Catatan dari Senayan

Menebak Capres Pilihan Ahok

KENDATI sesungguhnya dia sudah boleh meninggalkan Lapas, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tetap memilih meringkuk sebagai nara pidana. Waktu divonis di Pengadilan Negeri Jakarta dia pun memilih menerima putusan Majelis Hakim yang memenjarakannya. Padahal kalau mau dia berhak untuk mengajukan banding.

Itulah A Man Called Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta yang fenomenal. Banyak yang membenci tapi tak sedikit yang mencintainya. Dia mendapat perlakuan istimewa dari Kejaksaan Agung tidak ditempatkan di Lapas bercampur dengan napi lain karena pertimbangan keamanan. Dia ditempatkan di tahanan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Penderitaan Ahok luar biasa. Saat dia menjalani hukuman dia harus menjomblo. Karena suatu sebab isterinya diceraikan. Tapi konon Ahok tetap tegar. Tabah dan sabar menjalani hukuman. Dia bertekad menjadi warga negara yang baik. Kabarnya dia segera bebas beberapa saat lagi di masa kampanye Pilpres dan Pileg ini.

Di alam suasana kampanye pilpres dan pileg ini tentu banyak yang merindukan Ahok. Bisa kita bayangkan seandainya sekarang dia sudah bebas, pasti media massa akan ramai-ramai mengejar komentar-komentarnya tentang keriuhan politik saat ini. Komentar-komentarnya yang khas meledak-ledak sangatlah indah mewarnai jagad politik Indonesia.

Terlepas suka atau tidak suka kita pun ingin mendengar suara dan keberpihakan Ahok terhadap dua pasangan capres/cawapres: pasangan 01 Jokowi-Ma’ruf Amin dan pasangan 02 Prabowo-Sandi. Dipastikan dari Ahok akan muncul tiga kemungkinan. Bisa netral, pilih pasangan 01, atau 02. Itu hak Ahok sepenuhnya. Rasanya tak mungkin Ahok tidak berbicara tentang soal itu.

Bersikap netral mungkin saja, tapi kecil kemungkinannya. Di belakang Ahok ada ribuan fans fanatik. Mereka ingin mendapatkan panduan yang kongkret. Mereka tak mau berada di wilayah abu-abu alias golput. Kerena itu mereka dipastikan akan memaksa Ahok untuk bersikap.

Pilih pasangan nomor 01? Memang ada kendala dengan tampilnya KH Ma’ruf Amin (KMA) sebagai cawapres. Kita masih ingat gerakan anti-Ahok antara lain karena adanya fatwa MUI yang saat itu dipimpin KMA. Setelah keluar fatwa MUI, kemudian lahir apa yang menamakan diri GNPF-MUI atau Gerakan Nasional Pendukung Fatwa MUI. Gerakan itu masif di Jakarta dan meluas secara nasional. Ahok pun kalah dalam Pilgub DKI Jakarta dikalahkan pasangan Anies-Sandi berkat kerja GNPF-MUI itu.

Tapi kini KMA adalah pendamping Jokowi yang dulu Gubernur DKI bersama Ahok sebagai wakilnya. Rasanya sulit bagi Ahok untuk melupakan kawan seiring yang se-misi dan visi. Kedua, di belakang KMA berdiri jutaan warga NU dan kelompok toleran Islam inklusif. Semua orang paham KMA sesungguhnya berada di depan barisan pluralis sebagai mantan Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI. Di titik inilah tidak ada alasan bagi Ahok untuk tidak berekonsiliasi dengan KMA.

Dengan pasangan Prabowo-Sandi kendalanya jelas jauh lebih besar. Di sekitar pasangan 02 itu masih berdiri kokoh Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) yang menjadi “musuh bebuyutan” Ahok. Sampai hari ini narasi Ahok sebagai penista agama tak pernah terhapus dari mereka. Bahkan mereka di masa kampanye ini menyebut kubu Jokowi sebagai pendukung penista agama. Belum lagi jika melihat Sandiaga Uno sebagai rival dalam pilgub yang mengalahkan dirinya. Dari sisi ini tidak terbuka peluang Ahok untuk mendukung pasangan 02.

Dari ketiga kemungkinan itu: bersikap netral, mendukung pasangan 01 atau mendukung pasangan 02, rasanya dari sisi kalkulasi dan nalar politik, juga melihat karakter Ahok, dia diprediksi kuat akan mendukung pasangan 01 Jokowi-Ma’ruf. Apalagi Djarot Saiful Hidayat mantan wagub dan cawagub pasangan Ahok sudah mengisyaratkan kecenderungan Ahok bakal mendukung Jokowi-Ma’ruf. Sebagian Ahoker juga sudah merapat sebagai relawan Jokowi-Ma’ruf. Kita tinggal menunggu pernyataan resmi yang keluar dari mulut Ahok.

Walaupun demikian semua bisa keluar dari kalkulasi dan nalar politik. Ahok tetaplah Ahok dengan argumentasi kontroversialnya yang tak mudah diprediksi. Bisa saja dia membuat kejutan besar.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close