Membumikan Sejarah Banyumas yang Mulai Dilupakan

Membumikan Sejarah Banyumas yang Mulai Dilupakan
Djadjat Sudradjat

Oleh: Djadjat Sudradjat

SERIAL "Babad Banyumas" resmi diluncurkan, Ahad (07/03).  Acara dihadiri umumnya para guru SMA dan SMP,  digelar di Pendopo Duplikat Sipanji, Banyumas, 16 km ke arah timur dari Purwokerto. Ada kelompok macapatan yang menembang. Ada ibu-ibu penabuh lesung beraksi.

Ada tujuh buku yang diluncurkan, yakni "Babad Banyumas Wiratmadjan", "Babad Banyumas Mertadiredjan",  "Jejak Sejarah Trah Banyumas", "Ada Apa dengan Babad Banyumas", "Membidik Baribin, Membedah Wirasaba", "Kasepuhan Kanoman", dan "Dari Wirasaba ke Banyumas". 

Sejarah lokal, perkara penting yg mulai dilupakan. Para guru diharapkan untuk mensosialisasikan babad di lingkungan sekolah. Sebab, umumnya kita memperingati peristiwa penting hanya sebatas seremoni tapi melupakan isi dan substansi.

Saya diminta bicara oleh penerjemah dan pemilik penerbit Bale Pustaka, Nasirun Purwokartun. Intinya, masyarakat Banyumas mesti bersyukur punya sejarah literasi yang bagus. Menurut sejarawan Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prof. Dr. Sugeng Priyadi, yang tekun meneliti sejarah Banyumas, berhasil mengumpulkan 101 babad dg berbagai versi dan varian. 

Beruntung Banyumas punya sejarawan dari akademis yang tekun, Sugeng Priyadi itu. Yang sangat produktif mempublikasikan hasil penelitiannya baik dalam bentuk buku maupun jurnal. Saya mendengar dari Rektor UMP nanti akan dibuka "Banyumas Institute" di kampus ini, yang dipimpin Prof. Sugeng sendiri. Ini tentu kabar bagus.

Beruntung pula Banyumas punya sosok kreatif, Nasirun itu. Yang mau bersusah payah berburu, menerjemahkan, dan menerbitkan "Babad Banyumas", sehingga masyarakat umum bisa membacanya. Meski tak disupport  pemerintah.

Sugeng dan Nasirun harus bersinergi. Jadi kekuatan dengan wilayah garapan masing-masing. Sugeng di ranah akademis, Nasirun di wilayah kreatif. 

Saya katakan juga, sejarawan Inggris Peter Carey yang 40 tahun bertekun meneliti Diponegoro, pernah menyentil para ilmuwan kita bahwa penelitian tentang Indonesia 90% dilakukan orang asing. Ini artinya pemahaman Indonesia menurut persepsi mereka. 

Orang Indonesia pun dinilai Carey, sebagai kurang efektif menjelaskan dirinya sendiri. Karena tak paham tentang sejarahnya sendiri. Bangsa yang kehilangan identitas. Bangsa yang kehilangan pedoman. Kompas penunjuk arah.

"Masyarakat Banyumas tak boleh kehilangan pedoman. Kita bumikan nilai-nilai kebajikan oleh kita sendiri, menurut persepsi kita sendiri, bukan menurut orang lain." Saya "memprovokasi". 

Sejarah dipelajari bukan untuk membuat kita "tertidur". Tapi justru untuk kita ,"berdiri" dan "berlari". Bangsa-bangsa maju adalah mereka yang belajar dari sejarah. Karena dengan membaca masa lalu, kita tahu mana yang membelenggu dan mana yang memacu.*

*Djadjat Sudradjat, alumnus Jurusan Sejarah Ilmu Budaya Universitas Indonesia, anggota DPRD Banyumas.