Opini

Menemukan Kembali Makna Tawakal di Tengah Bencana Covid19

Oleh: Muhammad Radini

Begitu banyak umat beragama mempertentangkan konsep Ketuhanan dengan meng-generalisir antara logika terhadap keimanan. Beberapa kasus bisa dilihat di kalangan umat islam yang melakukan pertemuan besar-besaran di Malaysia dan Gowa Indonesia, begitupun dengan jemaat kristen yang mengadakan peribadatan di gereja dalam jumlah besar yang ternyata menjadi media penyebaran virus covid19 pada sejumlah daerah di Indonesia. Belum lagi, yang terjadi para agamawan seolah rasis dalam fenomena virus covid19.

Selanjutnya, kasus di Bengkulu ada yang sampai meninggal pula. Anggota jamaah tabligh tersebut dinyatakan positif corona, dan menjadi kasus positif corona pertama di Bengkulu. Pasien dinyatakan meninggal dunia satu jam sebelum konfrensi pers digelar oleh gubernur per 31 Maret 2020 sekitar pukul 09.15 WIB. Mereka seolah memaksa Tuhan untuk beragama namun telah melupakan bahwa Tuhan jugalah yg menciptakan keanekaragaman.

Masing-masing agamawan sibuk mencari-cari istilah dalam kitab sucinya tentang fenomena ini dan sayangnya bukanlah kearifan yang didapatkan, melainkan keangkuhan beragama. Seolah-olah memaksa virus ini mengenali mereka dan agamanya. Kemudian yang paling mengecewakan, betapa mudahnya para agamawan membanding-bandingkan keimanan makhluk, serta semena-mena menandai siapapun yang takut corona adalah kesalahan. Bahkan dengan mudahnya para tokoh agamawan mengatakan mereka manusia-manusia yang tidak takut terhadap Pencipta.

Kemudian, dengan percaya dirinya mereka mengadakan pertemuan dan mengabaikan larangan pemerintah juga ahli kesehatan terkait wabah ini. Mereka yakin bahwa corona tidak sebanding dengan kekuatan Tuhan. Padahal sejatinya mereka lupa, bahwa apa yang dilakukan mereka dalam perbandingan ini bisa dikatakan salah kaprah, karena secara tidak langsung mereka membandingkan Tuhan yang tiada berbanding.

Terkait fenomena ini ada dua pendapat yang terjadi di kalangan umat beragama, maka dengan segala kerendahan hati, jikapun boleh saya berasumsi, maka saya lebih respek terhadap manusia yang takut sakit dengan corona dan menularkan kepada orang yang dicintainya, kemudian berdiam diri di rumah karena mendapat informasi dari pemerintah dan para pakar kesehatan.

Saya yakin siapa pun manusia yang mengaku beragama pasti sadar corona adalah ciptaan Tuhan. Siapa pun itu, jika dibandingkan golongan beragama yang dengan yakinnya mengatakan bahwa mereka tidak takut dengan corona, kemudian mengindahkan larangan dan himbauan pemerintah juga ahli kesehatan, berarti golongan beragama ini telah lupa, bahwa mereka telah kufur nikmat terhadap akal yang diberikan Tuhan. Mereka adalah golongan yang merasa memiliki Tuhan, namun lupa merasa bahwa dirinya dimiliki Tuhan. Sehingga yang terjadi secara tidak langsung mereka malah meniadakan sunatullah.

Tidak ada yang lebih indah bagi manusia sampai dimampukan memiliki peradaban semaju ini, melainkan pemberian akal oleh Tuhan jua. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai terjadi kembali kejadian di abad kegelapan pada masa sebelum renaisance eropa, esensi dari semangat Renaissance salah satunya adalah bahwa pandangan manusia bukan hanya tentang nasib di akhirat seperti semangat Abad Tengah, tetapi mereka harus memahami tentang dunia ini.

Renaissance membuat manusia dilahirkan ke dunia untuk mengolah, membuat dan menikmati dunia ini baru setelah itu menengadah ke surga. Nasib manusia di tangan manusia, penderitaan, kesengsaraan lalu dan kenistaan ​​di dunia dapat diterima takdir Allah mengatasi suatu keadaan yang dapat diperbaiki dan diatasi oleh kekuatan manusia dengan akal budi, otonomi dan bakat-bakatnya. Inilah semangat humanis, semangat manusia baru oleh Cicero yang dapat dipelajari melalui bidang sastra, filsafat, retorika, sejarah dan hukum.

Sedikit bercerita sejarah, bahwa abad Pertengahan merupakan zaman Eropa. Berbagai kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasai gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Agama Kristen sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Seolah raja tidak memiliki kekuasaan, malah sebaliknya gereja lah yang disetujui pemerintahan.

Berbagai hal diberlakukan sesuai kepentingan gereja, tetapi hal-hal yang merugikan gereka akan mendapat balasan yang sangat kejam. Contohnya, melaporkan Copernicus tentang teori tata surya yang membahas tentang matahari pusat dari tata surya, tetapi hal ini bertolak belakang dari gereja sehingga Copernicus dibunuhnya.

Pemikiran manusia pada Abad Pertengahan ini mendapat doktrinasi dari gereja. Hidup seseorang selalu melawan tujuan akhir (ekstologi). Kehidupan manusia pada hakekatnya sudah ditentukan oleh Tuhan. Maka tujuan hidup manusia adalah mencari keselamatan. Pemikiran tentang ilmu pengetahuan banyak ditujukan untuk teologi. Pemikiran filsafat Berkembang sehingga lahir filsafat scholastik yaitu suatu pemikiran filsafat Yang dilandasi pada agama dan untuk review alat pembenaran agama. Oleh karena itu disebut Zaman Kegelapan.

Nah, kiranya ini berkaitan dengan kejadian saat ini dengan beberapa sudut pandang agamawan dalam menghadapi corona. Harapanya, jangan sampai terjadi lagi abad kegelapan yang ditandai dengan kekeliruan pemahaman yang telah membunuh begitu bnyak ilmuwan atas dasar iman.

BAGAIMANA MENYIKAPI SEHARUSNYA?

Berdasarkan fenomena yang terjadi mengenai wabah corona yang tak kunjung pulih. Anggap saja ini sebagai bagian dari opini saya, harapanya bisa memberikan masukan yang mungkin dapat dipakai oleh para tokoh-tokoh agamawan dengan paradigma yang semacam meremehkan kondisi sekarang ini atas dasar iman. Lalu kiranya bagaimana kita menyikapinya?.

Simple saja sebenarnya, hanya perlu kesadaran diri yang penuh dengan jangan menantang namun juga tidak panik. Mungkin sebagai rujukan dapat kita maknai sebuah pesan dari mursyid saya dalam aplikasi whatsapp yg berbunyi: “Menyikapi masifnya wabah virus corona (covid 19)..” Mari kita menjaga kebersihan badan, pakaian, dan lingkungan sekitar, karena virus akan mati apabila terkena deterjen, alkohol, dan antiseptik. Tetap konsisten menjaga daya tahan tubuh karena virus tidak akan bertahan dan mati apa bila daya tahan tubuh dalam kondisi sehat dan prima”. Kemudian:

1. Tidak lupa pula dengan memerangi rasa takut karena dengan rasa takut daya tahan tubuh bisa berkurang sampai 20% lebih dari imun tubuh.

2. Selalu bertasbih dengan berzikir mengingat Allah, karena hanya lewat berzikir kesadaran akan sampai pada kekuatan Ruhani dan dengan kekuatan Ruhani daya tahan tubuh akan meningkat hingga 35 sampai 40%.

3. Ikuti anjuran dan dukung kebijakan Pemerintah yang serius dalam menanggulangi penyebaran virus corona.
Semoga bermanfaat.

Mursyid Abang Bulganon

Kemudian boleh kiranya saya ilmiahkan dari segi kesehatan, bahwa yang utama adalah meningkatkan daya tahan tubuh dan imunitas untuk mencegah agar kita tidak tertular virus corona Covid-19, dengan tetap mengikuti anjuran untuk antisipasi. karena sampai sekarang para pakar kesehatan masih berjuang untuk menemukan obatnya, berikut panduan lengkapnya dari WHO :

1. Cuci tangan sesering mungkin
Cuci tangan secara teratur dan sesering mungkin dengan sabun dan air atau bahan mengandung alkohol akan membunuh virus yang mungkin ada di tangan.

2. Terapkan physical distancing
Jaga jarak minimal 1 meter dengan mereka yang batuk atau bersih. Alasannya, ketika seseorang batuk, bersin atau bersih, mereka menyemprotkan tetesan cairan kecil dari hidung atau mulut mereka yang mungkin mengandung virus. Jika terlalu dekat, kamu bisa menghirup tetesan air yang mungkin saja mengandung virus COVID-19.

3. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut
Tangan menyentuh banyak permukaan dan virus mungkin menempel di sana. Setelah terkontaminasi, tangan dapat memindahkan virus ke mata, hidung, atau mulut kamu. Dari sana, virus bisa masuk ke tubuh dan bisa membuat sakit.

4. Lakukan aturan bersin yang benar
Pastikan anda, dan orang-orang di sekitar untuk selalu menutupi mulut dan menutupi hidung dengan siku tangan yang ditekut ketika batuk atau bersih. Kemudian segera buang tisu bekasnya. Alasannya, tetesan menyebarkan virus.

5. Jika mengalami demam, batuk, dan kesulitan bernapas, segeralah berobat
Tetap di rumah jika Anda merasa tidak sehat. Jika Anda mengalami demam, batuk dan kesulitan bernapas, cari bantuan medis dan ikuti arahan otoritas kesehatan setempat. Otoritas nasional dan lokal akan memiliki informasi terbaru tentang situasi di daerah Anda.

6. Menjalankan pola hidup sehat
Dengan memperhatikan asupan makanan yang bergizi merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan imunitas. Selain itu berolahraga secara teratur juga sangat dianjurkan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap prima. Tak hanya itu, berjemur di bawah sinar matahari pada waktu – waktu yang dianjurkan terbukti mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita.

Tak kalah penting, dari sisi spritual harapannya melalui berbagai upaya tersebut jumlah korban dapat diminimalisir sedini mungkin. Ikhtiar yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam mencegah penyebaran wabah penyakit di tengah masyarakat sudah selayaknya kita apresiasi. Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Artinya, ikhtiar secara lahiriah untuk melindungi diri dari berbagai ancaman maupun mengubah keadaan menjadi lebih baik perlu dilakukan oleh kaum muslimin.

Pada zaman Rasulullah pun sebenarnya dapat kita contoh untuk menghadapi wabah ini dengan sebaik-baiknya dengan menukil dua hadist yang diriwayatkan oleh hr. Bukhari & muslim, hr. Bukhari dan ahmad, dan hr. Bukhari.,
1. “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya (HR. Bukhari & Muslim)

2. Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang dia kehendaki. kemudian dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin. (thaun adalah pembengkakan parah yang mematikan). Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid (HR. Bukhari dan Ahmad)

Dulu, di era Nabi Muhammad wabah penyakit juga pernah menjangkiti Madinah, Arab Saudi. Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak berada dekat-dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan melarang orang yang berada di daerah itu untuk keluar wilayahnya. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Maka kejadian tersebut dimasa Rasulullah dapat kita jadikan pedoman, bahwa dengan bertawakal kita juga perlu berhati-hati dan menjaga diri dengan tidak apatis dengan sekitar, Bersinergi saling menjaga, bersama-sama menghadapi secara nasional dengan melepas ego, apalagi yang sangat disayangkan, jika ego itu muncul dalam sudut pandang beragama yang malah memperburuk keadaan.

Akhiru kalam, mari kita mengajak masyarakat untuk menjaga jarak serta meningkatkan daya tahan tubuhnya, hal ini merupakan bentuk ikhtiar yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan jutaan nyawa. berhentilah mempertentangkan agama dan ilmu pengetahuan, karena keduanya selalu selaras. Semua kitab suci agama-agama senantiasa memerintahkan manusia untuk berpikir yang memiliki arti agama senantiasa selaras dengan pengetahuan, termasuk dalam menghadapi wabah ini. Dan saya berkeyakinan apabila setiap orang tidak berlebihan takut dan panik kemudian senantiasa ingat Tuhan di dalam dirinya serta mematuhi Intruksi pemerintah, maka haqul yakin wabah virus corona ini akan cepat berlalu. Insya Allah.

*Penulis adalah Wakil ketua PWNU Kalsel dan staf pengajar dosen Universitas Nahdhatul Ulama Kalsel

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close