Memutus Lingkaran Setan Kartel Politik Koruptif

06:00
391
JAKARTA, SENAYANPOST.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan pada Dwina Michaella, , anak Ketua DPR Setya Novanto, hari ini, Jumat

Sedikitnya sudah tiga kali dugaan korupsi berjamaah di DPR berlangsung. Pertama, dulu waktu ada fit and proper test Deputi Gubernur Bank Indonesia, atas nama Miranda Gultom sebagai salah satu kandidat, persidangan di pengadilan mengungkapkan sejumlah besar anggota Komisi XI DPR menjadi tersangka.

Kedua, ketika seorang terdakwa dalam sidang kasus megakorupsi E-KTP mengungkapkan bahwa ada jatah uang suap untuk semua pimpinan dan anggota Komisi II DPR. Bahkan Ketua DPR Setyo Novanto pun disebut mendapat jatah terbesar.

Ketiga, ini juga memprihatinkan, dalam kasus korupsi pengadaan Al Qur’an seorang terdakwa menyebut ada bancakan suap kepada semua anggota Komisi II,  termasuk salah seorang pimpinan DPR. Naudzubillah min dzalik.

Tentu ini baru gambaran global. Belum lagi sejumlah kasus korupsi di DPR yang berkaitan dengan proyek infrastruktur, kasus Hambalang, dan lainnya. Tak terhitung jumlahnya, melibatkan antar komisi, lintas fraksi dan artinya juga lintas partai. Ada yang dinikmati sendiri dan yang sebagian untuk membiayai partai.

Ironisnya semua berlangsung pasca Reformasi, ketika banyak di antara mereka meneriakkan yel-yel untuk bersatu memberantas korupsi. Dari para anggota Dewan yang terbukti korupsi, selesai menjalani hukuman dan sebagian anggota yang meski menikmati uang korupsi tapi selamat kini berancang-ancang ikut kontestasi dalam Pemilu 2019 nanti.

Dengan peraturan perundang-undangan yang tidak melarang mantan napi korupsi ikut maju mencalonkan diri dan sistem pemilu proporsional terbuka, besar kemungkinan mereka juga bakal terpilih kembali untuk duduk di Senayan. Karena pundi-pundi harta korupsi mereka sudah telanjur menggunung.

Permisivisme di kalangan masyarakat pun memuluskan para calon yang rajin berbagi uang hasil korupsi. Partai dan kader-kadernya yang belepotan uang haram akhirnya akan mampu mewujudkan ambisi untuk memenangi kontestasi menembus tembok parlemen di Senayan.

Dengan latar belakang seperti itu tak perlu heran kalau kelak pasca Pemilu 2019 yang menghuni gedung parlemen di Senayan ya orang-orang berduit yang sebagian dari mereka para veteran  koruptor. Juga tidak perlu heran kalau tindakan aib berupa korupsi berjamaah akan berulang lagi. Siklusnya, mereka mendapat uang dari hasil menggarong uang rakyat, sebagian ditebar untuk menjaring suara dan memenangi pemilu untuk masuk Senayan, lalu korupsi lagi.

Comments

comments