Setelah bertanya beberapa kali (kala itu GPS belum kami kuasai), akhirnya hotel kecil tempat kami menginap pun kami temukan. Alhamdulillâh wasy syukru lillâh.

Kami sendiri, setelah beberapa hari kemudian, baru tahu, ternyata hotel kecil itu berada tidak jauh dari Dam Square dan lokasinya sangat startegis. Lagi pula, harganya terjangkau oleh kocek kami. Tapi, setelah berada di bawah sebuah papan nama kecil bertuliskan “C Hotel”, yang kami dapatkan hanyalah sebuah pintu tertutup. 

Di dekat pintu itu ada bel dan kamera. Dasar orang desa, sejenak kami pun kebingungan. Ya, kebingungan. Padahal, mata kami terasa sangat berat dan tubuh pun kecapaian. Akibat menempuh perjalanan tidak kurang dari 20 jam. Dari Bandung. 

Setelah berpikir beberapa lama, saya kemudian memencet bel yang ada di dekat pintu dan berucap dalam bahasa Inggris. Ini karena kami tidak dapat berbahasa Belanda, 
“Kami dari Indonesia dan akan menginap di hotel ini.”

“Apakah Anda telah melakukan reservasi?” tanya suara seorang perempuan. Di bel itu.

“Ya. Kami membawa bukti reservasi tersebut. Kami akan menginap di sini. Selama enam hari.”

“Oke. Tunggu sebentar,” jawab suara itu. Ramah. “Oke. Kini, dorong pintu di depan Anda.”

“Ndeso tenan. Dasar orang desa, hehehe,” gumam saya sambil tersenyum dan mendorong pintu di depan kami. Kami, memang, belum pernah menginap di tempat penginapan dengan model begitu.

Namun, begitu pintu itu terbuka, apa yang ada di depan saya? 

Tangga miring dan terdiri dari entah berapa anak tangga. Begitu melihat tangga miring dan jauh itu, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” jauh. Ya, jauh, ke Giza, Mesir: terkenang ketika masa muda dan sedang memasuki Piramid Khufu. Persis: miring dan jauh. 

“Wah. Bagaimana saya harus mengangkat dua kopor ini?” gumam saya dalam hati. “Gawat, (sakit) kaki kiri saya (yang tiga tahun sebelumnya harus dioperasi karena terpeleset ketika turun dari kereta api di Stasiun Bandung) bisa kambuh lagi.”

Belum lagi kebingungan saya sirna, seorang cewek cantik dan muda melongokkan kepalanya di samping anak tangga terakhir tangga tersebut. Lalu, teriaknya kepada saya, “Biarkan kopor kalian. Biar kopor-kopor  itu diangkat Ahmed. Ke atas.”

“Ahmed, siapa ia?” gumam saya. Bingung.

Tidak lama kemudian, seorang anak muda turun dan mengangkat dua kopor kami. Anak muda itu ternyata adalah Ahmed, dan alhamdulillah, ia seorang Muslim asal Mesir. Dan, ketika kami “mendaki” ke atas sampai ke kamar yang kami inapi, ternyata tangga itu terdiri dari 48 anak tangga. Alamak! 

Meski hotel itu kecil, namun pelayanannya bagus. Juga, bersih dan nyaman. Semestinya, kami baru dapat masuk ke dalam kamar pukul 14.00. Namun, karena hari itu ada satu kamar kosong, kami dibolehkan masuk ke dalam kamar sebelum waktunya. Malah, sebelum memasuki kamar, kami dipersilakan menikmati breakfast. 

Apa yang terjadi ketika kami berada di restoran untuk menikmati makan pagi? 

Ketika istri saya sedang kebingungan: apakah menu yang disajikan halal atau haram, seorang anak muda yang melihat istri mengenakan jilbab pun berucap, “Madame tidak usah khawatir. Semua makanan yang kami sajikan halal, lo.”

“Kok Anda berani menjamin demikian?” tanya saya.

“Kenalkan, nama saya Hasan. Saya dari Alexandria. Saya juga Muslim seperti kalian dan pelayan di resto ini. Karena itu, saya tahu benar, semua hidangan ini halal.”

“Intû min Masr? Kân zamân anâ sâkin fî Al-Qâhirah. Anda dari Mesir? Dulu, saya tinggal di Kairo, lo,” ucap saya kepada anak muda itu.

Begitu Hasan mendengar saya berbicara dengan bahasa Arab harian ala Mesir, segera ia memeluk saya dan berucap, “Anda saudara saya. Silakan nikmati hidangan di sini. Sepuas-puasnya. Saya akan buatkan kalian omelet. Yang sangat lezat.”

“Alhamdulillah,” ucap istri saya begitu ia saya beritahu tentang apa yang dikatakan Hasan. “Allah Swt. senantiasa memberikan kemudahan kepada kita.”

Usai menikmati makan pagi, kami kemudian menuju kamar. Ukuran kamar itu, ternyata, tidak lebih dari 3 x 3 meter. Meski kecil, namun, kamar itu nyaman, bersih, dan view di luar menarik. Dan, tidak lama kemudian, kami pun berdoa dan tidur pulas. Kecapaian berat! (Bersambung)